- PDIP membela konten komedi "Mens Rea" Pandji Pragiwaksono sebagai ekspresi kritik sosial yang sah dalam demokrasi.
- Ketua DPP PDIP, Djarot Saiful Hidayat, menyatakan ekspresi tersebut dilindungi UUD 1945 dan UU HAM.
- PDIP mendesak aparat penegak hukum bersikap arif, menjadikan hukum pidana sebagai pilihan terakhir terhadap kritik.
Suara.com - Di tengah riuhnya perbincangan publik mengenai konten komedi Pandji Pragiwaksono yang bertajuk "Mens Rea", PDI Perjuangan (PDIP) secara mengejutkan pasang badan.
Partai berlambang banteng ini menilai apa yang disampaikan Pandji Pragiwaksono adalah bentuk ekspresi kritik dan refleksi sosial yang sah dalam koridor demokrasi.
Ketua DPP PDI Perjuangan, Djarot Saiful Hidayat, menegaskan bahwa materi komedi tersebut harus dipahami dalam konteksnya sebagai sebuah satire dan pendapat pribadi.
Menurutnya, selama disampaikan tanpa ajakan kekerasan, ekspresi semacam itu adalah bagian vital dari percakapan publik yang sehat.
"Dalam negara demokratis, ekspresi semacam ini adalah bagian dari percakapan publik yang sah dan dilindungi oleh konstitusi. Penilaian hukum terhadap niat batin (mens rea) dalam ekspresi pendapat tidak boleh dilepaskan dari konteks, tujuan, dan dampaknya secara nyata di masyarakat," kata Djarot dalam keterangannya di Jakarta, Jumat (9/1/2026).
Djarot tidak hanya berbicara tanpa dasar. Ia memaparkan sejumlah fondasi hukum yang menjadi benteng pertahanan kebebasan berekspresi di Indonesia.
Ia mengingatkan bahwa Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia (UUD NRI) Tahun 1945 secara eksplisit menjamin hak setiap warga negara untuk menyatakan pendapat.
Konstitusi sebagai hukum tertinggi memberikan hak kepada setiap orang untuk bebas mengeluarkan pikiran dan pendapat, baik secara lisan maupun tulisan. Hak untuk berkomunikasi dan menyebarkan informasi melalui berbagai sarana juga dijamin penuh.
Bagi Djarot, jaminan ini adalah pilar utama demokrasi yang tidak boleh dikebiri oleh penafsiran hukum yang kaku dan represif.
Baca Juga: Menkum Buka Suara Soal Kasus Pandji Pragiwaksono: Cek Dulu KUHP Baru, Penuhi Unsur Gak?
Perlindungan terhadap kebebasan berekspresi tidak berhenti di situ. Djarot juga merujuk pada Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia (HAM). UU ini secara spesifik mengakui hak setiap individu untuk memiliki, menyampaikan, dan menyebarluaskan pendapat sesuai dengan hati nuraninya.
Dalam pandangan PDIP, negara dan aparaturnya justru memiliki kewajiban untuk melindungi hak tersebut. Selama ekspresi itu dijalankan secara bertanggung jawab dan tidak melanggar batasan konstitusional yang jelas, seperti hasutan untuk melakukan kekerasan atau menyebar kebencian, maka ia harus dilindungi.
Semangat Reformasi yang tertuang dalam Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1998 tentang Kemerdekaan Menyampaikan Pendapat di Muka Umum juga menjadi landasan argumen Djarot. UU ini menempatkan kebebasan berpendapat sebagai syarat mutlak bagi terwujudnya kehidupan demokrasi yang sehat.
Oleh karena itu, Djarot memperingatkan agar pendekatan pidana terhadap ekspresi kritik—terlebih yang dibalut dalam medium seni dan komedi—harus menjadi pilihan terakhir (ultimum remedium).
Penggunaan hukum pidana secara berlebihan dinilai sangat berbahaya karena berpotensi menciptakan iklim ketakutan di tengah masyarakat, membungkam suara-suara kritis, dan pada akhirnya menurunkan kualitas demokrasi Indonesia.
“Demokrasi hidup dari perbedaan pandangan, kritik, dan kebebasan berpikir. Negara hukum yang demokratis tidak boleh tergelincir menjadi negara yang mudah tersinggung oleh ekspresi warganya sendiri,” ujar Djarot sebagaimana dilansir Antara.
Berita Terkait
-
'Rezeki Anak Saleh' Sindiran Pandji Pragiwaksono soal Tambang yang Bikin NU dan Muhammadiyah Murka?
-
Menkum Buka Suara Soal Kasus Pandji Pragiwaksono: Cek Dulu KUHP Baru, Penuhi Unsur Gak?
-
Kasus Mens Rea Berlanjut, Polisi Segera Klarifikasi Pandji Pragiwaksono
-
Duplik Laras Disambut Tepuk Tangan, Kuasa Hukum: Tak Ada Mens Rea, Ini Kriminalisasi!
-
Isi Flashdisk Penjerat Pandji Pragiwaksono Dibedah Polisi, Ada Rekaman Acara 'Mens Rea'
Terpopuler
- 5 Sampo Penghitam Rambut di Indomaret, Hempas Uban Cocok untuk Lansia
- 5 Mobil Kecil Bekas yang Nyaman untuk Lansia, Legroom Lega dan Irit BBM
- 7 Mobil Bekas untuk Grab, Mulai Rp50 Jutaan: Nyaman, Irit dan Tahan Lama!
- 5 Mobil Suzuki dengan Pajak Paling Ringan, Aman buat Kantong Pekerja
- 5 Mobil Bekas Rekomendasi di Bawah 100 Juta: Multiguna dan Irit Bensin, Cocok Buat Anak Muda
Pilihan
-
Rupiah Terkapar di Level Rp16.819: Kepercayaan Konsumen Lesu, Fundamental Ekonomi Jadi Beban
-
Kala Semangkok Indomie Jadi Simbol Rakyat Miskin, Mengapa Itu Bisa Terjadi?
-
Emiten Ini Masuk Sektor Tambang, Caplok Aset Mongolia Lewat Rights Issue
-
Purbaya Merasa "Tertampar" Usai Kena Sindir Prabowo
-
Darurat Judi Online! OJK Blokir 31.382 Rekening Bank, Angka Terus Meroket di Awal 2026
Terkini
-
60 Ton Sampah Menggunung, Pemprov DKI Janji Pasar Induk Kramat Jati Bersih dalam 5 Hari
-
Sinyal Bahaya Demokrasi, Lakso Anindito Sebut KUHP Baru Berpotensi Hidupkan Rezim Otoritarian Orba
-
KPK Sempat Terbelah dan Ragu Jadikan Yaqut Tersangka Korupsi Haji?
-
Lakso Anindito Prediksi Gelombang Praperadilan Koruptor Akibat KUHP Baru
-
Rumah Yaqut 'Dikepung' Aparat, Tamu Diperiksa Ketat Usai Jadi Tersangka Korupsi Haji
-
BNI Hadirkan agen46 hingga Pelosok Kota Bima, Perluas Inklusi Keuangan
-
Indonesia Terpilih jadi Presiden Dewan HAM PBB, Amnesty International Indonesia: Kebanggaan Semu!
-
KPK Bongkar Alasan Jerat Eks Menag Yaqut: 'Permainan' Kuota Haji Tambahan Jadi Pemicu
-
Sinyal Keras KPK, Eks Menag Yaqut Secepatnya Ditahan di Kasus Korupsi Haji
-
Tanggapi Soal Pilkada Langsung dan Tidak Langsung, Menko Yusril: Keduanya Konstitusional