Suara.com - Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu belum dapat menyimpulkan sebab kematian terduga teroris Siyono. Kasus dugaan pelanggaran Hak Asasi Manusia yang dilakukan Datasemen Khusus 88 Polri atas kematian Siyono masih diselidiki.
Menhan mengatakan hasil autopsi PP Muhammadiyah yang menunjukkan sebab kematiannya berbeda dengan hasil autopsi Polri, belum bisa disimpulkan sebagai pelanggaran HAM. Harus ada bukti kuat dulu, katanya.
Siyono, merupakan warga Dukuh Brengkungan, Desa Pogung, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, yang meninggal dunia setelah dibawa anggota Densus 88 Antiteror untuk menunjukkan tempat gudang senjata pada Rabu (9/3/2016).
"Masih diselidiki, belum ada bukti kuat. Jadi nggak boleh sembarangan (menuduh)," ujar Ryamizard di kantor Kementerian Pertahanan, Jakarta, Rabu (13/4/2016).
Sebelumnya, Ketua Komisi Nasional Hak Asasi Manusia Siane Indriani menuturkan penyebab kematian akibat hantaman benda tumpul di bagian rongga dada.
"Kematian Siyono akibat dari benda tumpul yang ada di bagian rongga dada. Ada patah tulang di bagian kiri ada lima ke dalam, sebelah luka patah sebelah kanan ada satu ke luar (menonjol)," kata Siane di Gedung Komnas HAM, Jakarta, Senin (11/4/2016).
"Tulang dada dalam kondisi patah, kemudian ke arah jantung. Sehingga itu yang mengakibatkan kematian yang lumayan fatal. Titik kematian ada di situ," Siane menambahkan.
Tak hanya itu, dari hasil autopsi juga ditemukan luka di bagian kepala.
"Memang ada luka di bagian kepala tapi ada semacam ketokan tapi tidak menyebabkan kematian dan tidak terlalu banyak pendarahan," kata Siane.
Pada tubuh Siyono juga ditemukan memar.
"Jadi ada analisis bahwa itu dilakukan dengan menyandar. Ada kerusakan jaringan. Apakah itu tertidur atau menyender di tembok kita tidak tau. Jadi dilakukan di posisi yang ada bantalan jadi menimbulkan semakin kerasnya tekanan ke dalam," kata dia.
Berita Terkait
Terpopuler
- 6 Rekomendasi Sepatu Lokal Rp 200 Ribuan, Kualitas Bintang Lima
- 7 Parfum Lokal Wangi Segar Seperti Habis Mandi, Tetap Clean Meski Cuaca Panas Ekstrem
- 5 HP Samsung Galaxy A 5G Termurah Mulai Rp1 Jutaan, Performa Gak Kaleng-kaleng
- 7 Sepatu Lari Lokal yang Wajib Masuk List Belanja Kamu di Awal Mei, Nyaman dan Ramah Kantong
- Promo Alfamart Double Date 5.5 Hari Ini, Es Krim Beli 1 Gratis 1
Pilihan
-
16 Korban Tewas Bus ALS Terbakar di Muratara Berhasil Dievakuasi, Jalinsum Masih Mencekam
-
'Celana Saya Juga Hancur', Cerita Saksi yang Kena Sisa Air Keras Saat Bantu Andrie Yunus
-
Kala Harga Kebutuhan Meroket, Menulis Jadi Andalan Saya untuk Nambal Dompet
-
Hakim Gemas Anggota BAIS Siram Air Keras ke Andrie Yunus: Amatir Banget, Malu-maluin!
-
10 WNI Diamankan di Arab Saudi Terkait Haji Ilegal, Kemenhaj Pastikan Tak Akan Intervensi
Terkini
-
Menuju Pemilu 2029 yang Berbeda, Titi Anggraini Soroti Potensi Keragaman Calon Pemimpin Nasional
-
33 Tahun Tragedi Marsinah, Aksi Kamisan ke-907 Soroti Militerisasi
-
Hantavirus: Antara Risiko Global di MV Hondius dan Kesiagaan di Pintu Masuk Indonesia
-
Jelaskan Istilah Mitra dengan Homeless Media, Bakom RI Beri Kronologi Pertemuan bersama INMF
-
Kaesang Lantik Pengurus DPW PSI Papua Tengah, Nama Jokowi Diteriakkan
-
Ada Kasus Pencabulan Anak di Balik Kasus Narkoba Etomidate WNA China
-
Pemerintah Bahas Pengelolaan Kepegawaian dan Keuangan Daerah
-
Wamendagri Bima: Sinkronisasi Program Pusat dan Daerah Penting dalam Penyusunan RKP
-
Geruduk DPRD DKI, Aktivis Endus 'Bau Busuk' Dugaan Korupsi Proyek RDF Rorotan Rp 1,3 Triliun
-
Dituding jadi Biang Kerok Laga Persija vs Persib Batal di Jakarta, GRIB Jaya Buka Suara