Ketua Umum Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia Jimly Asshiddiqie [suara.com/Nikolaus Tolen]
Ketua Umum Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia Jimly Ashiddiqie mendesak kepolisian untuk mengusut tuntas kasus pembakaran masjid Muhammadiyah di Desa Sangso, Kecamatan Samalanga, Kecamatan Bireuen, Aceh, Selasa (17/10/2017), malam.
"Saya minta kepolisian untuk segera memproses hukum siapapun dia, tidak boleh dibenarkan dan didiamkan. Dan ini berlaku semua jenis, semua macam dan corak dari rumah ibadah termasuk rumah ibadah kelompok sempalan atau yang dianggap sesat harus dijaga, tidak boleh dirusak, apalagi masjid," kata Jimly di gedung pusat kegiatan ICMI, Jalan Proklamasi, Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (18/10/2017).
Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi juga meminta pemimpin agama turut berpartisipasi untuk meredakan ketegangan di masyarakat.
"Ini juga fenomena yang penting harus diperhatikan, maka penting tokoh pemimpin itu meredakan setiap potensi ketegangan. Itu penting. Jadi jangan mempertonkan konflik terus, sehingga orang di bawah ikut-ikutan," katanya.
Menurut Jimly pecahnya persoalan semacam itu terjadi karena potensi konflik tidak dikelola dengan baik.
"Jadi ini karena potensi konflik tidak dikelola. Makanya saya berharap kemarin saat dialog itu, kita mengimbau supaya hubungan antar umat beragama diperbaiki dan dimulai dari tokoh-tokoh. Jangan hanya berpikir pendekatan benar salah dalam hubungan antar agama. Tapi juga harus kita lihat pelajaran baik dan buruk," katanya.
Menurut Jimly apabila setiap agama berbicara siapa yang benar dan yang salah, maka tidak ada titik temu.
"Maksudnya, dalam agama-agama itu kalau kita berbicara benar salah, ya tidak ketemu. Ya sesuai dengan keyakinan yang benar, ya agama kita masing-masing. Tapi kan kita juga berbicara hal-hal l lain terkait baik-buruk," kata Jimly.
Jimly berharap perbedaan keyakinan menjadi berkah. Dia berharap semua pihak saling belajar.
"Jadi kita baik untuk saling mempelajari apa yang sama di antara kita dan apa yang berbeda.Tapi yang beda jangan disama-samakan dan yang sama jangan dibeda-bedakan," katanya.
"Dengan cara demikian kita bisa saling mengerti hubungan satu dengan yang lain. Dan itulah dialog yang diperlukan untuk meredakan ketegangan. Jadi saya rasa bangsa kita dikenal sangat plural, maka kuncinya adalah toleransi satu dengan yang lain," Jimly menambahkan.
"Saya minta kepolisian untuk segera memproses hukum siapapun dia, tidak boleh dibenarkan dan didiamkan. Dan ini berlaku semua jenis, semua macam dan corak dari rumah ibadah termasuk rumah ibadah kelompok sempalan atau yang dianggap sesat harus dijaga, tidak boleh dirusak, apalagi masjid," kata Jimly di gedung pusat kegiatan ICMI, Jalan Proklamasi, Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (18/10/2017).
Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi juga meminta pemimpin agama turut berpartisipasi untuk meredakan ketegangan di masyarakat.
"Ini juga fenomena yang penting harus diperhatikan, maka penting tokoh pemimpin itu meredakan setiap potensi ketegangan. Itu penting. Jadi jangan mempertonkan konflik terus, sehingga orang di bawah ikut-ikutan," katanya.
Menurut Jimly pecahnya persoalan semacam itu terjadi karena potensi konflik tidak dikelola dengan baik.
"Jadi ini karena potensi konflik tidak dikelola. Makanya saya berharap kemarin saat dialog itu, kita mengimbau supaya hubungan antar umat beragama diperbaiki dan dimulai dari tokoh-tokoh. Jangan hanya berpikir pendekatan benar salah dalam hubungan antar agama. Tapi juga harus kita lihat pelajaran baik dan buruk," katanya.
Menurut Jimly apabila setiap agama berbicara siapa yang benar dan yang salah, maka tidak ada titik temu.
