Suara.com - Dua terpidana pelaku bom Bali I Ali Imron dan Umar Patek menjadi "bintang" dalam Seminar yang digelar Resimen Mahasiswa (Menwa) Mahasurya Jawa Timur di Kota Malang, Senin.
Kedua terpidana yang menghuni Lapas berbeda itu hadir sebagai pembicara dalam seminar yang bertajuk "Generasi Penerus Bangsa Bersinergi Mendukung Program Pemerintah: Dalam Rangka Kontraradikal dan Deradikalisasi demi Mencegah Instabilitas serta Menjaga Keutuhan NKRI".
Ali Imron datang ke Malang dari penjara di Jakarta Minggu (24/4) malam. Pada saat yang hampir bersamaan satu narasumber lain yang juga bekas terpidana teroris dan mantan Komando Pusat Hujad Maluku, Jumu Tuani. Sementara Umar Patek baru sampai di lokasi seminar pagi harinya (Senin, 25/4) dari Lapas Klas I Surabaya di Porong, Sidoarjo.
Dalam seminar itu, Ali Imron dan Umar Patek banyak menyampaikan hal yang berkaitan dengan terorisme, termasuk banyaknya jenis terorisme saat ini. Mereka juga menyampaikan cara-cara mencegah radikalisme masuk dalam keluarga.
Ali Imron yang menjadi pengikut Jamaah Islamiah (JI) itu mengatakan keberadaan JI saat ini tak ada sangkut pautnya dengan aksi terorisme. "Mayoritas mereka tidak sepakat dengan pengeboman dan sejenisnya," kata Ali Imron.
Ia mengaku sempat mengimbau kepada para pengikut JI agar melakukan kebaikan-kebaikan lain di luar aksi radikalisme dan tidak termakan provokasi sehingga merasa perlu berangkat ke Suriah dan Irak untuk berjihad. "Di sana rakyatnya cuma 60 juta orang, baik muslim maupun nonmuslim. Kenapa kita repot ke sana, di sini (Indonesia) 200 juta muslimnya saja, si sini mereka yang berhak kita urusi, jangan termakan slogan dan apapun yang ada di internet," ujarnya.
Selain itu, alasan imbauan itu juga karena di Suriah dan Irak banyak sumber fitnah. Misalnya, saat dua orang Indonesia berangkat ke sana, mereka bisa berada di dua kubu yang berbeda, yakni ISIS dan Oposisi Suriah. "Niatnya berjuang bersama tapi justru perang. Ini fitnah yang harus dihindari. Banyak kebaikan lain yang bisa dilakukan di Indonesia, tambahnya.
Untuk masyarakat muslim di Tanah Air, Ali Imron mengimbau agar mereka tak keluar dari naungan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). "Saya juga berharap para pejabat agar menunjukkan akhlak yang baik, sebab jika pejabat muslim nunjukkan perbuatan korupsi atau kezaliman, hal itu bisa menjadi alasan kaum ekstem untuk melakukan aksi." tegasnya.
Semenatra itu Hisyam bin Ali Zein alias Umar Patek alias Ale, terpidana bom Bali I, menawarkan bantuan pada Pemerintah Indonesia untuk membebaskan warga Indonesia yang disandera kelompok Abu Sayyaf di Filipina.
Ia mengaku sangat terusik dengan kabar penyanderaan awak Kapal Brahma 12, dan sanggup melakukan bantuan itu, karena dia kenal dekat dengan Abu Sayyaf. "Aku sangat mengenal Abu Sayyaf dan kelompoknya, sehingga aku rasa sangat mampu membantu," katanya.
Penawaran bantuan itu, kata Umar Patek, jangan dikaitkan dengan banyak syarat, seperti remisi atau pengurangan separo masa tahanan. "Ini semua karena rasa kemanusiaan dan tidak ada syarat apapun," ucapnya.
Meski dihadiri oleh terpidana bom Bali I yang saat ini masih berada dalam penjara, pengamanan di lokasi seminar tidak terlihat ketat. "Saya tidak tahu ada berapa personel yang mengawal mereka. Saya tidak diberi tahu dan tidak bertanya soal itu. Yang pasti, pengawalan terhadap Umar Patek dan Ali Imron sendiri-sendiri atau berbeda," kata Komandan Menwa Mahasurya Jatimu A El Zam Zami.
