Suara.com - Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta menemukan kasus beberapa penolakan terhadap imunisasi Measles Rubella di sekolah swasta. Tetapi, setelah dilakukan pendekatan lagi, akhirnya mereka menerima imunisasi.
"Negeri nggak ada, swasta ada beberapa, tapi beberapa juga sudah oke (imunisasi)," kata Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta Koesmedi Priharto di Sekolah Menengah Pertama Negeri 77, Cempaka Putih, Jakarta Pusat, Kamis (3/8/2017).
Koesmedi mengatakan mereka menolak imunisasi MR karena belum mendapatkan sosialisasi secara baik.
"Karena mereka belum tersosialisasikan. Yang sering menolak kan biasanya orang tua karena belum tersosialisasi dengan baik. Kita jelaskan pada orangtuanya. Ini bahaya. Kalau kamu kena itu kan cacat bisa buta, nggak dengar atau gangguan katup jantung. Kalau WHO bilang begitu, berarti ada masalah di kita," tutur dia.
Data Dinas Kesehatan Jakarta tahun 2016 menunjukkan dari 5.100 kasus, 35 positif terkena Rubella dan 17 persen positif terkena campak.
Di sejumlah daerah, di antaranya Yogyakarta, sejumlah sekolah menolak imunisasi Measles Rubella karena menilai haram.
Wali Kota Jakarta Pusat Mangara Pardede mengatakan berdasarkan fatwa Majelis Ulama Indonesia imunisasi MR dibolehkan karena bertujuan untuk meningkatkan kekebalan tubuh.
"Fatwa MUI, imunisasi diperbolehkan sebagai ikhtiar kekebalan tubuh dan imunitas, dalam hal tidak imunisasi menyebabkan kematian dan mengancam jiwa, maka imunisasi hukumnya wajib. Artinya dari segala aspek seluruhnya sudah dikaji," kata Mangara.
Pagi tadi, Suku Dinas Pendidikan Wilayah 2 Jakarta Pusat menyelenggarakan imunisasi campak di Sekolah Menengah Pertama Negeri 77.
Kepala Suku Dinas Pendidikan Wilayah 2 Jakarta Pusat Ida Subaedah mengatakan di wilayahnya tidak ada penolakan terhadap imunisasi Measles Rubella. Sebab, sebelum melaksanakan program, terlebih dahul gencar sosialisasi ke lapangan.
"Alhamdulillah di wilayah saya (Jakarta Pusat 2) nggak ada yang menolak semua menerima," kata Ida
Sosialisasi selain dilakukan lewat petugas, juga lewat penerbitan edaran.
Tetapi kalaupun ada sekolah yang menolak, kata dia, tak akan sanksi. Sebaliknya, petugas akan semakin intensif melakukan pendekatan kepada guru dan orangtua mengenai pentingnya imunisasi Measles Rubella.
"Sebenernya kalau sanksi nggak ada, cuma kita melalui pendekatan dan menjelaskan kenapa seperti itu, tapi ini kan tidak ada pemaksaan, kebetulan kan nggak ada di wilayah saya jadi mungkin secara kusus solusinya seperti apa bukan ranah saya untuk menyampaikan. Tapi jika seandainya terjadi di wilayah saya, kami akan sosialisasi tidak hanya kepada guru tapi kepada orangtua," kata dia.
Di Jakarta Pusat, jumlah sekolah yang melakukan imunisasi MR meliputi 126 SD dan 19 SMP.
Tag
Terpopuler
- Rumor Cerai Nia Ramadhani dan Ardi Bakrie Memanas, Ini Pernyataan Tegas Sang Asisten Pribadi
- 5 Sepeda Murah Kelas Premium, Fleksibel dan Awet Buat Goweser
- 5 HP Murah RAM Besar di Bawah Rp1 Juta, Cocok untuk Multitasking
- 5 City Car Bekas yang Kuat Nanjak, Ada Toyota hingga Hyundai
- Link Epstein File PDF, Dokumen hingga Foto Kasus Kejahatan Seksual Anak Rilis, Indonesia Terseret
Pilihan
-
Ivar Jenner Gabung Dewa United! Sudah Terbang ke Indonesia
-
3 Emiten Lolos Pemotongan Kuota Batu Bara, Analis Prediksi Peluang Untung
-
CV Joint Lepas L8 Patah saat Pengujian: 'Definisi Nama Adalah Doa'
-
Ustaz JM Diduga Cabuli 4 Santriwati, Modus Setor Hafalan
-
Profil PT Sanurhasta Mitra Tbk (MINA), Saham Milik Suami Puan Maharani
Terkini
-
Warga Keluhkan TransJakarta Sering Telat, Pramono Anung Targetkan 10 Ribu Armada di 2029
-
Tragis! 5 Fakta Kasus KDRT Suami Bakar Istri di Padang Lawas Utara, Korban Disiram 1,5 Liter Bensin
-
Wali Kota Semarang Dorong UMKM Lokal Naik Kelas Lewat Produk Craft
-
6 Fakta Penemuan Ribuan Potongan Uang di Bekasi: Dari Lahan Milik Warga hingga Penelusuran BI
-
Respons Cepat Kemensos, Bantuan dan Dapur Umum Disiapkan untuk Korban Bencana di Tegal
-
Untar Hormati Keputusan Keluarga Lexi Valleno Havlenda, Tegaskan Komitmen Penyelesaian
-
Polisi Ungkap Pola Pelaku Tawuran di Jakarta: Saling Tantang di Medsos hingga Konsumsi Obat Keras
-
Fakta Baru! Siswa SMP Pelaku Molotov di Kalbar Satu Komunitas dengan Pelaku Ledakan SMAN 72 Jakarta
-
Berkaca dari Ledakan SMAN 72 dan Molotov Kalbar, Pengamat: Monster Sesungguhnya Bukan Siswa
-
Di Balik Polemik: Mengapa Reformasi Polri di Bawah Presiden Dipilih Komisi III DPR?