Suara.com - Wacana reshuffle kabinet kerja yang akan terjadi dalam waktu dekat santer bergulir. Selain pertimbangan kinerja, masuknya Partai Golkar dan Partai Amanat Nasional (PAN) dalam barisan partai pendukung pemerintah disebut-sebut mengancam posisi sejumlah menteri di kabinet.
Yang menjadi sorotan dari reshuffle kali ini adalah menteri-menteri di bidang ekonomi yang kebetulan semuanya dari kalangan nonpartai politik. Kinerja mereka dianggap paling lemah dan perekonomian nasional dinilai stagnan.
Pengamat komunikasi politik Heri Budianto mengatakan, kinerja kabinet pemerintahan Joko Widodo (Jokowi) akan tetap solid jika reshuffle dilakukan terhadap menteri dari kalangan nonparpol.
Menurut dia, jika Golkar dan PAN akan mendapatkan jatah menteri, maka kursi menteri nonparpol-lah yang seharusnya digeser sehingga kinerja pemerintahan akan tetap solid.
"Kalau Golkar mau ngincar jatah parpol, benturannya akan keras, apalagi Golkar tidak mendukung Jokowi saat Pilpres dan datang belakangan. Sebetulnya dia aman ambil posisi nonparpol," kata pendiri Polcomm Institute itu, di Jakarta, Rabu (13/7/2016).
Heri menambahkan, ada 20 seats (kursi) menteri nonparpol dan semuanya merupakan posisi strategis. Bahkan komposisi kabinet saat ini masih didominasi dari kalangan non-parpol. Sebab menteri dari parpol hanya berjumlah 14 menteri, padahal dukungan dan fungsi parpol dalam memperkuat pemerintahan sangat besar dan strategis.
"Parpol ini yang keringetan dan punya kursi di DPR. Kalau ngambil porsi menteri nonparpol, tidak ada risiko politiknya," kata Heri.
Saat ini menteri dari parpol hanya diberi posisi tidak strategis, tapi diganggu dan dirusak terus. Dengan dasar itu, seharusnya jika presiden hendak melakukan reshuffle kabinet dengan memasukkan PAN dan Golkar, maka yang seharusnya diambil adalah posisi menteri nonparpol dan posisinya juga strategis.
"Jadi sangat realistis ambil jatah nonparpol. Di samping tidak ada benturan politiknya, komposisi sekarang tidak berimbang. Nonparpol 20 menteri, dari parpol hanya 14 menteri. Padahal nyatanya yang keringetan parpol dan punya basis massa dan kekuatan politik di parlemen. Kinerja menteri nonparpol juga terbukti jeblok," tutur Heri.
Ia mengatakan, menteri-menteri di bidang ekonomi terbukti tidak mampu mengeksekusi arahan presiden untuk meningkatkan ekonomi nasional. Ia mencontohkan soal daging saja, meskipun Presiden Jokowi sudah mengultimatum agar harga daging di angka Rp80.000, menteri terkait tidak mampu memberi solusi.
“Soal daging saja sejak mau puasa sampai sekarang harganya malah terus naik,” kata pendiri Pollcomm Institute ini.
Heri menjelaskan, jika dilihat dari sisi kinerja, terbukti menteri-menteri nonparpol terutama yang di bidang ekonomi kinerjanya melempem. Faktanya, ekonomi Indonesia remuk dan daya beli masyarakat turun, harga komoditas hancur, ekspor lemah, impor nambah, harga-harga bahan pokok naik terus.
"Penanganan mudik kacau balau, pangan remuk, pajak tidak memenuhi target, sehingga harus ada kebijakan tax amnesty," tegasnya.
Ia juga menyebut 12 paket kebijakan ekonomi yang digalakkan pemerintah tidak jalan lantaran para menteri dari nonparpol tidak bisa menerjemahkan dengan implementasi kongkrit arahan presiden. Masih banyak contoh lain yang menunjukkan kinerja menteri nonparpol tidak bisa diandalkan, kata Heri.
"Yang strategis-strategis itu nonparpol, meski kita tahu di belakangnya ada cukongnya, ada afiliasi ke parpol tertentu, dan hanya untuk kepentingan pribadinya dan kepentingan kelompoknya," kata Heri.
Sebab itu, Heri menilai reshuffle kali ini perlu merombak menteri ekonomi yang sudah terbukti gagal mengimplementasikan nawacita Presiden Jokowi.
“Golkar dan PAN bisa ambil kursi menteri nonparpol itu,” katanya.
Berita Terkait
-
Heboh Isu Reshuffle Kabinet, Mensesneg Sebut Evaluasi Menteri Tiap Hari, Ganti Jika Perlu
-
Isu Reshuffle Kabinet Jilid 5 Memanas, 7 Menteri Ini Bakal Diganti?
-
Mensesneg Tegaskan Belum Ada Rencana Reshuffle Kabinet Prabowo
-
Sapu Bersih Kabinet Jokowi? Presiden Prabowo Diprediksi Gergaji Menteri Titipan Oktober Ini
-
Sri Mulyani Out! Pernah Curhat Soal Drama di DPR: Penuh Kepura-puraan!
Terpopuler
- 6 Mobil 7 Seater yang Jarang Rewel untuk Jangka Panjang, Solusi Cerdas Keluarga
- 61 Kode Redeem FF Max Terbaru 20 Maret 2026: Raih THR Idul Fitri, AK47 Lava, dan Joker
- 9 HP Gaming Terjangkau Rekomendasi David GadgetIn Buat Lebaran 2026, Performa Kencang!
- Apa Jawaban Minal Aidin Wal Faizin? Simak Arti dan Cara Membalasnya
- Ibu-Ibu Baku Hantam di Tengah Khotbah Idulfitri, Diduga Dipicu Masa Lalu
Pilihan
-
Ironi Hari Air Sedunia: Ketika Air yang Melimpah Justru Menjadi Kemewahan
-
Rudal Iran Hantam Dekat Fasilitas Nuklir Israel, 100 Orang Jadi Korban
-
Skandal Dean James Melebar! Pakar Hukum Belanda Sebut Status WNI Jadi Masalah Utama
-
Serangan AS-Israel di Malam Takbiran Tewaskan Jubir Garda Revolusi Iran
-
Mencekam! Jirayut Terjebak Baku Tembak di Thailand
Terkini
-
Inggris Tak Mampu Tahan Rudal Iran, London Kini Dalam Jangkauan Sejjil
-
Duka di Maybrat: Dua Prajurit TNI AL Gugur Usai Kontak Tembak dengan KKB, Senjata Dirampas
-
Mengenal 2 Konsep Huntap yang Akan Dibangun Satgas PRR untuk Penyintas Bencana Sumatera
-
MAKI Sindir KPK Soal Penahanan Rumah Yaqut Secara Diam-diam: Layak Masuk Rekor MURI
-
Siapa Fuad? Sosok WNA Iran Terduga Pembunuh Cucu Mpok Nori yang Ditangkap di Tol Tangerang-Merak
-
Pelaku Pembunuhan Wanita di Cipayung Tertangkap, Ternyata Mantan Suami Siri Asal Irak
-
Hawaii Diterjang Banjir Terparah Sepanjang 20 Tahun, 5000 Warga Mengungsi
-
Mudik Lebaran Lancar dan Kondusif, Kakorlantas Polri: Terima Kasih untuk Semua Pihak yang Terlibat
-
Gaspol Reformasi Pendidikan, Prabowo Targetkan Renovasi 300 Ribu Sekolah
-
Prabowo: Lebih Baik Uang untuk Makan Rakyat daripada Dikorupsi