- IPB University mengembangkan sea farming berbasis adat di Wakatobi, Sulawesi Tenggara, untuk mengatasi tekanan ekologis dan ekonomi nelayan.
- Program ini mengintegrasikan sains modern dengan kearifan lokal MHA Kadie Kapota, seperti praktik konservasi Parimparim.
- Implementasi awal mencakup pembangunan KJA budidaya ikan kerapu, menekankan tata kelola berbasis sosial dan budaya setempat.
Suara.com - Wilayah pesisir Indonesia menghadapi tantangan yang tidak ringan. Tekanan penangkapan ikan berlebihan, perubahan iklim, serta terbatasnya pilihan mata pencaharian membuat banyak komunitas nelayan berada dalam posisi rentan—baik secara ekonomi maupun ekologis. Di sejumlah daerah, sumber daya laut yang menjadi tumpuan hidup masyarakat mulai menunjukkan tanda-tanda penurunan.
Di Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara, Institut Pertanian Bogor (IPB) University mencoba menjawab tantangan tersebut melalui pengembangan konsep sea farming berbasis adat. Program ini tidak hanya berfokus pada peningkatan produksi perikanan, tetapi juga pada penguatan tata kelola berbasis kearifan lokal.
Kepala Science Techno Park PKSPL IPB University, Muhammad Qustam Sahibuddin, menekankan bahwa pelibatan masyarakat hukum adat menjadi kunci keberhasilan. Menurutnya, keberlanjutan tidak cukup hanya dengan pendekatan teknis, tetapi perlu ditopang legitimasi sosial dan budaya.
Program ini dijalankan bersama PT PELNI (Persero) dan Masyarakat Hukum Adat (MHA) Kadie Kapota di Kecamatan Wangi-Wangi Selatan. Implementasi awalnya ditandai dengan pembangunan satu unit karamba jaring apung (KJA) berisi enam kotak untuk budidaya ikan kerapu. Model ini menjadi inti dari sistem sea farming berbasis marikultur yang dirancang untuk meningkatkan stok ikan sekaligus menjaga keseimbangan ekosistem laut dangkal.
Namun, pendekatan ini tidak berdiri di ruang kosong. MHA Kadie Kapota selama ini telah memiliki praktik Parimparim—mekanisme buka-tutup kawasan perairan secara berkala untuk mencegah eksploitasi berlebihan, khususnya gurita. Praktik tersebut menunjukkan bahwa konservasi sebenarnya telah lama hidup dalam tradisi lokal.
IPB melihat titik temu antara sains modern dan sistem adat sebagai peluang. Pendampingan teknis dilakukan oleh Lembaga Pengembangan Agromaritim dan Akselerasi Innopreneurship (LPA2I) bersama PKSPL IPB, dengan tujuan memperkuat kapasitas masyarakat dalam budidaya, manajemen usaha, hingga tata kelola kelembagaan.
Meski demikian, tantangan tetap ada. Pengembangan budidaya laut membutuhkan konsistensi pendampingan, akses pasar, serta manajemen risiko agar tidak menimbulkan tekanan ekologis baru. Karena itu, program ini tidak hanya menekankan produksi, tetapi juga pemetaan sosial-ekonomi, penguatan kelembagaan adat, dan diversifikasi mata pencaharian.
Dengan pendekatan tersebut, sea farming diharapkan menjadi alternatif ekonomi yang mengurangi ketergantungan pada penangkapan liar sekaligus menjaga keberlanjutan sumber daya laut. Jika berhasil, model ini berpotensi direplikasi di wilayah pesisir lain dengan karakter serupa.
Upaya di Wakatobi menunjukkan bahwa pembangunan pesisir tidak harus memilih antara ekonomi dan konservasi. Dengan kolaborasi antara perguruan tinggi, BUMN, dan masyarakat adat, solusi dapat dirancang tanpa menghilangkan identitas budaya setempat. Tantangan pengelolaan laut memang kompleks, tetapi integrasi ilmu pengetahuan dan kearifan lokal membuka ruang bagi masa depan pesisir yang lebih tangguh dan berkelanjutan.
Baca Juga: Teluk Kendari Dibersihkan dari 30 Bangkai Kapal Ikan Terbengkalai
Berita Terkait
Terpopuler
- Kinerja Tim Komunikasi Buruk, Prabowo Diingatkan Segera Reshuffle Seskab Teddy hingga Kapolri
- Ruben Onsu Jadi Tersangka Kasus Dugaan Penipuan, Bakal Dipanggil Polisi Minggu Depan
- 20 Kode Redeem FF Aktif 20 Agustus 2026: Klaim Item Langka dan Bundle Spesial
- Lawan Pernyataan Eki Pitung, Pemuda Kaum Betawi Percaya dengan Warga Pati yang Demo 27 Agustus
- Anggaran Bencana Tak Ditemukan, Istana Malah Beli Merpati Rp305 Juta untuk Perayaan HUT ke-81 RI
Pilihan
-
KPK Tangkap Rektor Unsoed Akhmad Sodiq Terkait Dugaan Suap Penerimaan Mahasiswa Baru
-
Geger Sekaten Solo: Keributan Pecah, Adu Dorong hingga Ada yang Dipukul di Bangsal Pagongan
-
Terputus Komunikasi Pasca Gempa, Mahasiswa NTT di Jogja Bergantung Bantuan Warga untuk Bertahan
-
Polwan Ditarik Mundur, Aksi BEM UI di Menara UOB Berujung Saling Dorong dengan Aparat
-
Gaji Manajer Kopdes Merah Putih Rp7,8 Juta per Bulan Viral, Benarkah Batal Rp16 Juta?
Terkini
-
Harga Sepeda Lipat Entry Level Terbaik Berapa? Ini 5 Rekomendasinya di Tahun 2026
-
Bebas Kusam! Ini 5 Body Serum Efek Tone Up untuk Tampilan Kulit Cerah
-
5 Perbedaan PIE dan PIH Bekas Jerawat dan Cara Membedakannya
-
Dari Fashion ke Wellness, Ariy Arka Menemukan Cara Baru Merawat Diri di Tengah Rutinitas
-
Jangan Tertukar! Ini Perbedaan Komponen Biotik dan Abiotik di Sekitar Kita Beserta Contohnya
-
Bukan Sekadar Baca Slide! 4 Rahasia Presentasi Maut untuk Pikat Klien
-
Wajah Kemanusiaan di Tengah Kesenjangan Kelas dalam Film 'Parasite'
-
Senin 24 Agustus 2026 Bank Buka atau Tidak? Ini Jadwal Operasional saat Libur Maulid Nabi
-
Bahlil Jawab Isu Pembatasan Pertalite: Masih Dikaji, Belum Ada Perubahan!
-
Mendagri Jawab Isu Haji Isam Koordinir Karhutla Kalsel Atas Mandat Prabowo