"Maksudnya, dalam agama-agama itu kalau kita berbicara benar salah, ya tidak ketemu. Ya sesuai dengan keyakinan yang benar, ya agama kita masing-masing. Tapi kan kita juga berbicara hal-hal l lain terkait baik-buruk," kata Jimly.
Jimly berharap perbedaan keyakinan menjadi berkah. Dia berharap semua pihak saling belajar.
"Jadi kita baik untuk saling mempelajari apa yang sama di antara kita dan apa yang berbeda.Tapi yang beda jangan disama-samakan dan yang sama jangan dibeda-bedakan," katanya.
"Dengan cara demikian kita bisa saling mengerti hubungan satu dengan yang lain. Dan itulah dialog yang diperlukan untuk meredakan ketegangan. Jadi saya rasa bangsa kita dikenal sangat plural, maka kuncinya adalah toleransi satu dengan yang lain," Jimly menambahkan.
Komentar
Berita Terkait
-
Jimly Asshiddiqie Usul 16 UU Kepemiluan Disatukan Lewat Omnibus Law
-
Mulai Bahas Revisi UU Pemilu, Komisi II DPR Hadirkan Mahfud MD hingga Refly Harun ke Senayan
-
Tinggal Lapor ke Prabowo, Komisi Reformasi Polri: Ada 8 Perpol dan 24 Perkap Harus Direvisi
-
Jimly Mau Bisik-bisik ke Prabowo, Minta Waktu Lapor Hasil Komisi Percepatan Reformasi Polri
-
Antisipasi Risiko Fraud, Asosiasi Investigator Internal Resmi Dibentuk
Terpopuler
- Ogah Bayar Tarif Selat Hormuz ke Iran, Singapura: Ingat Selat Malaka Lebih Strategis!
- Harga Minyak Dunia Turun Drastis Usai Pengumuman Gencatan Senjata Perang Iran
- Proyek PSEL Makassar: Investor Akan Gugat Pemkot Makassar Rp2,4 Triliun
- 5 Rekomendasi Tablet Murah dengan Keyboard Bawaan, Jadi Lebih Praktis
- Sepeda Lipat Apa yang Murah dan Awet? Ini 5 Rekomendasi Terbaik untuk Gowes
Pilihan
-
Resmi! Liliek Prisbawono Jadi Hakim MK Gantikan Anwar Usman
-
Apartemen Bassura Jadi Markas Vape Narkoba, Wanita Berinisial E Diciduk Bersama Ribuan Barang Bukti!
-
Mendadak Jakarta Blackout Massal: Sempat Dikira Peringatan Hari Bumi, MRT Terganggu
-
Benjamin Netanyahu Resmi Diseret ke Pengadilan Duduk di Kursi Terdakwa
-
Biadab! Israel Bunuh Jurnalis Al Jazeera di Gaza pakai Serangan Drone
Terkini
-
Tradisi Taklimat Prabowo Dinilai Perkuat Koordinasi Pemerintahan
-
Wacana Pelarangan Vape di Indonesia, Apa Sebenarnya yang Terjadi dan Apa Risikonya?
-
Momen Prabowo Berdiri di Hadapan 'Gunungan' Uang Rp11,4 Triliun di Kejagung
-
Bukan Main! Rp11,4 Triliun Uang Mafia Hutan Masuk Kantong Negara, Disaksikan Presiden Prabowo
-
Akankah KPK Panggil Nusron Wahid Terkait Skandal Kuota Haji? Ini Penjelasan Jubir
-
Yusril Ungkap Alasan Kasus Andrie Yunus Masih di Pengadilan Militer, Singgung Usulan Hakim Ad Hoc
-
Sok Jagoan Pecahkan Mangkok Bakso dan Peras Warga, Preman Tanah Abang Ternyata Lagi Fly Sabu!
-
Kendaraan Listrik Jadi Fokus Transisi Energi, Benarkah Sudah Sepenuhnya Bersih?
-
Iran Incar 17 Raksasa Teknologi AS, Pakar Sebut Konflik Selat Hormuz Bisa Picu Krisis Global
-
Polisi: Restorative Justice Rismon Belum Diputus, Tunggu Gelar Perkara