- Camat Medan Maimun, Almuqarrom Natapradja, dicopot pada 23 Januari 2026 karena menyelewengkan Kartu Kredit Pemerintah Daerah (KKPD) senilai Rp1,2 miliar untuk judi online.
- Dana KKPD tersebut, yang seharusnya untuk operasional, digunakan camat untuk judi, membayar utang, sewa rumah, dan keperluan pribadi sejak tahun 2024.
- Kasus ini menyoroti celah pengawasan sistem perbankan dan BPKAD terhadap transaksi KKPD yang mengarah ke merchant judi online.
Suara.com - Di sebuah kantor bank di Kota Medan, seorang manajer menatap layar komputernya dengan kening berkerut. Di hadapannya, terhampar riwayat transaksi sebuah Kartu Kredit Pemerintah Daerah (KKPD) yang janggal.
Kartu yang dipergunakan untuk operasional Kecamatan Medan Maimun itu menunjukkan tagihan yang membengkak hingga Rp1,2 miliar. Yang membuat dahi berkerut bukan semata besarnya tagihan, melainkan jenis transaksinya.
Alih-alih belanja alat tulis kantor, biaya perjalanan dinas, atau konsumsi rapat, transaksi justru berulang kali mengalir ke merchant yang sama sekali tak berkaitan dengan urusan pemerintahan: top up saldo ke sejumlah platform judi online atau judol.
Pada 23 Januari 2026, Pemkot Medan secara resmi mengumumkan pencopotan Almuqarrom Natapradja dari jabatan Camat Medan Maimun. Namun, di balik pencopotan itu, timbul pertanyaan besar: mengapa fasilitas negara yang dirancang untuk transparansi justru bisa digunakan untuk bermain judi online?
Skandal Rp1,2 Miliar: Judi, Utang, dan Sewa Rumah
Investigasi Inspektorat Kota Medan, yang dipicu oleh laporan dari pihak bank, mengungkap modus operandi yang digunakan Camat Medan Maimun.
Almuqarrom ternyata menggunakan KKPD yang dipegangnya tidak hanya untuk berjudi, tetapi juga untuk menutupi gaya hidupnya.
"Berdasarkan pengakuan, uang itu digunakan untuk judi online, bayar utang, sewa rumah, dan keperluan pribadi lainnya," ungkap Kepala BKPSDM Medan, Subhan Fajri.
Penyelewengan ini, menurut Wali Kota Medan Rico Waas, telah berlangsung secara akumulatif sejak tahun 2024.
Celah KKPD: Inovasi Transparansi yang Gagal Terawasi?
Ironisnya, KKPD merupakan instrumen yang dirancang untuk meningkatkan transparansi dan akuntabilitas. Sesuai Permendagri 79/2022, tujuannya adalah meminimalisasi transaksi tunai dan memudahkan audit. Namun, kasus Almuqarrom justru menelanjangi celah fatal dalam sistem ini.
Baca Juga: Alasan Jamdatun Narendra Jadi Saksi Ahli dalam Persidangan Ekstradisi Paulus Tannos di Singapura
Pertanyaan terbesar mengarah pada pengawasan. Mengapa sistem perbankan dan verifikasi internal di Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) tidak memberikan peringatan atau alert ketika terjadi transaksi masif dan berulang ke merchant non-pemerintah seperti platform judi? Bagaimana seorang camat bisa memiliki akses ke limit kartu sebesar itu tanpa pengawasan berlapis secara real time?
Skandal ini menunjukkan bahwa inovasi teknologi tanpa pengawasan ketat justru membuka pintu baru bagi praktik korupsi.
Fenomena 'Pejabat Slot': Saat Jabatan Mapan Tak Kebal Candu
Kasus Almuqarrom dinilai sebagai puncak gunung es dari fenomena yang lebih besar, yakni “pejabat slot”. Data Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) menunjukkan perputaran dana judi online di Indonesia pada 2025 mencapai Rp286 triliun, dengan 12,3 juta pemain aktif. Birokrat, dari level desa hingga kota, termasuk di dalamnya.
Pegiat antikorupsi Tibiko Zabar Pradano melihat fenomena ini sebagai cerminan kerentanan korupsi di level bawah.
"Hal ini terjadi karena banyak faktor penyebab seperti, anggaran yang besar namun minim pengawasan atau kontrol," jelas Biko kepada Suara.com.
Secara psikologis, pejabat yang terjerat judi online kerap masuk ke fase chasing losses, yakni ambisi irasional untuk menutup kerugian dengan berjudi lebih besar. Ketika uang pribadi habis, dana publik seperti KKPD pun menjadi sasaran empuk.
