Kementerian Agama membuat standardisasi menu katering untuk jemaah Indonesia lewat buku standar resep masakan nusantara yang disosialisasikan dan akan didistribusikan kepada penyedia katering di Arab Saudi.
"Standardisasi ini untuk menyeragamkan cara masak, bumbu dan bagaimana mengolah masakan Indonesia," kata Direktur Pelayanan Haji Luar Negeri Kementerian Agama Sri Ilham Lubis, di Banten, Senin (30/5/2016) malam.
Dia berharap standardisasi itu dapat mengurangi kesulitan para penyedia katering untuk menghidangkan makanan yang bercita rasa autentik Indonesia.
Selama ini, hambatan yang biasa dialami penyedia katering adalah soal ketersediaan bahan baku dan bumbu masak untuk makanan Indonesia.
"Dalam jumlah besar, susah didapatkan pada musim haji," kata Sri lagi.
Adanya standardisasi ini membuat penyedia katering bisa mempersiapkan sejak awal ketersediaan bahan baku dan bumbu, sehingga kendala itu bisa diatasi.
Mengenai persyaratan katering, Sri mengemukakan, koki dan juru masak harus berasal dari Indonesia agar rasanya sesuai dengan selera jemaah.
Namun, pada kenyataannya hasil masakannya tidak selalu sesuai dengan cita rasa Indonesia.
Menu yang disiapkan pun bervariasi setiap hari, mulai dari berbagai tumis sayuran dan variasi olahan ayam, daging, dan ikan.
Dalam upaya melengkapi panduan standardisasi menu Indonesia itu, pihaknya juga akan membuat video demonstrasi memasak resep-resep Indonesia. Video itu nantinya diberikan kepada penyedia katering Arab Saudi untuk memudahkan proses memasak makanan Indonesia.
"Upaya menyusun standardisasi menu ini diharapkan dapat meningkatkan indeks kepuasan jemaah, terutama yang terkait dengan cita rasa nusantara," ujarnya lagi.
"Jika puas dengan katering dan makan sampai habis, maka stamina terjaga selama melaksanakan ibadah haji," kata dia pula.
Pemerintah bekerjasama dengan 25 perusahaan penyedia katering di Mekkah, 11 di Madinah, 18 di Armina, dan satu di Jeddah. (Antara)
Berita Terkait
-
Buntut Kasus Gus Yaqut, KPK Periksa Dirjen PHU Kemenag Hilman Latief
-
Ditanya Soal Aliran Uang ke Eks Menag Yaqut, Dirut Maktour: Saya Tak Berani...
-
Menapaki Jejak Rasulullah SAW di Masjid Nabawi
-
Sempat Absen Karena Naik Haji, Bos Maktour Bakal Diperiksa KPK Terkait Kasus Haji Pekan Depan
-
Ribuan Jamaah Haji Mulai Pulang ke Indonesia
Terpopuler
- Gaji di Bawah Rp 8 Juta Kini Masuk Kategori Berpenghasilan Rendah
- 4 Genset Mini Portable Praktis dan Senyap, Solusi Saat Mati Listrik
- Mahasiswa UBK Tuntut Pengurus BEM Mundur usai Diduga Terima Suap dari Wapres Gibran
- Ikuti Jejak Hotel Sultan, Otto Hasibuan Diminta Ikhlas Lepas Lapangan Golf Ottolima ke Negara
- Isu Rapat Khusus Berisi Perintah Awasi Gibran, Gerindra Sebut Hanya Mengawasi Harga Sembako
Pilihan
-
Program Ayah Ambil Rapor Tuai Dilema, Anak Yatim hingga Buruh Harian Punya Cerita Berbeda
-
Jelang Lawan Mesir, Striker Iran Mehdi Taremi Ditahan Otoritas AS
-
Semua Pengurus BEM FH UBK Dipecat, Kasus Suap Rp 20 Juta dari Polisi
-
Satu Kapal Tanker Pertamina Lolos dari Selat Hormuz
-
Tahan Inggris, Pelatih Ghana Sindir VAR: Saya Tak Yakin Masih Berfungsi
Terkini
-
3 Manajer KDMP-KNMP Meninggal, Amnesty Desak Latsarmil Dihentikan
-
Gempa Besar Venezuela: Ribuan Orang Hilang Dampaknya Sampai Sejauh 1700 Km
-
Fadli Zon Dorong Cerita Rakyat Jadi Gerakan Nasional, Bukan Sekadar Warisan Budaya
-
KPK Cecar Eks Sekjen MPR Maruf Cahyono Soal Bukti-Bukti Gratifikasi Rp17 Miliar
-
Gus Ipul Ajak SP2MI Ambil Peran di Program Sekolah Rakyat
-
19 Ribu Anak Garut Putus Sekolah, Bupati 'Todong' ASN hingga Pengusaha Jadi Orang Tua Asuh!
-
Riset Ungkap Skema Hibah dan Pinjaman Lunak Paling Efektif Danai PLTS Komunitas
-
Hari Pelaut Sedunia, Pelindo Dukung Potensi Ekonomi di Selat Malaka
-
Prabowo Percepat Pengembangan Mobil Nasional hingga Farmasi, Kampus Diminta Kejar Kebutuhan SDM
-
Geledah Kantor BKP Sumsel, KPK Temukan Bukti Upaya Ubah Opini WTP Usai Bupati Muara Enim Kena OTT