Suara.com - Para pelaku bom bunuh diri di Bandara Ataturk, Istanbul, Turki, ternyata sempat berencana menyandera para penumpang, demikian diungkap media Turki, Jumat (1/7/2016).
Surat kabar pro-pemerintah, Sabah, menyebut bahwa para penyerang menyusuri TKP dan berencana menjadikan puluhan penumpang sebagai sandera di dalam bandara, sebelum akhirnya melakukan pembantaian.
Namun, karena sudah terlebih dahulu dicurigai petugas keamanan bandara, mereka terpaksa melancarkan serangan lebih cepat dari yang direncanakan.
Pemerintah Turki cukup yakin bahwa ISIS-lah dalang dari serangan yang menewaskan 44 orang tersebut, di mana 19 diantaranya adalah warga negara asing.
Kantor berita nasional Turki, Anadolu mengatakan, pihak berwajib sudah menahan 24 orang yang disinyalir terlibat dalam serangan teror tersebut. Sebanyak 15 diantaranya merupakan warga negara asing.
Mengutip sumber dari kejaksaan, Anadolu menyebut kedua penyerang bernama Rakim Bulgarov dan Vadim Osmanov. Namun tidak disebutkan negara asala mereka.
Informasi soal negara asal kedua pelaku justru disampaikan Kementerian Luar Negeri Kyrgyzstan, lewat konsultanya di Istanbul. Dikatakan, keduanya memiliki paspor Rusia.
Polisi juga menemukan sebuah laptop yang rusak dalam sebuah tempat sampah dekat sebuah apartemen di Istanbul yang dijadikan tempat persembunyian para pelaku. Saat ini, otoritas terkait sedang mencoba mengorek informasi dari komputer jinjing itu.
Otak serangan
Media Turki menyebut otak penyerangan bernama Akhmed Chatayev, seorang warga negara Chechnya yang mengepalai sebuah sel teroris ISIS di Istanbul.
Chatayev diduga mengorganisir dua serangan bom mematikan tahun ini, yakni di kawasan wisata Sultanahmet dan pusat perbelanjaan Istiklal.
Kepala Komite Parlemen di Departemen Keamanan Dalam Negeri AS, Michael McCaul mengatakan, Chatayev bisa jadi "musuh nomor satu di kawasan Kaukasus utara, Rusia".
"Ia beberapa kali datang ke Suriah dan menjadi salah satu letnan tinggi di kementerian perang ISIS," kata McCaul kepada CNN.
Dokumen pengadilan Swedia menyebutkan, lelaki berusia 36 tahun tersebut pernah divonis bui 16 bulan atas dakwaan perdagangan senjata, sampai akhirnya ia dideportasi kembali ke negaranya.
Ia pernah pula mendapat suaka politik di Austria pada tahun 2003. (AFP)
Berita Terkait
Terpopuler
- 6 HP 5G Terbaru Paling Murah Mulai Rp1 Jutaan, Performa Jempolan
- Proyek 3 Triliun Dimulai: Makassar Bakal Kebanjiran 200 Ton Sampah dari Maros dan Gowa Setiap Hari
- 5 Sunscreen Wardah Terbaik untuk Flek Hitam Segala Usia
- Berapa Gaji Pratama Arhan? Kini Dikabarkan Bakal Balik ke Liga 1
- 3 HP Murah Rp1 Jutaan RAM 8 GB April 2026 untuk Multitasking Lancar
Pilihan
-
Serangan AS-Israel Tewaskan Kepala Intelijen Garda Revolusi Iran Majid Khademi
-
Menkeu Purbaya Pastikan BBM Subsidi Tak Naik hingga Akhir 2026: DPR Beri Tepuk Tangan!
-
Simalakama Plastik: Antara Lonjakan Harga dan Napas UMKM yang Sesak
-
Hizbullah Klaim Hancurkan Kapal Militer Israel Sebelum Serang Lebanon
-
Jusuf Kalla Mau Laporkan Rismon Sianipar ke Polisi! Ini Masalahnya
Terkini
-
KA Bangunkarta Anjlok di Bumiayu, KAI Minta Maaf dan Lakukan Rekayasa Perjalanan Kereta
-
Kasus Foto AI di JAKI, Lurah Kalisari Akui Kesalahan dan Beri Sanksi Petugas PPSU
-
Laporan KPK: Kekayaan Gibran Bertambah Rp 395 Juta, Total Kini Rp 27,9 Miliar
-
Kasus Kekerasan Seksual di Sekolah Meningkat, FSGI Catat 22 Kasus dalam 3 Bulan
-
Isu Jatuhkan Prabowo Mencuat, Fahri Hamzah Minta Jangan Kasih Ruang: Dunia Lagi Kacau
-
Marak Pelecehan di Transportasi Online, Polda Metro Jaya Imbau Warga Terapkan Jurus 'BERANI'
-
Eks Pengacara Lukas Enembe Ajukan PK, Putusan MK Jadi Senjata Baru
-
Tim Bon Jowi Klaim Menang 4-0 di KIP soal Ijazah Jokowi, Kini Tinggal Hadapi Polri
-
Kepala BGN Sambangi Banggar DPR, Said Abdullah Sebut Ada Penajaman Prioritas Anggaran Rp20 Triliun
-
Serangan AS-Israel Tewaskan Kepala Intelijen Garda Revolusi Iran Majid Khademi