Suara.com - Biaya pencitraan untuk Jero Wacik ketika menjabat Menteri ESDM di koran Indopos mencapai Rp1,3 miliar untuk tiga bulan, namun yang dibayarkan mencapai Rp2 miliar.
"Yang kami terima Rp2 miliar, kami sampaikan itu ke penyidik. Penyidik KPK minta berapa yang ter-cover berapa milimeter kolomnya. Kami hitung kembali dan nilainya total Rp1,3 sekian, dan sisanya kami kembalikan ke KPK, kami transfer," kata Pemimpin Redaksi Indopos Muhammad Noer Sadono alias Don Kardono dalam sidang di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta, Senin (23/11/2015).
Don menjadi saksi untuk Jero Wacik yang dalam dakwaan disebutkan menggunakan Rp2,5 miliar yang berasal dari Dana Operasional Menteri untuk melakukan pencitraan di koran Indopos pada Januari-Februari 2012.
Awalnya, Don mengajukan angka Rp36 miliar sebagai proposal pencitraan Kementerian ESDM.
"Angka Rp3 miliar itu sebenarnya tidak sampai 10 persen dari yang saya tawarkan, yang saya tawarkan pertama sekitar Rp36 miliar untuk program, kami berbagi dengan tiga media yaitu satu media yang kami pimpin Indopos, satu Jawa Pos dan satu lagi Rakyat Merdeka," ungkap Don.
"Harga milimeter kolom kalau kami Rp45 ribu per milimeter kolom, tiap satu kolom per milimeter Rp45 ribu, dan koran kami ada 7 kolom, jadi ada sekitar 500 sekian milimeter," jelas Don.
Jasa yang diberikan disebut Don Kardono adalah public relations untuk Kementerian ESDM dan Jero Wacik.
"Ini adalah PR-ing, PR-ing tarifnya tidak bisa dibuat standar iklan, kalau PR-in yang kami tawarkan sebelumnya nilai gelondongan yang kita namakan smart reporting. Satu minggu kami tawarkan 2-3 berita. Penempatan tidak selalu berada di tempat yang sama, bukan selalu di halaman 1, 2, atau 3 akan kita pilihkan tempat yang pas untuk hari itu. Gol kita adalah publik menjadi tenang, nyaman dan memahami dengan detail karena itu kami namakan sebagai smart reporting bukan advertising," kata Don.
Dalam dakwaan disebut kontrak Kerjasama Program PR Indopos-ESDM 2012-2013 yang ditandatangani oleh Don Kardono selaku pihak pertama dengan Ego Syahrial berbiaya Rp3 miliar untuk satu tahun kegiatan sebagai biaya konsultasi pengembangan isu, perencanaan berita, reportasi, editing sampai penayangan berita postif ESDM di tiga media Jawa Pos Group yakni Indopos, Rakyat Merdeka dan Jawa Pos
Pada 19 Januari 2012, Ego Syahrial membayar Rp250 juta kepada Don Kardono di ruang kerja Ego Syahrial. Pembayaran pada 20 Februari 2012 (Rp250 juta), kemudian pada 23 Februari 2012(Rp500 juta), beberapa hari setelahnya ada pembayaran Rp250 juta dan kemudian ada pembayaran Rp500 juta sehingga totalnya mencapai Rp2,5 miliar.
"Kami terima langsung karena sekali lagi kami anggap mereka adalah customerkarena ini dana bukan dari dana negara, yang saya sebut non-budgeter maka mereka memilih ntuk membayar secara cash. Dari Ego Syahrial pernah terima dua kali Rp250 juta dan sisanya diberikan langsung dan tidak pakai kuitansi dan mereka juga tidak perlu pakai kuitansi dan langsung didistribusikan ke perusahaan, kemudian dipilah-pilah oleh bagian keuangan," kata Don.
Indopos menurut Don sudah banyak menangani klien seperti Jero Wacik.
"Proyek ini sudah banyak terjadi, sudah lama kita kembangkan sejak gubernur yang lama Fauzi Bowo sudah berjalan. Tim sudah sangat paham bahkan tidak perlu saya sendiri yang jalankan," ungkap Don.
Namun 3 bulan setelah kontrak 19 Januari 2012 tersebut, Waryono memutus hubungan secara sepihak dan tidak bisa dihubungi.
"Karena kontraknya Rp3 miliar baru di Indopos saja, di Jawa Pos belum, kan persepsi kami 50 persen dimasukkan ke Indopos, sisanya dimasukkan ke Jawa Pos dan Rakyat Merdeka, tapi belum selesai sudah di-cut, jadi belum bikinplanning berapa yang akan dimuat di dua media itu, kenapa dua media itu karena itu adalah grup kami," tambah Don.
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Rekomendasi HP 5G Paling Murah Januari 2026, Harga Mulai Rp1 Jutaan!
- Polisi Ungkap Fakta Baru Kematian Lula Lahfah, Reza Arap Diduga Ada di TKP
- 5 Rekomendasi HP Memori 256 GB Paling Murah, Kapasitas Lega, Anti Lag Harga Mulai Rp1 Jutaan
- Jalan Rusak Parah, Warga Kulon Progo Pasang Spanduk Protes: 'Ini Jalan atau Cobaan?'
- 5 Mobil Bekas 80 Jutaan dengan Pajak Murah, Irit dan Nyaman untuk Harian
Pilihan
-
10 Sneakers Putih Ikonik untuk Gaya Kasual yang Tak Pernah Ketinggalan Zaman, Wajib Punya
-
Bursa Saham Indonesia Tidak Siap? BEI Klarifikasi Masalah Data yang Diminta MSCI
-
Menperin Pastikan Industri Susu Nasional Kecipratan Proyek MBG
-
MSCI Melihat 'Bandit' di Pasar Saham RI?
-
Harga Emas di Palembang Nyaris Rp17 Juta per Suku, Warga Menunda Membeli
Terkini
-
Drama London: Paspampres Klarifikasi Soal Halangi Jurnalis Saat Kawal Presiden Prabowo
-
Ketua KPK Jawab Peluang Panggil Jokowi dalam Kasus Korupsi Kuota Haji
-
Curhat Pimpinan KPK ke DPR: Alat Kurang Canggih Jadi Hambatan Utama OTT
-
Animo Tinggi, PDIP Minta Kemensos 'Gaspol' Bangun Sekolah Rakyat
-
PSI: Polri Harus Tetap di Bawah Presiden, Bukan Jadi Kementerian
-
KND Kawal Hak Atlet Disabilitas, Kontingen Indonesia Raih 135 Emas di ASEAN Para Games 2025
-
Ketua DPRD DKI Kawal Janji Pramono Lepas Saham Perusahaan Bir, Kaji Opsi Tukar Guling
-
Jadi Ipar Presiden RI, Soedradjad Djiwandono Ngaku Kudu Hati-hati Komentari Masalah Dalam Negeri
-
Kali Ciliwung Meluap, 11 RT di Jakarta Terendam Banjir
-
'Awal Tahun yang Sempurna', Daftar 4 Kritik Adian Napitupulu Terhadap Pemerintahan Prabowo