Kepala Pogram Studi Komunikasi Massa Akademi Televisi Indonesia (ATVI) Jakarta Agus Sudibyo mengatakan peristiwa Bom Thamrin menjadi topik utama dalam arus perbincangan di media sosial dan media massa. Menurutnya, ada beberapa yang sungguh-sungguh perlu diperhatikan dalam hal ini.
Pertama, para pegiat media sosial harus hati-hati dan cermat dalam mengirimkan foto, video dan pesan-pesan di seputar peristiwa Bom Thamrin. Jangan sampai arus komunikasi-informasi melalui media sosial justru menambah keresahan, ketakutan dan prasangka negatif tertentu dalam masyarakat.
Dalam situasi darurat seperti sekarang ini, semua pihak harus menahan diri, mengendapkan ego personal dan sungguh-sungguh memikirkan kepentingan bersama : menjaga ketentraman masyarakat, memberi rasa aman bagi semua pihak, memberi kesempatan kepada aparat untuk mengendalikan situasi, dengan tetap menjaga kewaspadaan bersama.
"Sekali lagi penting untuk diingatkan agar para pegiat media sosial tidak asal kirim, tidak asal menyebarkan berantai dan memikirkan dampak-dampak persebaran informasi untuk situasi psikologis masyarakat. Penting juga untuk diingatkan agar masyarakat tidak mudah percaya dan mampu menyaring informasi yang tersebar melalui jejaring sosial," kata Agus di Jakarta, Jumat (15/1/2016).
Kedua, Media massa online, cetak, radio maupun televisi kelihatan sekali bersaing untuk menjadi yang pertama dan yang paling ekslusif dalam memberitakan Bom Sarinah. Trauma atas teror yang terjadi adalah trauma seluruh bangsa Indonesia. Korban dari teror bom itu adalah masyarakat secara keseluruhan.
Jangan sampai trauma itu, ketakutan itu semakin mendalam karena pemberitaan media yang menggebu-gebu dan berlebihan. Sudah menjadi tugas pers untuk memberitahukan apa yang terjadi kepada masyarakat.
"Pemberitaan pers penting untuk menjaga kewaspadaan masyarakat. Namun jangan sampai pemberitaan itu diwarnai dengan informasi spekulatif, simpang siur, juga informasi salah yang menimbulkan kebingungan atau ketakutan masyarakat," ujar Agus.
Jika tidak hati-hati benar, pemberitaan pers tentang peristiwa terorisme yang sangat terbuka dan kaya dapat digunakan oleh para teroris untuk memetakan situasi, mengkalkulasi persebaran aparat keamanan, menyiapkan dengan lebih seksama serangan-serangan selanjutnya.
Pemberitaan tentang kekerasan yang terjadi juga dapat memberi inspirasi dan keberanian bagi kelompok tertentu yang telah memiliki kecenderungan radikal atau agresi untuk melakukan kekerasan yang serupa.
Ada yang lebih penting dari pemberitaan media dalam situasi darurat sekarang ini, yakni rasa tentram dan aman masyarakat. Masyarakat membutuhkan berita-berita yang mampu menumbuhkan optimisme masyarakat bahwa negara akan hadir dan mampu mengatasi situasi dengan segera.
"Masyarakat membutuhkan berita dan informasi yang mampu menumbuhkan ketegaran dan keberanian menghadapi teror dari mana pun," tutup Agus.
Berita Terkait
-
Ancaman 'Micro-Cheating': Saat Perselingkuhan Berlindung di Balik Fitur Privasi Digital
-
Fenomena HopeTok di Era Digital: Kenapa Konten Positif Semakin Dicari GenZ?
-
Paradoks Belanja Iklan Rp60 Triliun: Pesta Pora Korporasi dan Senjakala Media Massa
-
Escapism di Layar: Mengapa Konten Flexing Laku Keras di Media Sosial?
-
Krisis Identitas Gen Z: Saat Algoritma dan Media Sosial Membentuk Jati Diri
Terpopuler
- Bedak Wardah Apa yang Cocok untuk Usia 40 Tahun? Ini 5 Rekomendasi Terbaik agar Flawless dan Fresh
- DPR Pertanyakan, Pemerintah Menjawab, Dari Mana Datang Isu Kipas Angin Rp1,8 T untuk Kopdes?
- 7 Statistik Miris Argentina Saat Dipecundangi Spanyol di Final Piala Dunia 2026
- Rapor Duo Timnas Indonesia Ole Romeny dan Hubner Saat Fortuna Sittard Hadapi Olympiacos
- Kulit Sawo Matang Jangan Salah Pilih Warna Lipstik! Ini 8 Pilihan yang Bikin Wajah Cerah Seketika
Pilihan
-
Laporkan Hotman Paris ke Polda Metro, PWI Ragukan Ketulusan Permohonan Maaf Sang Pengacara
-
Mendukung Working Mom Mengelola Keuangan Keluarga Lebih Efisien dengan AstraPay
-
Usai Nobar Final Piala Dunia, Bupati Lombok Barat Lalu Ahmad Zaini Kena OTT KPK
-
Menteri PU Dody Hanggodo Bakal Dicopot Agustus? 'Prabowo Tak Suka Menteri yang Bikin Gaduh'
-
Tersangka Don Ritto Dikawal Rantis Brimob saat Tiba di Kejagung, Emas hingga Brankas Ikut Dibawa
Terkini
-
Kisah Nyi Rasmiwaditro: Musisi Gen Z yang Memilih Jalan Abdi Dalem Keraton Yogyakarta
-
DPR Setuju Hibah Kapal Induk Italia Umur 40 Tahun: Biaya Rawat Rp101 Miliar, Perbaikan Rp16 Triliun
-
Mengapa Greenpeace Desak Batu Bara Keluar dari Daftar Investasi Syariah?
-
5 Serum Hanasui untuk Mencerahkan Wajah, Memudarkan Flek Hitam Mulai Rp30 Ribuan
-
Andai Lionel Messi Memilih Spanyol
-
Harga Changan Deepal S05 untuk Pasar Indonesia Tembus Rp 500 Jutaan
-
Disinformasi di Ruang Digital Ancam Demokrasi dan Persatuan Nasional, Puan: Negara Harus Hadir!
-
6 Sunscreen Terbaik untuk Wanita di Atas 40 Tahun dengan Kulit Sensitif sesuai Review dan Harga
-
Cara Membedakan Kulit Sawo Matang dan Kuning Langsat, Begini Ciri-cirinya
-
Kebakaran Mobil di SPBU Pekanbaru, Hanguskan Pompa Pengisian BBM