Suara.com - Paus Fransiskus, pada Minggu (1/5/2016) menyatakan kegeramannya terhadap para pengidap pedofilia yang melakukan kejahatan seksual pada anak-anak. Paus menegaskan, orang-orang tersebut layak mendapat hukuman berat atas kejahatannya.
Pernyataan Sri Paus disampaikan menyusul terungkapnya detil-detil kasus kematian seorang gadis berusia enam tahun pada 2014 silam di Italia. Sang gadis diduga tewas setelah dilempar dari balkon gedung delapan lantai oleh seorang pedofil.
"Ini adalah sebuah tragedi. Kita tidak bisa mentoleransi pelecehan terhadap anak kecil," kata Sri Paus di Vatikan.
"Kita harus melindungi anak-anak dan menghukum berat para pelakunya," sambung Bapak Suci.
Sebenarnya, Gereja Katholik sendiri berulang kali diguncang skandal pastor pedofilia. Namun, Sri Paus memilih tidak menyinggung hal tersebut, seperti pada kesempatan-kesempatan sebelumnya.
Masyarakat Italia dikejutkan oleh serangkaian detil kasus kematian Fortuna, seorang gadis enam tahun pada bulan Juni 2014 silam. Fortuna terjatuh dari sebuah balkon gedung delapan lantai di Naples, Italia.
Setelah membuka kembali kasus tersebut, polisi menetapkan seorang lelaki berusia 43 tahun sebagai tersangka. Ia dituduh melempar si gadis hingga tewas setelah terlebih dahulu memperkosanya. Polisi menduga, pelaku nekat membunuh untuk menghilangkan jejak.
Si lelaki, yang juga dituduh mencabuli seorang bocah lain kini ditahan di Roma. Ia membantah tuduhan yang diarahkan kepadanya.
Pada Sabtu (31/4/2016), Presiden Italia Sergio Mattarella menyerukan agar kasus tersebut ditangani secara cepat dan pelaku dihukum berat.
Terlepas dari kasus ini, kasus pelecehan anak-anak oleh pastor telah menjangkiti Gereja Katholik Roma selama beberapa dekade. Beberapa diantaranya adalah skandal di Negara Bagian Louisiana yang terjadi pada era tahun 1980an namun baru meledak pada tahun 2002.
Meski Paus menyerukan tak memberikan toleransi kepada para pelaku, kelompok-kelompok yang membela para korban menudingnya tak berbuat banyak. Mereka mengatakan, seharusnya Fransiskus bekerja lebih keras untuk membuat para uskup bertanggungjawab apabila terbukti menyembunyikan kasus atau tidak mencegah perbuatan itu terjadi. (Reuters)
Berita Terkait
-
Warisan Hijau Paus Fransiskus: Vatikan Buka Sekolah Pertanian Berkelanjutan Pertama
-
Dua Klub San Lorenzo: Kesamaan Mengejutkan Paus Leo XIV dan Fransiskus
-
Paus Leo XIV: Antara AS Roma, Alianza Lima dan Timnas Peru
-
Momen Paus Leo XIV Sapa Umat Pertama Kali dan Isi Pidato Pasca Pelantikan
-
Klub Peru Ini Konon Didukung Paus Leo XIV: Ikuti Jejak Paus Fransiskus
Terpopuler
- Mengapa Pertalite Mau Dihapus?
- Tak Ikut Aksi Bareng Mahasiswa di Bundaran HI Hari Ini, Said Iqbal Ungkap Alasan Buruh
- Kaki Masih Pegal Setelah Lari? Ini 5 Sepatu Recovery Run Lokal dengan Review Terbaik
- Apa Itu Sepatu Hybrid? Ini 5 Rekomendasi Buatan Lokal Terbaik dan Serbaguna
- Neymar Dipastikan Absen di Piala Dunia 2026, Kesalahan Pertama Ancelotti
Pilihan
-
Aliansi Rakyat Memanggil Kritik Sederet Program Pemerintah, Tuntut Prabowo-Gibran Lengser
-
Hasil Piala Dunia 2026: Hajar Paraguay, Start Sempurna Amerika Serikat
-
Neymar Dipastikan Absen di Piala Dunia 2026, Kesalahan Pertama Ancelotti
-
Thamrin Lumpuh Total, Massa Aksi Mengular hingga Dukuh Atas Hingga Jumat Malam
-
Ngotot Mau Demo di Bundaran HI Meski Dihadang Aparat, Mahasiswa: Istana dan DPR Tak Mendengar Kami!
Terkini
-
Bangun Spiritualitas Warga Jawa Barat, KDM Prioritaskan Bangun Tajuk di Lingkungan
-
Kejahatan Digital Kian Mengintai, Pemerintah Minta Anak Muda Hati-hati di Internet
-
Veronica Tan Soroti Pemberdayaan Perempuan di NTT: Kunci Putus Rantai Kemiskinan dan Kekerasan
-
Sopir Truk Transfer Uang Setelah Dikepung Anak Jalanan di Pesanggrahan, Apa yang Sebenarnya Terjadi?
-
'Bikin Malu Presiden', Gus Lilur Desak Prabowo Copot Dirjen Bea Cukai Djaka Budhi Utama
-
Eks Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto Diuntit Alat Pelacak, Netizen Malah Soroti Mobil Fortuner Mewah
-
Isu Setoran 'Upeti' Program MBG, Ketua BGN: Tidak Benar dan Provokatif
-
Niat Cari Cuan di Kapal Cumi, Pemuda Garut Malah Kena 'Zonk' Loker Medsos, HP Sampai Disita
-
IDAI Minta Anak di Bawah 2 Tahun Bebas dari Gawai, Cegah Speech Delay hingga Virtual Autism
-
Haris Rusly Moti: Anomali Gerakan Sosial Saat Ini Justru Anti-Rakyat dan Adopsi Narasi Neoliberal