Suara.com - Dua pasangan Calon Wali Kota dan Wakil Wali kota Surabaya Rasiyo-Lucy (Demokrat-PAN) dan Risma-Whisnu (PDIP) saling beradu data yang dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) Surabaya dalam debat Pilkada yang digelar KPU di Gramedia Expo, Jumat (30/10/2015) malam.
Debat yang disiarkan langsung oleh salah satu stasiun televisi swasta dan dipandu oleh Rosianna Silalahi (Pimpred Kompas TV) berlangsung semarak, dengan suara teriakan dari masing-masing kubu pendukung.
Debat dibuka dengan penyampaian visi misi dari kedua pasangan calon. Pasangan nomor satu Rasiyo-Lucy Kurniasari mengedepankan strategi pembangunan "bottom-up" dari pinggiran, pemberdayaan guru dan kaum perempuan dan kebijakan ekonomi yang berpihak pada nasib orang miskin.
Sementara pasangan nomor dua, Tri Rismaharini-Wisnhu Sakti Buana, bertekad fokus membangun kemampuan SDM untuk menghadapi persaingan di era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) yang berlaku pada Desember 2015, serta memeratakan pembangunan dan meningkatkan akses ke daerah sekitar untuk mendorong pertumbuhan bersama agar mencegah urbanisasi.
Satu jam terakhir debat berjalan semakin seru saat memasuki sesi tanya jawab. Pasangan nomor 1 mempermasalahkan data indeks kemiskinan yang mencapai 0,49 sedangkan pasangan nomor 2 bersikeras data BPS Surabaya tidak memperhitungkan pedagang sektor non formal yang besar jumlahnya.
"Pedagang-pedagang PKL yang jumlahnya hingga 98 persen terdata sebagai pengangguran, padahal peran mereka sebagai pengaman saat krisis menerpa besar sekali. Lihat saja perlambatan ekonomi yang terjadi sekarang tidak terlalu berdampak. Banyak yang menanyakan hal ini ke saya, memang kami memberi akses ekonomi ke mereka melalui berbagai program," kata Risma.
Rasiyo juga mempermasalahkan prestasi siswa SD Surabaya yang berada di urutan 33 dari 38 daerah yang ada di Jatim. "Anggaran yang dikucurkan ke pendidikan memang besar, tapi lebih banyak untuk membayar gaji guru, sementara hasilnya UN SD di Surabaya masih kalah dari Madiun, Kediri dan lainnya," ujarnya.
Risma menjawab, meski UN SD jeblok, namun dalam persaingan masuk PTN dan ajang pendidikan internasional, Surabaya memiliki prestasi yang membanggakan.
"Pembangunan pendidikan tidak hanya di SD tapi berkelanjutan dan berjenjang. Banyak siswa kita yang menjuarai berbagai olimpiade, mulai matematika, fisika dan lainnya. Begitu juga Perguruan Tinggi Negeri (PTN) di Surabaya didominasi oleh siswa SMA lulusan Surabaya," tutur Risma.
Pasangan Risma-Wisnu juga membantah klaim Rasiyo-Lucy bahwa pembangunan Surabaya bersifat sentralistik. "Buktinya sudah ada Gelora Bung Tomo, Rumah Sakit BDH, dan jalur lingkar timur yang semuanya ada di pinggiran. Bahkan akan dibangun taman terbesar di dunia di Sukolilo dan jalur lingkar barat yang lebarnya bisa untuk pendaratan darurat pesawat," kata Whisnu.
Pada saat sesi saling tanya jawab, kedua pasangan beradu argumen yang sama-sama bersumber dari data BPS Surabaya. Rasiyo mengatakan meskipun Surabaya banyak penghargaan tapi masyarakatnya tidak tersejah terahkan dan bahkan sesuai data BPS Surabaya dari tahun 2010 sampai 2015, Surabaya masuk peringkat 13 angka kemiskinan di Jawa Timur.
"Tentunya ini menyebabkan disparitas atau pembangunan yang tidak selaras atau tidak sesuai dari harapan," katanya.
Risma pun menyanggah bahwa itu tidak benar. "Bahwa apa yang disampaikan pak Rasiyo itu data BPS tahun 2008 semenjak saya menjabat sebagai Kepala Bappeko Surabaya. Pada saat menjadi wali kota pada 2010 indeks kemiskinan menurun," kata Risma.
Risma juga mengatakan disparitas itu harus ada ukurannya. "Bagaimana cara mengukurnya, kita punya program pemberdayaan ekonomi. Kita bisa lihat bantuan rumah murah atau rusun itu bukti kita pro masyarakat miskin," katanya.
