Suara.com - Dewan Keamanan PBB kemungkinan akan melakukan sidang pada Jumat terkait keputusan Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel, kata sejumlah diplomat, Rabu (6/12/2017).
Penggelaran sidang itu merupakan permintaan delapan dari 15 anggota Dewan Keamanan.
Prancis, Bolivia, Mesir, Italia, Senegal, Swedia, Inggris dan Uruguay meminta Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres untuk secara terbuka melakukan pemaparan di Dewan Keamanan, kata para diplomat.
Trump pada Rabu tiba-tiba membalikkan kebijakan berpuluh-puluh tahun yang dianut Amerika Serikat dengan mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel.
Keputusan Trump memicu kemarahan Palestina serta menunjukkan ketidakpedulian presiden AS itu atas peringatan-peringatan bahwa pengakuannya itu bisa menimbulkan kerusuhan di Timur Tengah.
Trump juga berencana memindahkan kedutaan besar AS dari Tel Aviv ke Yerusalem.
Israel menganggap Yerusalem sebagai ibu kotanya yang abadi dan tak terbagi serta berharap agar semua kedutaan asing ditempatkan di sana.
Pada saat yang sama, Palestina menginginkan wilayah timur kota itu dijadikan ibu kota negara Palestina di masa depan. Israel merebut wilayah itu dalam perang 1967 dan kemudian mencaploknya --langkah yang ditentang oleh masyarakat internasional.
Sebuah resolusi yang disahkan Dewan Keamanan PBB pada Desember tahun lalu "menggarisbawahi bahwa (Dewan Keamanan) tidak akan mengakui perubahan apa pun terhadap garis-garis 4 Juni 1967, termasuk menyangkut Yerusalem, selain yang disepakati oleh pihak-pihak terkait melalui perundingan."
Baca Juga: Reaksi Paus Jelang Trump Restui Yerusalem Ibukota Israel
Resolusi tersebut disetujui setelah 14 negara memberikan suara dukungan sementara Amerika Serikat, di bawah pemerintahan mantan Presiden Barack Obama, menyatakan abstain.
Setelah Trump mengeluarkan pernyataan pada Rabu, Sekjen PBB Antonio Guterres mengatakan kepada para wartawan, "Saya telah secara konsisten menyatakan menentang langkah-langkah sepihak yang akan membahayakan masa depan perdamaian Israel dan Palestina."
"Di tengah kekhawatiran yang mendalam saat ini, saya ingin memperjelas: Tidak ada alternatif terhadap penyelesaian dua-negara. Tidak ada Rencana B," tegas Guterres.
"Saya akan melakukan apa pun menurut kewenangan yang saya miliki untuk mendukung para pemimpin Israel dan Palestina kembali ke perundingan yang berarti."
Duta Besar AS untuk PBB Nikki Haley memuji keputusan Trump itu sebagai langkah "yang adil dan seharusnya dilakukan." (Antara)
Berita Terkait
Terpopuler
- 3 Mobil Bekas 60 Jutaan Kapasitas Penumpang di Atas Innova, Keluarga Pasti Suka!
- 5 Sepatu Lokal Senyaman Skechers, Tanpa Tali untuk Jalan Kaki Lansia
- 9 Sepatu Puma yang Diskon di Sports Station, Harga Mulai Rp300 Ribuan
- Cek Fakta: Viral Ferdy Sambo Ditemukan Meninggal di Penjara, Benarkah?
- 5 Sepatu New Balance yang Diskon 50% di Foot Locker Sambut Akhir Tahun
Pilihan
-
4 HP Memori Jumbo Paling Murah dengan RAM 12 GB untuk Gaming Lancar
-
In This Economy: Banyolan Gen Z Hadapi Anomali Biaya Hidup di Sepanjang 2025
-
Ramalan Menkeu Purbaya soal IHSG Tembus 9.000 di Akhir Tahun Gagal Total
-
Tor Monitor! Ini Daftar Saham IPO Paling Gacor di 2025
-
Daftar Saham IPO Paling Boncos di 2025
Terkini
-
Geger! Petani di Rejang Lebong Ditemukan Tewas Tersangkut di Pohon Kopi Usai Banjir Bandang
-
Malam Tahun Baru Memanas, Tawuran Remaja Nyaris Meletus di Flyover Klender
-
Agar Negara Tak Dicap Merestui Pembungkaman Kritik, Teror ke DJ Donny dan Aktivis Lain Harus Diusut
-
Tahanan Demo Agustus 2025 Meninggal di Rutan Medaeng, Mantan Napol Desak Investigasi Independen!
-
Kebakaran Rumah Kosong di Jagakarsa Saat Warga Sambut Tahun Baru 2026
-
Kemdiktisaintek Rilis Aturan Baru No 52 2025, Jamin Gaji Dosen Non-ASN
-
Pasukan Orange Tuntaskan Bersih-Bersih Sisa Perayaan Tahun Baru Sebelum Subuh
-
Banjir dan Longsor Lumpuhkan Kehidupan Anak di Tapanuli Tengah
-
Pendidikan Pascabencana di Sumatra: Ketika Sekolah Dibuka Kembali, Siapkah Anak-Anak Belajar?
-
Tragedi di Labuan Bajo, Mengapa Kapal Pinisi Mudah Tenggelam saat Cuaca Ekstrem?