Suara.com - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali menuai kecaman, setelah meminta Kamboja membayar ”utang perang” era Republik Khmer 1970-an senilai USD 500 juta atau setara Rp6,6 triliun. Nilai itu juga termasuk bunga utang.
Elizabeth Becker, jurnalis yang melakukan repotase perang dan pembantaian massal rezim Khmer tahun 1970-an, menilai AS tidak bermoral lantaran menagih utang tersebut.
“Sebab, keterlibatan AS dalam masalah Kamboja serta melibatkan negara itu dalam perang Vietnam hingga kekinian masih terbilang kontroversial. AS dulu berpikir bisa menang kalau melibatkan Kamboja dalam agresi di Vietnam. Anda bisa nilai, apakah penagihan utang itu bermoral atau tidak,” tegas Becker kepada Al Jazeera, Selasa (14/3/2017).
Penagihan utang itu sendiri menimbulkan kemarahan rakyat dan pemerintah Kamboja. Perdana Menteri Kamboja Hun Sen bahkan menyebut uang yang diberikan AS kepada rezim Khmer dulu sebagai ”duit kotor”.
”Dulu, AS memberikan banyak uang untuk Kamboja agar mau terlibat perang Vietnam. Uang itu diklaim mereka untuk membeli bahan pangan dan jaminan sosial penduduk. Tapi sejarah membuktikan, uang itu justru untuk membeli senjata. Apakalah layak AS menagih utang ’berlumur darah’ itu?” tegas Hun Sen.
Ia menegaskan, gara-gara intervensi AS, Kamboja menjadi negeri bermasalah dalam aspek penegakan hak asasi manusia dan kemiskinan.
Hun Sen mengungkapkan, dirinya pernah meminta Presiden Trump untuk menjadwalkan ulang pembayaran utang itu. Namun, pemerintah Trump menolak.
“Setelah AS membombardir Kamboja dan Vietnam, apakah kami pernah menagih ganti rugi atas seluruh kerusakan yang ada? Tidak! Seharusnya mereka sekarang berpikir untuk bertanggungjawab atas semua itu,” tandasnya.
Untuk diketahui, pada periode 1972-1974, AS melalui departemen pertanian menganggarkan dana USD 274 untuk membeli sejumlah hasil pertanian yang diproduksi Republik Khmer. Namun, banyak sejarawan mengungkap dana itu sebenarnya untuk pembelian senjata prajurit Khmer yang didukung AS guna menambah kekuatan di palagan Vietnam.
Baca Juga: Diminta Ungkap Dirut Pertamina Baru, Ini Reaksi Menteri Rini
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Mobil Toyota Bekas yang Mesinnya Bandel untuk Pemakaian Jangka Panjang
- Pajak Rp500 Ribuan, Tinggal Segini Harga Wuling Binguo Bekas
- 9 Sepatu Adidas yang Diskon di Foot Locker, Harga Turun Hingga 60 Persen
- 10 Promo Sepatu Nike, Adidas, New Balance, Puma, dan Asics di Foot Locker: Diskon hingga 65 Persen
- 5 Rekomendasi Sepatu Lari Kanky Murah tapi Berkualitas untuk Easy Run dan Aktivitas Harian
Pilihan
-
Petani Tembakau dan Rokok Lintingan: Siasat Bertahan di Tengah Macetnya Serapan Pabrik
-
Bos Bursa Mau Diganti, Purbaya: Tangkap Pelaku Goreng Saham, Nanti Saya Kasih Insentif!
-
Omon-omon Purbaya di BEI: IHSG Sentuh 10.000 Tahun Ini Bukan Mustahil!
-
Wajah Suram Kripto Awal 2026: Bitcoin Terjebak di Bawah $100.000 Akibat Aksi Jual Masif
-
Tahun Baru, Tarif Baru: Tol Bandara Soekarno-Hatta Naik Mulai 5 Januari 2026
Terkini
-
Bareskrim Bongkar Jaringan Judi Online Internasional, Puluhan Tersangka Ditangkap di Berbagai Kota
-
Ajang 'Pajang CV' Cari Jodoh: Fenomena Cindo Match di Mall of Indonesia
-
Hujan Deras Bikin 10 RT dan 3 Ruas Jalan di Jakarta Tergenang
-
Gus Yahya Bantah Tunjuk Kembali Gus Ipul sebagai Sekjen PBNU
-
Longsor Akibat Kecelakaan Kerja di Sumedang: Empat Pekerja Tewas
-
Polisi Tembakkan Gas Air Mata Bubarkan Tawuran di Terowongan Manggarai
-
Hujan Deras Genangi Jakarta Barat, Sejumlah Rute Transjakarta Dialihkan
-
Alasan Kesehatan, 5 Terdakwa Korupsi Pajak BPKD Aceh Barat Dialihkan Jadi Tahanan Kota
-
Mulai Berlaku 2 Januari 2026, Ini 5 Kebiasaan yang Kini Bisa Dipidana oleh KUHP Nasional
-
Misteri Satu Keluarga Tewas di Tanjung Priok, Ini 7 Fakta Terkini