Suara.com - Presiden Iran Hassan Rouhani mengatakan pada Selasa (6/1/2016) Arab Saudi tidak bisa menyembunyikan "kejahatan" mengeksekusi ulama Syiah dengan memotong hubungan dengan Teheran, tetapi pemerintah Iran tidak mengakui serangan terhadap kedutaan Saudi di Iran.
Arab Saudi, Bahrain dan Sudan kini mengalami perpecahan dengan Iran dan Uni Emirat Arab yang akhirnya menurunkan hubungan pada hari Senin setelah kedutaan Saudi di Teheran diserbu oleh pengunjuk rasa. Kuwait menarik duta besarnya untuk Iran pada Selasa (29/12/2015).
Massa yang marah masuk ke kedutaan pada Sabtu malam (2/1/2015) dan mulai kebakaran menyusul protes terhadap eksekusi mati ulama kerajaan Nimr al-Nimr, seorang kritikus terkemuka kebijakan Saudi, dan tiga orang Muslim lainnya Syiah serta 43 anggota jihadis Sunni Al-Qaeda.
"Arab Saudi tidak bisa menyembunyikan kejahatan yang memenggal kepala seorang pemimpin agama dengan memutuskan hubungan politik dengan Iran," Rouhani seperti dikutip oleh kantor berita negara IRNA dalam pertemuan dengan Menteri Luar Negeri Denmark Kristian Jensen di Teheran.
"Kami percaya diplomasi dan negosiasi adalah cara terbaik untuk memecahkan masalah antar negara," tambahnya.
"Negara-negara regional dapat menyimpan daerah dari bahaya terorisme melalui persatuan."
Pemerintah Iran telah menjauhkan diri dari serangan terhadap kedutaan Saudi dan unsur-unsur asing. Iran bahkan menyarankan terorganisir itu.
Brigadir Jenderal Mohsen Kazemeini, komandan Garda Revolusi top di Teheran, bergabung kecaman pada Selasa.
"Ini adalah tindakan yang sangat salah dan tidak benar dan tidak ada cara tindakan jelek ini dapat dibenarkan," katanya, menurut kantor berita Mizan Online.
Komentar tampaknya kritik seperti pertama serangan kedutaan oleh anggota Pengawal garis keras, yang mengeluarkan pernyataan keras terhadap Arab Saudi tentang eksekusi al-Nimr, Sabtu.
Kazemeini mengatakan serangan itu tidak mungkin dilakukan oleh "pasukan taat" dan bahwa itu "benar-benar terorganisir".
Seorang juru bicara pemerintah Iran sebelumnya disebut serangan "yang mencurigakan" dan "mendukung kebijakan Arab Saudi".
"Beberapa orang - dengan siapa itu tidak jelas dimana kepentingan negara mereka melayani - mengambil keuntungan dari perasaan orang," kantor berita ILNA mengutip Mohammad Bagher Nobakht mengatakan.
Menteri Kehakiman Iran Mostafa Pourmohammadi dikutip oleh media Iran mengatakan "tindakan terbaru terhadap kedutaan Saudi bisa direncanakan dan didukung oleh agen menyusup."
Presiden Hassan Rouhani telah disebut penyerang kedutaan sebagai ekstrimis dan mengatakan Iran harus mengakhiri menyerang kedutaan sekali dan selamanya.
Iran merayakan ulang tahun 1979 pengambilalihan Kedutaan Besar AS di Teheran setiap tahun dan menyebutnya sebagai Revolusi Kedua. Sejak itu, Iran telah menyerang beberapa kedutaan di Teheran termasuk dari Kuwait pada tahun 1987, Arab Saudi pada tahun 1988, Denmark pada tahun 2006 dan Inggris pada tahun 2011
Berita Terkait
-
Menlu Israel Klaim 40 Negara Labeli Garda Revolusi Iran sebagai Teroris, Ada Indonesia?
-
Trump Ungkap Nego Perang Berjalan Mulus, Iran Bantah: Awas 'Manipulasi' Pasar!
-
Pecah Kongsi? Netanyahu Sindir Donald Trump Soal AS Mau Negosiasi dengan Iran
-
Trump Klaim Iran Mau Berunding, Teheran: Bohong! AS Gemetar dengan Rudal Sejjil
-
Bikin Iri Donald Trump, Iran Izinkan Kapal Tanker Jepang Lewat Selat Hormuz
Terpopuler
- 6 Mobil 7 Seater yang Jarang Rewel untuk Jangka Panjang, Solusi Cerdas Keluarga
- Appi Sambangi Satu Per Satu Kediaman Tiga Mantan Wali Kota Makassar
- Ibu-Ibu Baku Hantam di Tengah Khotbah Idulfitri, Diduga Dipicu Masa Lalu
- Pakai Paspor Belanda saat Perpanjang Kontrak 2025, Status WNI Dean James Bisa Gugur?
- Pajaknya Nggak Bikin Sengsara: Cek 5 Mobil Bekas Bandel di Bawah 70 Juta untuk Pemula
Pilihan
-
Yaqut Kembali Ditahan di Rutan KPK
-
Dean James Masih Terdaftar sebagai Warga Negara Belanda
-
Diskon Tarif Tol 30 Persen Arus Balik: Jadwal, Tanggal dan Rute Lengkap
-
Ironi Hari Air Sedunia: Ketika Air yang Melimpah Justru Menjadi Kemewahan
-
Rudal Iran Hantam Dekat Fasilitas Nuklir Israel, 100 Orang Jadi Korban
Terkini
-
Pecah Kongsi? Netanyahu Sindir Donald Trump Soal AS Mau Negosiasi dengan Iran
-
Trump Klaim Iran Mau Berunding, Teheran: Bohong! AS Gemetar dengan Rudal Sejjil
-
Penumpang Ungkap Momen Mencekam Tabrakan Pesawat Air Canada, Pilot Selamatkan Banyak Nyawa
-
Kim Jong Un Terpilih Lagi Jadi Presiden Korut, Sang Adik Hilang Misterius
-
Momen Idulfitri, Prabowo Hubungi Presiden Palestina Mahmoud Abbas Bahas Solidaritas Bangsa
-
Menlu Israel Klaim 40 Negara Labeli Garda Revolusi Iran sebagai Teroris, Ada Indonesia?
-
Kabar Duka, Legislator 3 Periode NasDem Tamanuri Meninggal Dunia
-
Arus Balik Lebaran: Contraflow Tol Japek KM 70 Sampai KM 36 Arah Jakarta Berlaku Malam Ini
-
Antisipasi Dinamika Global, Kemhan-TNI Siapkan Langkah Efisiensi BBM dan Skema 4 Hari Kerja
-
Waspada, BMKG Sebut Jabodetabek Dikepung Hujan Lebat dan Angin Kencang Malam Ini