Pengadilan Turki menahan novelis Asli Erdogan, Jumat (19/8/2016), karena diduga terhubung dengan pegaris keras Kurdi. koran "Haberturk" memberitakan penahanan ini dilakukan tiga hari sesudah perempuan peraih sejumlah penghargaan itu beserta dua lusin pegawai koran pendukung Kurdi "Ozgur Gundem" ditangkap.
"Ozgur Gundem" ditutup atas perintah pengadilan karena menyebarkan propaganda Partai Buruh Kurdistan (PKK), yang dianggap sebagai teroris oleh pemerintah Turki, Amerika Serikat, dan Uni Eropa.
Turki menutup lebih dari 130 media sejak keadaan darurat ditetapkan pasca-kudeta gagal pada 15 Juli. Gerakan itu membuat sekutu Barat dan pegiat hak asasi khawatir atas penurunan kebebasan menyatakan pendapat bagi pers.
Pemerintah Turki menyangkal bahwa penutupan itu terkait keadaan darurat. Akan tetapi, pengawas media internasional beranggapan, hal itu bagian dari kebijakan pemerintah pascakudeta.
Asli Erdogan, novelis, adalah anggota dewan penasihat koran tersebut. Ia ditahan di penjara Istanbul atas tuduhan awal "terlibat dalam keanggotaan organisasi teroris" dan "ancaman bagi kesatuan nasional", kata "Haberturk", media pro-pemerintah, dalam lamannya.
Media lain turut memberitakan informasi serupa. Surat kabar itu menjelaskan, dua redaktur koran tersebut masih ditahan. Seluruh pegawai "Ozgur Gundem" berjumlah 25 orang ditahan pada Selasa karena dituduh mendukung PKK.
Suara.com - Aksi itu merupakan lanjutan dari penutupan koran dengan sirkulasi 7.500 eksemplar. Langkah tersebut menambah daftar pekerja media Turki yang ditahan hingga mencapai 100 orang, kata Federasi Wartawan Eropa (EFJ), lembaga pengawas media.
Jumlah itu menempatkan Turki sebagai negara pemenjara wartawan terbanyak di dunia. Namun, koran pro-pemerintah "Sabah" mengatakan, 22 pegawai "Ozgur Gundem" telah dibebaskan.
"Ozgur Gundem" banyak membahas kemelut PKK di Turki tenggara, yang dihuni sebagian besar suku Kurdi. Media itu banyak didenda, diselidiki, bahkan korespondennya ditangkap sejak 2014.
PKK menjadi oposan selama tiga dasawarsa, mewakili 15 juta warga Kurdi di Turki, menuntut otonomi lebih luas. Lebih dari 40 ribu orang tewas dalam kekerasan terkait kemelut tersebut. (Antara/Reuters)
Terpopuler
- 6 Mobil 7 Seater yang Jarang Rewel untuk Jangka Panjang, Solusi Cerdas Keluarga
- 61 Kode Redeem FF Max Terbaru 20 Maret 2026: Raih THR Idul Fitri, AK47 Lava, dan Joker
- 9 HP Gaming Terjangkau Rekomendasi David GadgetIn Buat Lebaran 2026, Performa Kencang!
- Apa Jawaban Minal Aidin Wal Faizin? Simak Arti dan Cara Membalasnya
- Ibu-Ibu Baku Hantam di Tengah Khotbah Idulfitri, Diduga Dipicu Masa Lalu
Pilihan
-
Ironi Hari Air Sedunia: Ketika Air yang Melimpah Justru Menjadi Kemewahan
-
Rudal Iran Hantam Dekat Fasilitas Nuklir Israel, 100 Orang Jadi Korban
-
Skandal Dean James Melebar! Pakar Hukum Belanda Sebut Status WNI Jadi Masalah Utama
-
Serangan AS-Israel di Malam Takbiran Tewaskan Jubir Garda Revolusi Iran
-
Mencekam! Jirayut Terjebak Baku Tembak di Thailand
Terkini
-
Inggris Tak Mampu Tahan Rudal Iran, London Kini Dalam Jangkauan Sejjil
-
Duka di Maybrat: Dua Prajurit TNI AL Gugur Usai Kontak Tembak dengan KKB, Senjata Dirampas
-
Mengenal 2 Konsep Huntap yang Akan Dibangun Satgas PRR untuk Penyintas Bencana Sumatera
-
MAKI Sindir KPK Soal Penahanan Rumah Yaqut Secara Diam-diam: Layak Masuk Rekor MURI
-
Siapa Fuad? Sosok WNA Iran Terduga Pembunuh Cucu Mpok Nori yang Ditangkap di Tol Tangerang-Merak
-
Pelaku Pembunuhan Wanita di Cipayung Tertangkap, Ternyata Mantan Suami Siri Asal Irak
-
Hawaii Diterjang Banjir Terparah Sepanjang 20 Tahun, 5000 Warga Mengungsi
-
Mudik Lebaran Lancar dan Kondusif, Kakorlantas Polri: Terima Kasih untuk Semua Pihak yang Terlibat
-
Gaspol Reformasi Pendidikan, Prabowo Targetkan Renovasi 300 Ribu Sekolah
-
Prabowo: Lebih Baik Uang untuk Makan Rakyat daripada Dikorupsi