Yang terpenting baginya acara berjalan dengan lancar, meski sebelumnya juga sempat khawatir acara akan batal atau terganggu karena narasumber yang direncanakan hadir adalah narapidana yang tergolong susah ditemui.
El Zam Zami mengakui untuk mengundang dua terpidana teroris itu datang ke sebuah kegiatan tentu tak mudah. Tapi, tanpa disangka, hal itu bisa diurus dalam tempo antara tiga sampai empat pekan. "Kami koordinasi dengan Brimob. Mereka bilang ke kami bisa bantu (berhubungan dengan) Jakarta. Untuk mengeluarkan mereka juga tidak gampang," tambah dia.
Ia mengaku jika panitia juga sudah memperhitungkan akibat-akibat lain dari hadirnya dua narasumber tersebut, misalnya penyerangan dari kelompok radikal yang menyebut Ali Imron dan Umar penghianat. Maklum, dua terpidana itu termasuk bekas teroris yang ikut dalam program deradikalisasi Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT). (Antara)
Berita Terkait
-
5 Fakta Umar Patek, Mantan Teroris Bom Bali yang Viral Kini jadi Barista
-
Pasca Bebas Bersyarat, Umar Patek Minta Maaf, Korban yang Selamat Kecam Pembebasannya
-
Umar Patek Minta Maaf Kepada Keluarga Korban Bom Bali
-
Bom bunuh diri di Astanaanyar Bandung dan Pembebasan Umar Patek
-
Mengenal Umar Patek, Terpidana Bom Bali 1, Sempat Jadi Buronan Bernilai 1 Juta US Dollar
Terpopuler
- Megawati: Saya Dipanggil Polisi 3 Kali, Diperiksa Jaksa Sampai Malam
- Apa Itu IKD dan Kenapa Wajib Memilikinya?
- Besok, Front Mahasiswa UI hingga IPB Siap Gelar Aksi 'Merebut Kemerdekaan' di Jakarta
- HP RAM 16 GB Berapa Harganya? Ini 5 Pilihan Termurah dengan Performa Ngebut
- 5 Sunscreen Brand Jepang untuk Flek Hitam, Lengkap dengan Review dan Harga
Pilihan
-
Dihadang Polisi di UOB Plaza, Massa UI: Ini Bukti Kita Belum Merdeka!
-
Bundaran HI Dijaga Ketat, Solidaritas Warga Mengalir: Ini Titik Logistik untuk Pendemo
-
Jelang Demo Mahasiswa, Bundaran HI Dijaga Ketat: Kendaraan Taktis Siaga, Lalin Masih Normal
-
Aksi Mahasiswa Dibatasi hingga UOB Plaza, Polda Metro Siagakan 9.242 Personel
-
Jelang Demo Mahasiswa Hari ini, 21 Orang Bawa Bom Molotov Ditangkap Polisi
Terkini
-
Bos Bali United Bongkar Alasan Gelontorkan Dana Segini Demi Rekrut Anak John Herdman
-
UPH Festival 2026 Ditutup, Mahasiswa Baru Diajak Menemukan Panggilan dan Membawa Dampak
-
BRImo Beri Cashback 30 Persen Pembelian Tiket JCO Run 2026, Segera Klaim Sekarang!
-
Selamat! Dikta eks Yovie And Nuno Resmi Menikah
-
Duduk Seharian di Depan Layar? Ini Cara agar Tetap Aktif Tanpa Harus ke Gym
-
Fathimah Azzahra Semprot Polisi di Plaza UOB: Jangan Provokasi Massa dengan Mobil Komando!
-
Anggaran Subsidi Energi Naik di RAPBN 2027, Program B50 Dinilai Belum Sukses
-
Yaqut Tantang KPK Buktikan Soal Kerugian Negara Rp622 Miliar di Kasus Kuota Haji
-
Ada Demo Mahasiswa, Pengguna Transjakarta Harap Simak! Koridor 1 hingga Rute 9D Alami Perubahan
-
Pilu Pensiunan PTP III, Kebun Sawit di Langkat yang Jadi Tumpuan Hari Tua Diklaim Agrinas