Namun hal itu dibantah lagi oleh Rasiyo. Ia mengatakan bahwa jawaban Risma tidak sesuai karena yang disampaikan adalah data BPS Surabaya 2014. "Ini data sampai 2014, pembangunan hanya tersentral di pusat kota. Makanya saya saya punya program bangun dari pinggiran. Itu nawa citanya Presiden Jokowi. Coba tunjukkan data dari BPS," ujarnya.
Hanya saja, pada saat debat, Cawawali Lucy tidak banyak bersuara karena lebih didominasi oleh Rasiyo. Hal ini disayangkan Wakil Ketua DPC PDIP Surabaya Didik Prasetiyono. "Moderator sengaja tidak mengarahkan pertanyaan ke Lucy. Ini yang kami sayangkan," ujarnya.
Debat ditutup dengan penyampaian alasan mengapa harus memilih,yang disampaikan masing-masing paslon. "Hari ini harus lebih baik dari kemarin, esok harus lebih baik dari hari ini. Pilih Nomor Satu," kata Lucy Kurniasari.
Sementara Risma mengajak seluruh lapisan masyarakat Surabaya untuk bersatu padu menghadapi MEA.
"Seluruh warga Surabaya yang kami cintai, kita sudah punya prestasi di dunia internasional, mari kita buktikan lagi dengan bisa menjadi tuan rumah di rumah sendiri," kata Risma. (Antara)
Berita Terkait
-
Agar Masyarakat Lebih Peduli, Doli Golkar Kini Usul Pilpres-Pileg Juga Dipisah
-
MK Diskualifikasi Paslon pada Pilbup Mahakam Ulu karena Buat Kontrak Politik dengan Ketua RT
-
Prabowo Lantik 961 Kepala Daerah Serentak, Tjhai Chui Mie: Sangat Membanggakan Bagi Kami Semua
-
Kemendagri Bakal Kumpulkan Kepala Daerah Terpilih Lagi Besok di Monas, Persiapan Rinci Gladi Bersih Pelantikan
-
Hasil Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Timur 2024: Khofifah-Emil Puncaki Perolehan Suara Pilkada Serentak
Terpopuler
- Pelatih FC Twente Usir Mees Hilgers: Saya Tak Berharap Dia Kembali ke Klub!
- PIP Termin II 2026 Kapan Cair? Ini Jadwal Lengkap dan Cara Ceknya agar Dana Tidak Hangus!
- 4 Shio yang Menarik Keberuntungan Hari Ini 5 Agustus 2026: Segalanya Berjalan Lancar
- 4 Shio Beruntung Hari Ini 4 Agustus 2026: Macan hingga Babi Berpeluang Dapat Kabar Baik
- Link Resmi Pandang.istanapresiden.go.id buat Daftar Upacara Bendera HUT RI di Istana Negara
Pilihan
-
Bocoran Reshuffle Kabinet Agustus: Norman Joesoef Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
-
Aktris Sali Irsalina Dianiaya Pacar di Fatmawati, Mata Lebam Hingga Diselamatkan Polantas
-
Dipilih Lewat Seleksi Ketat, Bank Dunia Kembali Tunjuk Sri Mulyani Duduki Jabatan Strategis
-
Pagar Besi di Mal-mal, Benarkah untuk Antisipasi Plot Kerusuhan Agustus?
-
Desa Kecil, Mimpi Mendunia: Ketika Kolaborasi Mengubah Wajah Kemiren
Terkini
-
Serangan Siber Terus Meningkat, Perlindungan Data Pribadi Tak Bisa Lagi Hanya Andalkan Teknologi
-
Gaji ASN Mataram Terancam Hanya Sampai Oktober 2026, Sekda Ungkap Penyebabnya
-
TV 98 Inci Rp39 Juta Meluncur! Xiaomi Bawa QD-Mini LED dan Gaming 288Hz
-
12 Sepeda Gunung United Detroit Lengkap dengan Harga dan Spesifikasinya
-
Pengemudi Truk Indonesia Siap Berkompetisi di Jepang Usai Juara UD Trucks Extra Mile Challenge 2026
-
Temuan Senjata Api hingga Narkoba di Sekolah Bukti Tata Kelola Pendidikan Bermasalah
-
Timnas Indonesia Dikalahkan Singapura? John Herdman Punya Alasan Ini ke Suporter
-
Seksi dan Dinamis! Kiss of Life Unjuk Sisi Tangguh Perempuan di Lagu Sweat
-
Temui Wamensos, Empat Bupati Siap Percepat Pembangunan Sekolah Rakyat Permanen
-
Yang Can't Live Alone Dihentikan, Mangaka Cabut Hak Publikasi dari Penerbit