News /
Senin, 06 Juni 2016 | 07:15 WIB
Petinju Amerika Serikat, Muhammad Ali dalam sebuah jumpa pers di Meksiko City pada 9 Juli 1987 (Reuters).

Suara.com - Upacara pemakaman almarhum legenda tinju dunia, Muhammad Ali, akan digelar pada hari Jumat, 10 Juni mendatang. Pihak keluarga mengizinkan "semua kalangan" untuk menghadiri pemakaman di kampung halaman Ali, Louisville, Kentucky, Amerika Serikat.

Sejak saat ini, berbagai persiapan tengah dilakukan. Pemakaman akan dihadiri oleh mantan Presiden AS Bill Clinton yang rencananya akan menyampaikan eulogi. Selain itu, komedian ternama Bill Crystal dan jurnalis olah raga Bryant Gumbel, juga diharapkan hadir untuk memberikan sambutan.

Sang legenda tinju menghembuskan nafas terakhirnya pada usia 74 tahun hari Jumat lalu setelah mengalami sepsis. Lelaki asal Kentucky tersebut menjadi salah satu sosok paling terkenal dan disegani di seluruh dunia berkat prestasinya yang luar biasa di atas ring. Ali juga menarik perhatian khalayak karena menjadi mualaf dan pernah menolak wajib militer untuk perang di Vietnam.

"Saya tidak perlu menjadi apa yang anda inginkan," kata Ali pada tahun 1964. "Saya bebas untuk menjadi siapapun yang saya mau," ujarnya seperti dikutip New York Post.

Semenjak penyakit Parkinson menyerang dirinya, Ali makin giat di kegiatan kemanusiaan, termasuk menggelar pertemuan dengan Saddam Hussein pada tahun 1990 yang kemudian disusul dengan pembebasan 15 sandera Amerika.

"Ali tidak akan pernah mati," kata promotor tinju ternama Don King. "Seperti Martin Luther King, jiwanya akan tetap hidup, dan ia berjuang bagi dunia," ujar King.

Tiga puluh tahun lamanya Ali berjuang melawan penyakit yang merenggut kemampuannya bicara dan keseimbangannya tersebut. Ali dirawat di sebuah rumah sakit di Phoenix pekan lalu sampai menghembuskan napas terahirnya pada Jumat malam pukul 9.10 waktu Arizona.

Bendera di Louisville dikibarkan setengah siang pada Sabtu. Namun, seluruh dunia juga ikut berkabung, termasuk para mantan presiden dan raja dari berbagai tempat.

"Saya pernah memberikan Ali Medali Kebebasan Presiden pada tahun 2005 dan bertanya-tanya bagaimana dia bisa melalui berbagai pertarungan," kata mantan Presiden AS George Bush. "Itu pasti karena jiwanya yang kuat".

Raja Yordania, Abdullah II, menyebut Ali sebagai juara besar yang mempersatukan, menembus batas dan negara-negara.

Di Britania Raya, 28 ribu orang nenandatangani sebuah petisi online untuk mendukung pemberian gelar ksatria kepada Ali oleh kerajaan. (News.com.au)

Load More