Suara.com - Dewan perwakilan rakyat Amerika Serikat pada Rabu (28/9/2016) menolak veto Presiden Barack Obama terhadap rancangan undang-undang yang bisa memberikan hak bagi keluarga korban serangan 11 September 2001 untuk menggugat pemerintah Arab Saudi.
Sebanyak 348 anggota Konggres AS menolak veto Obama dan hanya 76 yang menyetujuinya dalam pemungutan suara pada Rabu. Beberapa jam sebelumnya 99 anggota Senat AS juga menolak veto Obama dan hanya satu anggota yang menyetujuinya.
Dengan hasil pemungutan suara itu maka rancangan undang-undang "Justice Against Sponsors of Terorism Act" akan disahkan menjadi undang-undang di AS. Ini merupakan pukulan besar bagi Obama dan Arab Saudi, salah satu sekutu utama AS di Timur Tengah.
Obama sebelumnya telah 11 kali memveto RUU yang diajukan parlemen AS dan semuanya berhasil. Ini pertama kalinya veto Obama ditolak, bahkan oleh para pendukung utamanya dari Partai Demokrat.
"Membatalkan sebuah veto kepresidenan bukan perkara mudah, tetapi yang penting dalam kasus ini adalah keluarga korban 9/11 diizinkan mengejar keadilan, bahkan jika upaya mereka menyebabkan ketidaknyamanan diplomatik," kata Senator Charles Schumer, salah satu politikus Demokrat paling berpengaruh di senat AS.
Schumer adalah senat dari wilayah New York, tempat serangan yang memakan korban tewas hingga 3.000 orang terjadi pada 11 September 2001. Ia bersama Senator John Coryn dari Republik, menggalang kekuatan legislasi di senat untuk menolak veto Obama tersebut.
Adapun Obama, dalam keputusannya untuk memveto RUU itu, mengatakan bahwa kepentingan perusahaan, pasukan militer, dan pemerintah AS akan terancam oleh gugatan hukum korban 11 September. Ia juga beralasan bahwa RUU itu mengancam hubungan dengan Saudi, salah satu sekutu utama AS, justru ketika dunia sedang dalam kondisi rentan.
Gedung Putih sendiri mengecam keputusan senat tersebut.
"Ini adalah hal paling memalukan yang pernah dilakukan Senat Amerika Serikat sejak 1983," kata juru bicara Gedung Putih, Josh Earnest kepada media.
Menteri Pertahanan AS, Ash Carter, juga mendesak dewan perwakilan rakyat AS untuk menerima veto Obama. Direktur badan intelijen AS, CIA, John Brennan bahkan mengeluarkan pernyataan bahwa RUU tersebut mempunyai implikasi mengerikan terhadap keamanan nasional AS.
Tak hanya pemerintah, beberapa perusahaan besar AS, seperti General Electric Co dan Dow Chemical Co, juga menolak RUU itu. Uni Eropa dan beberapa sekutu AS juga menentang RUU tersebut.
Pemerintah Arab Saudi sendiri telah membiayai lobi-lobi tingkat tinggi untuk membatalkan RUU tersebut. Tapi upaya itu tampaknya tak membuahkan hasil.
April lalu, setelah RUU itu selesai dibahas oleh komisi yudisial senal AS, Menteri Luar Negeri Arab Saudi mengancam akan menjual seluruh asetnya di AS yang bernilai hingga Rp9.900 triliun jika rancangan itu diundangkan.
Berita Terkait
-
Percakapan Rahasia Pangeran MBS ke Trump: Teruskan Perang, Hancurkan Iran
-
Arab Saudi dan UEA Diam-diam Bantu Israel dan AS Perangi Iran
-
Putra Mahkota Arab Saudi Terus Komporin Donald Trump untuk Perangi Iran
-
Arab Saudi Marah ke Iran, Singgung Serangan Rudal Kiamat ke Negara Islam
-
Iran Makin Terdesak, Negara Teluk Mulai Izinkan Militer Amerika Serikat Gunakan Pangkalan Udara
Terpopuler
- Hadir ke Cikeas Tanpa Undangan, Anies Baswedan Dapat Perlakuan Begini dari SBY dan AHY
- Peta 30 Suara Mulai Terbaca, Munafri Unggul Sementara di Musda Golkar Sulsel
- 7 Rekomendasi Bedak Tabur yang Bagus dan Tahan Lama untuk Makeup Harian
- 5 HP Murah RAM 8 GB Harga Rp1 Jutaan di Akhir Maret 2026
- Harga Mobil BYD per Maret 2026: Mulai Rp199 Jutaan, Ini Daftar Lengkapnya
Pilihan
-
Arus Balik Susulan, 14 Ribu Kendaraan Diprediksi Lewat GT Purwomartani Sabtu Ini
-
Fokus Timnas Indonesia, John Herdman Ogah Ikut Campur Polemik Paspor Dean James
-
Video Jusuf Kalla di Pesawat Menuju Iran adalah Hoaks
-
Kabais Dicopot Buntut Aksi Penyiraman Air Keras Terhadap Andrie Yunus
-
Puncak Arus Balik! 50 Ribu Orang Padati Jakarta, KAI Daop 1 Tebar Diskon Tiket 20 Persen
Terkini
-
Polemik Status Tahanan Rumah Gus Yaqut, Tersangka Korupsi Dapat Perlakuan Istimewa dari KPK?
-
Seskab Ungkap Detik-detik Prabowo Ingin Lihat Warga di Bantaran Rel: Dadakan Ingin Menyamar
-
Tanpa Lencana Presiden, Prabowo Santai Sapa Warga di Bantaran Rel Senen, Janjikan Hunian Layak
-
Eks Pejabat Keamanan AS: Eropa Hati-hati, Rudal Iran Bisa Capai Paris
-
Serangan Iran ke Israel Berlanjut: Puluhan Warga Jadi Korban, Sirene Terus Meraung
-
Iran: Ada Negara Arab yang Mau Bantu AS Kuasai Pulau Kharg
-
Belajar dari Perang ASIsrael vs Iran, Indonesia Harus Perkuat 'Character Building' dan Perang Siber
-
Remaja 20 Tahun Gugat Meta dan Youtube Gegara Kecanduan Sosmed, Dapat Ganti Rugi Rp90 M
-
Senator AS Curigai Trump di Kasus Trader Misterius yang Raup Rp800 M dalam 15 Menit
-
Geger! Niat Cari Kepiting, Nelayan di Jambi Malah Temukan Kerangka Manusia Setinggi 155 Sentimeter