Suara.com - Calon wakil gubernur Jakarta nomor urut dua Djarot Saiful Hidayat menanggapi sindiran calon wakil gubernur nomor tiga Sandiaga Uno perihal kasus dugaan penggelapan hasil penjualan tanah. Sandiaga menyindir Djarot tidak mengerti duduk perkara kasus yang dituduhkan Sandiaga itu sehingga sayang sekali kalau ikut-ikutan berkomentar. Sandiaga menekankan kasus tersebut merupakan pertikaian dua orang super kaya dan berpengaruh.
"Jelas nggak ngerti, kan, bukan kami yang berseteru. Maka supaya semua orang mengerti ya datang dong. Pak Djarot angkat topi, apresiasi atas perseteruan dua orang super kaya. Berarti memang ada masalah kalau seperti itu," ujar Djarot di Cipayung, Jakarta Timur, Rabu (22/3/2017)
Djarot menyindir Sandiaga karena tidak bersedia memenuhi panggilan polda Metro Jaya untuk dimintai klarifikasi pada Selasa (21/3/2017). Lantas, Djarot membandingkan sikap Sandiaga dengan sikap Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) yang berani menghadapi pross perkara dugaan penodaan agama.
Tapi, Djarot tetap mengapresiasi integritas Sandiaga sebagai pengusaha.
"Angkat topi Pak Sandiaga sukses punya integritas sehingga menjadi pengusaha yang super kaya. Ditunggu tunggu pertarungannya antara dua orang kaya itu," kata Djarot.
Tim sukses Ahok-Djarot ikut menanggapi sindiran Sandiaga kepada Djarot.
"Tidak ada maksud Pak Djarot sok tahu urusan hukum Mas Sandi. Publik juga nggak ingin tahu apakah kasus ini urusan perseteruan dua, tiga atau bahkan 10 orang super kaya di sekitar Mas Sandi. Silakan jelaskan di kantor polisi," ujar Antoni.
Antoni mengatakan Djarot hanya menyarankan agar proses hukum dihormati dan tidak menggunakan alasan padatnya jadwal kampanye untuk meminta pengusutan kasus ditunda sampai usai pilkada Jakarta putaran kedua.
"Dalam konteks ini Sandi bisa belajar dari Ahok (Basuki Tjahaja Purnama) yang tidak pernah sekalipun mangkir dalam proses hukum bahkan pernah punya inisiatif untuk mendatangi kepolisian tanpa dipanggil," kata Antoni.
Sandiaga mengatakan di balik dugaan kasus penggelapan hasil penjualan lahan yang dituduhkan kepadanya ada perseteruan orang super kaya.
"Itu pertikaian orang yang sangat super kaya. Orang super kaya ini memiliki koneksi yang kuat, dia punya kuasa, dan punya kemampuan menggerakkan," kata Sandiaga di Jalan Bangka Buntu II, Mampang, Jakarta Selatan.
Siapa orang super kaya dan berpengaruh tersebut, Sandiaga tak mau menyebutkannya.
Sandiaga dan rekan bisnisnya, Andreas Tjahyadi, dilaporkan pengusaha Djoni Hidayat melalui Fransiska Kumalawati Susilo ke Polda Metro Jaya pada Rabu (15/3/2017).
Sandiaga tidak memenuhi agenda pemeriksaan, kemarin, karena sedang ada agenda yang lain.
"Saya ingin mengimbau, yuk kita semua balikkan pilkada ini. Pikirkan warga yang tentunya menginginkan solusi terhadap masalah yang dihadapi," ujar Sandiaga.
Menurut Sandiaga banyak pihak yang punya agenda terselubung dengan memanfaatkan momentum pilkada.
"Seperti dua orang super kaya ini, ingin bicara tentang hal yang lain. Tentang kantongnya mereka sendiri. Tetapi, saya tidak mau terpengaruh, saya ingin fokus untuk menghadirkan solusi," tutur Sandiaga.
Pasangan Anies Baswedan menegaskan laporan kasus dugaan penggelapan dana hasil penjualan sebidang tanah taun 2012 itu tidak ada hubungan dengannya.
