- Pakistan mendeklarasikan perang terbuka terhadap Afghanistan akhir Februari 2026 dipicu oleh serangan TTP.
- TTP didanai rutin oleh Taliban Afghanistan, serta melalui kriminalitas sistematis dalam negeri Pakistan.
- Pendanaan TTP juga berasal dari donasi kedok lembaga sosial dan dugaan dukungan finansial dari India.
Suara.com - Eskalasi konflik di perbatasan Pakistan dan Afghanistan kini mencapai titik didih yang sangat mengkhawatirkan.
Pada akhir Februari 2026, Pakistan secara resmi mendeklarasikan perang terbuka terhadap Afghanistan setelah serangkaian serangan udara menghantam Kabul dan Kandahar.
Menteri Pertahanan Pakistan, Khawaja Asif, menegaskan bahwa situasi ini bukan lagi sekadar gesekan perbatasan biasa, melainkan konfrontasi militer penuh.
Di balik meledaknya perang ini, ada satu nama yang terus disebut sebagai pemicu utama: Tehreek-e-Taliban Pakistan atau TTP.
Berdasar keterangan yang telah Suara.com rangkum dari situs resmi United Nations Security Council, Afghanistan International, dan South Asia Terrorism Portal (SATP), TTP bukanlah pemain baru dalam peta konflik Asia Selatan.
Aliansi kelompok militan yang terbentuk sejak 2007 ini memiliki tujuan utama menggulingkan pemerintah Pakistan untuk mendirikan negara berdasarkan interpretasi hukum mereka sendiri.
Pakistan menuding rezim Taliban di Afghanistan memberikan perlindungan dan tempat aman bagi pejuang TTP untuk melancarkan serangan lintas batas.
Namun, menggerakkan organisasi sebesar TTP dengan estimasi 30.000 hingga 35.000 anggota tentu membutuhkan dana yang sangat besar. Pertanyaannya, dari mana aliran dana segar tersebut berasal?
Salah satu sumber pendanaan yang paling mencolok berasal dari "saudara" mereka sendiri. Laporan terbaru menyebutkan bahwa Taliban Afghanistan memberikan dukungan finansial rutin kepada TTP.
Baca Juga: Kenapa Pakistan Deklarasikan Perang ke Afghanistan? Ini 5 Faktanya
Aliran dana ini diperkirakan mencapai sekitar tiga juta Afghanis atau setara 43.000 USD setiap bulannya yang diberikan khusus untuk keluarga pemimpin TTP, Noor Wali Mehsud.
Uang ini diduga kuat digunakan untuk membeli persenjataan, membangun infrastruktur militer, hingga mengorganisir serangan mematikan ke wilayah Pakistan.
Selain dukungan dari negara tetangga, TTP sangat mahir memanfaatkan celah ilegal di dalam negeri Pakistan. Mereka menjalankan praktik kriminal sistematis mulai dari perampokan bank, penyelundupan kayu dan barang antik, hingga perdagangan narkoba seperti opium dan heroin melalui rute Karachi.
Belum lagi praktik penculikan pejabat sipil dan militer demi uang tebusan yang nilainya bisa mencapai jutaan dolar. Di wilayah suku-suku perbatasan, TTP bahkan sempat memberlakukan "pajak" paksa kepada pengusaha transportasi dan pemilik bisnis lokal untuk membiayai operasional mereka.
Taktik pendanaan TTP juga menyusup ke sektor sosial melalui organisasi amal dan non-profit (NPO) sebagai kedok.
Mereka menggunakan lembaga-lembaga seperti Al-Furqan Foundation dan Falah-e-Insaniat Foundation untuk mengumpulkan donasi dari masyarakat, terutama saat momen hari raya keagamaan atau bencana alam.
Berita Terkait
-
Kenapa Pakistan Deklarasikan Perang ke Afghanistan? Ini 5 Faktanya
-
Pakistan Bombardir Kabul, Konflik dengan Afghanistan Memasuki Fase Perang Terbuka
-
Perang! Pakistan Klaim Serangannya Menewaskan 133 Tentara Afghanistan
-
Pesawat Pakistan Serang Afghanistan, Taliban Siapkan Serangan Balasan
-
Prabowo Terima Delegasi Pakistan, Bahas Investasi hingga Kerja Sama Pertahanan
Terpopuler
- 3 HP Android dengan Kualitas Kamera Selevel iPhone 17 Pro Max, Cocok untuk Bikin Konten
- 3 Sepatu New Balance Tanpa Tali, Bantalan Nyaman untuk Jalan Kaki Jauh
- Gugurkan Klaim Santriwati 'Hamil Tanpa Hubungan Badan', Polisi Tangkap Kiai di Pekalongan
- Persija Sudah Temukan Pengganti Mauricio Souza, Target Juara Super League Musim Depan
- 5 Sepatu Adidas Tanpa Tali yang Serbaguna, Anti Pegal Dipakai Jalan Seharian
Pilihan
-
Kebakaran RSUD Syekh Yusuf Gowa, Begini Kondisi Terkini Pasien
-
Israel Bombardir Lebanon, 74 Warga Jadi Korban Satu Keluarga Tewas Saat Kabur
-
AS-Iran Kembali Sepakati Gencatan Senjata, Harga Minyak Stabil di USD 90
-
Skandal! Jaksa AS Selidiki FIFA, Penjualan Tiket Piala Dunia 2026 Diduga Bermasalah
-
Live 'Pocong Jadi-Jadian' Hebohkan Warga Sragen, 3 Pelajar Diamankan Polisi
Terkini
-
Prabowo Akhiri Kunjungan Kenegaraan di Prancis, Bertolak Kembali ke Jakarta
-
Mangkir dari Pemeriksaan Gas 'Whip Pink', Influencer ZNM dan Dua Saksi Lain Dijemput Paksa Polisi
-
Dulu Diminta Balik ke Barak, Ray Rangkuti Kritik TNI Kini 'Kepung' Ranah Sipil
-
Modus Pungli dan Titipan dalam SPMB 2026, dari Uang Bangku hingga Rekayasa Domisili
-
Tragedi Jip Wisata Bromo: Rem Blong di Tikungan Letter S Wonokitri, Dua Orang Tewas
-
Bahaya Gas N2O Whip Pink: Konsumen Alami Lumpuh Temporer hingga Kerusakan Saraf Tepi
-
Polisi Ungkap Kronologi dan Penyebab Sementara Ledakan PT MCCI Cilegon
-
Polemik Kurban Uang Negara: Dasar Hukum, Pandangan MUI, dan Alasan Pemerintah
-
Geger Eks Pegawai Sudin LH Jakpus Tewas Usai Diduga Lompat dari Jembatan Cawang
-
Gen Z Lebih Berani dan Tak Kenal Takut Dibanding Generasi Orde Baru