Ilustrasi KPK [suara.com/Nikolaus Tolen]
Penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi kembali menjadwalkan pemeriksaan terhadap Komisaris Grup Lippo Eddy Sindoro terkait kasus dugaan suap penanganan perkara peninjauan kembali di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Selain Eddy, penyidik juga memanggil Presiden Direktur PT. Paramount Enterprise International Ervan Adi Nugroho serta mantan petinggi Grup Lippo Suhendra Atmadja. Ketiganya diperiksa sebagai saksi untuk tersangka panitera PN Jakarta Pusat Edy Nasution.
"Mereka diperiksa sebagai saksi tersangka EN," kata Kepala Bagian Pemberitaan dan Informasi KPK Priharsa Nugraha, Senin (1/8/2016).
Eddy Sindoro merupakan salah satu saksi yang masuk dalam daftar pencegahan KPK keluar negeri per tanggal 28 April 2016 lalu. Penyidik telah beberapakali memanggil Eddy, namun Chairman Paramount Enterprise itu manggkir.
Dalam surat dakwaan Doddy Aryanto Supeno menjelaskan peran Eddy yang memerintahkan Wresti untuk melakukan pendekatan dengan berbagai pihak yang terkait sejumlah perkara yang melibatkan Grup Lippo di PN Jakpus.
Menindaklanjuti perintah itu, Wresti menemui Edy dan meminta penundaan. Edy menyetujui penundaan dengan imbalan sebesar Rp100 juta.
Sedangkan Doddy yang merupakan anak buah Eddy diberi tugas menyerahkan dokumen dan uang kepada sejumlah pihak, termasuk Edy.
Uang tersebut kemudian diperoleh Hery Soegiarto yang diberikan pada Edy melalui Doddy di basement Hotel Acacia, Jakarta Pusat, pada Desember 2015.
Doddy didakwa melakukan penyuapan secara bersama-sama dengan Wresti, Ervan, dan Eddy Sindoro.
Dugaan suap penanganan perkara PK pada PN Jakpus terungkap saat KPK OTT terhadap Edy dan Doddy di hotel, Jalan Kramat Raya, Jakarta Pusat, pada Rabu (20/4/2016) lalu.
"Mereka diperiksa sebagai saksi tersangka EN," kata Kepala Bagian Pemberitaan dan Informasi KPK Priharsa Nugraha, Senin (1/8/2016).
Eddy Sindoro merupakan salah satu saksi yang masuk dalam daftar pencegahan KPK keluar negeri per tanggal 28 April 2016 lalu. Penyidik telah beberapakali memanggil Eddy, namun Chairman Paramount Enterprise itu manggkir.
Dalam surat dakwaan Doddy Aryanto Supeno menjelaskan peran Eddy yang memerintahkan Wresti untuk melakukan pendekatan dengan berbagai pihak yang terkait sejumlah perkara yang melibatkan Grup Lippo di PN Jakpus.
Menindaklanjuti perintah itu, Wresti menemui Edy dan meminta penundaan. Edy menyetujui penundaan dengan imbalan sebesar Rp100 juta.
Sedangkan Doddy yang merupakan anak buah Eddy diberi tugas menyerahkan dokumen dan uang kepada sejumlah pihak, termasuk Edy.
Uang tersebut kemudian diperoleh Hery Soegiarto yang diberikan pada Edy melalui Doddy di basement Hotel Acacia, Jakarta Pusat, pada Desember 2015.
Doddy didakwa melakukan penyuapan secara bersama-sama dengan Wresti, Ervan, dan Eddy Sindoro.
Dugaan suap penanganan perkara PK pada PN Jakpus terungkap saat KPK OTT terhadap Edy dan Doddy di hotel, Jalan Kramat Raya, Jakarta Pusat, pada Rabu (20/4/2016) lalu.
Tag
Komentar
Berita Terkait
-
Kasus Kuota Haji Terus Bergulir, KPK Periksa Muhadjir Effendy
-
Aksi di KPK, Massa Desak Aset Kalla Group Disita Jika Gagal Bayar Atas Pinjaman Rp30 Triliun
-
Kasus Korupsi K3, Noel Ebenezer Dituntut 5 Tahun dan Denda Rp250 Juta
-
Sempat Ajukan Penundaan Pemeriksaan dalam Kasus Haji, Muhadjir Effendy Tiba-tiba Muncul di KPK
-
Sempat Mangkir, Heri Black Kembali Dipanggil KPK di Kasus Suap Bea Cukai
Terpopuler
- Honor X7d Resmi Meluncur di Indonesia, HP Tangguh 512GB, Baterai Awet 6500mAh, Harga Rp4 Jutaan
- 7 Parfum Tahan Lama di Indomaret, Wangi Mewah tapi Harga Ramah
- Anggota DPR Habiburokhman sampai Turun Tangan Komentari Kasus Erin Taulany vs eks ART
- 5 Cushion Anti Longsor 24 Jam, Makeup Tahan Lama Meski Cuaca Panas
- 8 Sepatu Skechers yang Diskon di MAPCLUB, Bisa Hemat hingga Rp700 Ribu
Pilihan
-
Eks Wamenaker Noel Ebenezer Dituntut 5 Tahun Penjara!
-
'Desa Nggak Pakai Dolar' Prabowo Dikritik: Realita Pahit di Dapur Rakyat Saat Rupiah Tembus Rp17.600
-
Babak Baru The Blues: Menanti Sihir Xabi Alonso di Tengah Badai Pasang Surut Karirnya
-
Maut di Perlintasan! Kereta Hantam Bus di Bangkok hingga Terbakar, 8 Orang Tewas
-
Setahun Menggantung, Begini Nasib PSEL di Kota Tangsel: Pilih Mandiri, Tolak Aglomerasi
Terkini
-
Skandal Korupsi Mesin Jahit PPKUKM Jaktim Terbongkar: Modus Mark Up Gila-gilaan, Negara Tekor Rp4 M!
-
WNI Disandera Tentara Israel, Din Syamsuddin Desak Presiden Prabowo Bicara di Forum BoP!
-
Ahmad Bahar Minta Maaf ke Hercules, Klaim Video Viral Bukan Buatannya: HP Saya Dihack
-
Akhir Pelarian Jambret WNA di Bundaran HI: 120 Kali Beraksi, Keok Ditembus 'Timah Panas' Polisi
-
Anwar Ibrahim Tuntut Pembebasan Aktivis GSF dan Jurnalis Indonesia yang Ditangkap Militer Israel
-
Kapal Bantuan Gaza Dikepung Militer Israel di Mediterania: 9 WNI Terancam, 1 Terdeteksi Diintersep!
-
Penyerangan Tentara Israel ke Global Flotilla dan Jurnalis Indonesia Dianggap Pelanggaran Hukum Laut
-
Bulog Pastikan Beras SPHP Tetap Terjangkau untuk Masyarakat
-
Kapal Berisi Jurnalis dan Relawan Indonesia Dibajak, Kemlu Kecam Keras Militer Israel
-
Mensos Gus Ipul Minta Penjangkauan Calon Siswa Sekolah Rakyat Tepat Sasaran