"Bisa dicek konstruksi hukumnya, cek ke tim hukum saya. Saya tidak terlibat sama sekali. Biar tim hukum saja yang menceritakan ini. Tapi ini indikasi ya, politisasi daripada sebuah kasus yang sama sekali nggak ada, bisa dibawa ke sebuah kontestasi yang jadi perhatian bangsa," kata Sandiaga.
"Yuk, kita sama-sama jangan gunakan kekuasaanlah. Yuk kita gunakan untuk terus mempersatukan warga. Sebenarnya itu isunya pertikaian antara orang yang kaya banget," Sandiaga menambahkan.
Berita Terkait
-
Jokowi Bakal Keliling Indonesia, Djarot PDIP: Silakan, Bagus Kalau Sambil Tunjukkan Ijazah Asli
-
Megawati Beri Hard Warning ke Kader PDIP: Jangan Korupsi, Turun ke Bawah!
-
Rakernas I 2026: PDIP Bakal Umumkan Sikap Resmi Terkait Wacana Pilkada di Akhir Acara
-
PDIP Pasang Badan untuk Pandji, Djarot: Negara Jangan Mudah Tersinggung Oleh Kritik
-
Dedi Mulyadi Akui Marketnya Makin Luas Gara-Gara Sering Ngonten, Mau Nyapres?
Terpopuler
- Mengenal Lisda Cancer, Perwira Tinggi Polri yang Pensiun Tak Lama Usai Jadi Brigjen
- Pelatih FC Twente Usir Mees Hilgers: Saya Tak Berharap Dia Kembali ke Klub!
- PIP Termin II 2026 Kapan Cair? Ini Jadwal Lengkap dan Cara Ceknya agar Dana Tidak Hangus!
- Skenario Timnas Indonesia Jika Imbang atau Kalah dari Vietnam di Piala AFF 2026
- Sunscreen Apa yang Bagus untuk Menghilangkan Flek Hitam di Wajah? Ini 3 Rekomendasi sesuai Review
Pilihan
-
Aktris Sali Irsalina Dianiaya Pacar di Fatmawati, Mata Lebam Hingga Diselamatkan Polantas
-
Dipilih Lewat Seleksi Ketat, Bank Dunia Kembali Tunjuk Sri Mulyani Duduki Jabatan Strategis
-
Pagar Besi di Mal-mal, Benarkah untuk Antisipasi Plot Kerusuhan Agustus?
-
Desa Kecil, Mimpi Mendunia: Ketika Kolaborasi Mengubah Wajah Kemiren
-
Kejagung Geledah Rumah Eks Jampidsus Febrie yang Pernah Dijaga TNI
Terkini
-
Menyoal PHK 178 Buruh Garmen di Cimahi, Dedi Mulyadi Minta Pekerja Fleksibel Ikuti Peta Industri
-
Kronologi Misteri Jasad Mutilasi dalam Karung di Pancoran Mas Depok
-
Final Piala Presiden 2026 Antara Persib vs Persebaya Digelar Tanpa Penonton, Ini Alasannya
-
Potongan Kaki Masih Dicari, Polisi Buru Motif Pelaku Mutilasi Pria Tanpa Identitas di Depok
-
Lawan Kejagung dan Polri, Sidang Perdana Praperadilan Febrie Digelar Usai HUT RI
-
Waktu Istirahat Minim Jelang Final, Pelatih Persib: Mari Kita Lihat Siapa yang Bisa Bertahan
-
Gubernur Andra Soni Sebut Gedung Baru DPD RI Rp4,1 M Kebutuhan Daerah, Bukan Senator
-
Pelaku Mutilasi Depok Semula Korban? Polisi Diminta Uji Klaim Percobaan Pelecehan
-
Soroti Kasus 46 Juta Obat Ilegal di Tangsel, DPR: Bongkar Mata Rantai Distribusi Sampai ke Akar!
-
BRI Perkuat Sinergi dengan Ditjenpas DIY Melalui Optimalisasi Layanan Pemasyarakatan