Wakil Ketua DPR RI, Fahri Hamzah. [Suara.com/Tri Setyo]
DPR menggelar rapat paripurna, Selasa (8/12/2015) malam. Belum ada 30 menit rapat berjalan, rapat kemudian ditutup untuk ditunda, Selasa (15/12/2015) pekan depan. Sedianya, agenda rapat kali ini adalah pembahasan UU pengampunan Pajak dan revisi UU nomor 30/2002 tentang KPK.
"Besok pencoblosan, dalam rapat Badan Musyawarah (Bamus) itu sudah dibahas kemungkinan ditunda sampai Kamis. Tapi besok biasanya perhitungan suara dan lain-lain, bisa sampai Kamis. Kita khawatir pandangan ini terjadi lagi dan kita repot. Kita kembalikan saja pada agenda kita sesungguhnya yakni rapat paripurna digelar Selasa minggu depan," kata Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah yang menutup rapat kali ini.
Rapat paripurna kali ini hanya dihadiri 144 orang yang hadir dari total ada 555 orang. Kebanyakan dari mereka juga sudah meminta izin untuk tidak hadir dalam rapat karena pergi ke dapil masing-masing untuk memantau Pilkada. Sedangkan, untuk jumlah kuorum sehingga rapat paripurna bisa digelar adalah 278 orang.
Dalam rapat ini, sejumlah anggota sempat menawarkan supaya rapat paripurna digelar Kamis. Adalah Politisi PDI Perjuangan Arief Wibowo, Politisi PAN Yandri Susanto, Politisi Hanura Dadang Rusdiana, dan Politisi Nasdem Taufiqulhadi. Mereka sepakat untuk digelar Kamis dengan harapan, pimpinan DPR bisa memberikan ketegasan untuk setiap anggota DPR hadir dalam rapat paripurna.
"Ini adalah fungsi pimpinan untuk mengatur sehingga bagaimana semuanya bisa konsen di Paripurna," kata Dadang.
Fahri pun menanggapi pernyataan Dadang, bahwa momen Pilkada kali ini adalah momen perdana dan akan dijadikan pembelajaran di kemudian hari. Fahri pun berharap, saat Pilkada selanjutnya digelar, anggota dewan masuk masa reses sehingga bisa berkonsentrasi di dapilnya.
"Setelah ini kita evaluasi. Pada momen seperti Pilkada ini sudah selayaknya DPR masuk dalam masa reses, supaya teman-teman bisa berkonsentrasi. Sekarang masa reses tidak sama dengan pilkada, jadi peristiwa ini (banyak anggota yang izin) tidak bisa dihindari,"kata Fahri.
Komentar
Berita Terkait
-
Rentetan OTT Kepala Daerah, Tito Sebut Ada Masalah Mendasar dalam Rekrutmen Pilkada
-
OTT 10 Kepala Daerah Hasil Pilkada 2024, KPK Dorong Integritas Melalui Kabupaten-Kota Antikorupsi
-
Pro-Kontra Wacana Pilkada Melalui DPRD: Soroti Biaya Politik hingga Nasib Demokrasi
-
Ungkap Bobroknya Pilkada Langsung, Pengamat Singgung Perbaikan Sistem Pemilu
-
Sari Yuliati Resmi Dilantik Jadi Wakil Ketua DPR Gantikan Adies Kadir
Terpopuler
- 5 Sabun Cuci Muka yang Bagus untuk Memutihkan Kulit Wajah di Indomaret dan Harganya
- Oki Setiana Dewi Jadi Kunci Kasus Pelecehan Syekh Ahmad Al Misry Terbongkar Lagi, Ini Perannya
- 7 Sabun Cuci Muka dengan Kolagen untuk Kencangkan Wajah, Bikin Kulit Kenyal dan Glowing
- 6 HP Realme Kamera Bagus dan RAM Besar, Paling Murah Mulai Rp1 Jutaan
- Cushion Apa yang Tahan 12 Jam Tanpa Luntur? Ini 4 Pilihan Terbaiknya
Pilihan
-
DPR Minta Ombudsman RI Segera Konsolidasi Internal Usai Ketua Jadi Tersangka Korupsi Nikel
-
Siti Nurhaliza Alami Kecelakaan Beruntun di Jalan Tol
-
Timnas Indonesia U-17 Diganyang Malaysia, Kurniawan Ungkap Borok Kekalahan
-
Beban Ganda Wanita Saat WFH: Terjebak Laptop dan Pekerjaan Rumah Tangga
-
Hore! Jogja Berlakukan Perpanjangan STNK Tanpa KTP Asli, Calo PajakMakin Terhimpit
Terkini
-
103 Sekolah Swasta Gratis di Jakarta Resmi Diumumkan, Ini Daftar Lengkapnya
-
Lonceng Kematian Kelas Menengah? Riset Sebut Populasinya Sisa 16,9%, Satu Pekerjaan Tak Lagi Cukup
-
DPR Minta Ombudsman RI Segera Konsolidasi Internal Usai Ketua Jadi Tersangka Korupsi Nikel
-
Begal Gambir dan Ironi Residivisme: Ketika Jalanan Terasa Lebih 'Menerima' Daripada Dunia Kerja
-
Bupati Bekasi Ade Kuswara dan Ayahnya Segera Disidang
-
Rapat Internal Tertunda, Komisi II DPR Ungkap Ternyata RUU Pemilu Belum Ada Naskah Akademik
-
KPK: Partai Politik Rentan Korupsi, Belum Ada Sistem Keuangan dan Kaderisasi Terintegrasi
-
UHC Pemda Palangka Raya Komitmen Bantu Terapi Tumbuh Kembang Anak: Terjamin JKN
-
Nutri-Level di Kemasan Makanan: Apa Saja yang Perlu Diketahui Sebelum Memilih?
-
Ray Rangkuti: Prabowo Subianto Berpotensi Jadi Presiden dengan Aktivis Paling Banyak Dipolisikan