Sanksi Disiplin vs Pidana: Apakah Non-Job Sudah Cukup?
Saat ini, Almuqarrom telah dijatuhi sanksi disiplin berat berupa pembebasan dari jabatan selama 12 bulan. Namun, banyak pihak menilai sanksi tersebut belum memadai.
Biko menegaskan kasus ini tidak bisa berhenti pada sanksi administratif.
"Dengan jabatan yang melekat sebagai seorang Camat, ia diduga telah menyalahgunakan kewenangan dengan melawan hukum untuk menguntungkan diri pribadi. Maka kasus ini harus diusut dugaan perbuatan tindak pidana lain yang dilakukan, termasuk dugaan korupsinya," ujarnya.
Sementara itu, Wali Kota Medan Rico Waas membuka kemungkinan membawa kasus ini ke ranah pidana.
"Kalau untuk pidananya, mungkin kami akan serahkan ke aparat penegak hukum," katanya.
Publik kini menanti langkah lanjutan. Apakah kasus ini akan berhenti pada sanksi non-job, atau justru menjadi preseden penegakan hukum dengan jeratan pidana korupsi yang memberi efek jera, terutama di tengah situasi darurat judi online di Indonesia.
Tag
Berita Terkait
-
Alasan Jamdatun Narendra Jadi Saksi Ahli dalam Persidangan Ekstradisi Paulus Tannos di Singapura
-
OTT Bea Cukai, KPK Ciduk 17 Orang dan Amankan Mata Uang Asing hingga Logam Mulia
-
Usut Kasus Korupsi Rumah Jabatan, KPK Periksa Sekjen DPR Indra Iskandar Hari Ini
-
Feri Amsari Curiga Banyak Kasus Korupsi Dimunculkan oleh Kekuasaan
-
Anak Buah Terjaring OTT KPK, Menkeu Purbaya: Kenapa Terpukul? Ini Titik Masuk Perbaikan
Terpopuler
- 4 Rekomendasi Merk Rice Cooker yang Awet dan Bagus untuk Pemakaian Jangka Panjang
- Feng Shui Rumah Menghadap Utara, Lakukan 4 Tips Ini agar Energi Seimbang dan Bawa Hoki
- TNI Mau Ambil Alih Kamtibmas? TB Hasanuddin: Itu Tugas Polri
- Warga Teror Pekerja Stadion Sudiang, Pembangunan Tribun Selatan Terpaksa Ditinggalkan
- 5 Pilihan HP Samsung RAM 12 GB Agustus 2026, Performa Ngebut Anti Lag
Pilihan
-
Sudah Dibangun Sejak 2023, Sejauh Mana Bibit Sriwijaya Kemampo Pulihkan Hutan Sumsel?
-
Napak Tilas Jejak Kolonial Londo Ireng di Makam Kherkof Purworejo
-
100 Personel Damkar Masih Berjibaku Padamkan Kebakaran Gedung Bapenda DKI
-
Kantor Bapenda DKI Jakarta Dilalap si Jago Merah, Api Semakin Membesar
-
Bocoran Reshuffle Kabinet Agustus: Norman Joesoef Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
Terkini
-
Bintang-bintang Legendaris Liga Inggris akan Saling Berhadapan di GBK, Catat Waktunya
-
Yenti Garnasih Bongkar Indikasi TPPU Febrie dan Luruskan Istilah Kriminalisasi
-
Polisi Temukan Bukti Permulaan, Kasus Kematian Sutrimo Naik ke Tahap Penyidikan Pidana
-
Kita Cari! Bahar bin Smith Geruduk The Sounds Project Buru Pelaku Hafalan Quran Hadiah Miras
-
Konvoi Usai Menang Futsal Berujung Petaka, 9 Pelajar Diamankan Polisi di Solo
-
Polresta Cirebon Sita 6.964 Butir Obat Keras Ilegal, Tiga Pengedar Ditangkap
-
Kolaborasi Kampus dan Industri Dinilai Penting untuk Bangun Kota Berkelanjutan
-
Mahasiswa Tersangka Tabrak Lari di Bandung Mengemudi dalam Kondisi Mabuk
-
Kasus Hafalan Ad-Dhuha Berhadiah Miras di Sound Project Dilimpahkan ke Polda Metro Jaya
-
Pelaku Pemerkosaan dan Pembunuhan di Tangerang Beraksi Saat Mabuk, Pintu Rumah Korban Tak Terkunci