Aktivitas para pelacur itu juga telah turut menyumbang perdagangan budak-budak yang cukup berjalan baik di pasar-pasar terkenal Arab era itu, seperti di Madinah, Thaif, dan 'Ukaz.
"Di antara para qaynah itu akan menuangkan anggur saat yang lain sedang menyanyi. Dada mereka dibiarkan terbuka untuk setiap mata yang menadang sambil melakukan penawaran kencan," tulisnya.
Arafat juga mencatat sejumlah nama-nama pelacur yang kala itu beken di Arab. Misalnya, Jaradah dari suku 'Ad, Mulaykah, Binti 'Afzar, dan Hurairah. Ada pula qaynah yang telah "dirawat" oleh para saudagar Arab.
"Produksi seni nyanyian para qaynah inilah yang membangun tradisi berirama dalam era Islam serta setelahnya, khususnya pada abad ke-9 Masehi, saat Ishaq al-Mawshili, ahli musik, hidup," tulisnya.
Ia menuliskan pula, beberapa lagu yang dipilih untuk Khalifah Harun ar-Rasyid pada abad ke-8, paling tidak ada satu nyanyi-puisi yang dipersembahkan untuk "jaradah Sisters", yaitu perkumpulan para qaynah yang hidup di era jahiliah (pra-Islam).
"Jadi, tak diragukan lagi bahwa nada-irama Arab pada periode Jahiliyah sampai tahun 632 Masehi, dibentuk oleh daya bersuara kaum qaynah."
Arafat dalam kesimpulan makalah presentasinya menyebutkan bahwa "Bila tidak ada para qaynah, tidak ada pelestari irama Arab (al-alhan al-'arabiyyah).
Selain itu, Arafat juga menyimpulkan "Tradisi pelantuan Al Quran bergantung pada al-alhan al-'arabiyyah".
"Pelantunan Al Quran berhutang besar kepada para qaynah atau para pelacur Arab jahiliyah."
Baca Juga: Banjir, Anies: Ikhtiar Pencegahan Harus Dilakukan Sungguh-sungguh
Arafat tampak serius dalam melacak akar sejarah seni pembacaan Alquran. Dalam makalah tersebut, ia mencantumkan sejumlah karya-karya babon peneliti hal yang sama.
Dalam bibliografinya, Arafat mencantumkan buku "A History of Arabian Music to The XIIIth Century", karya Henry Geaorge Farmer tahun 1929.
Ia juga menilik karya Kristina Nelson tahun 1985 berjudul "The Art of Reciting the Quran".
Arafat juga mengutip sejumlah buku berbahasa Arab seperti "Al-Ma'arif" karya Ibn Qutaiba (1969); dan, "Al-Jam'u al-Shautiyy al-Awwal li al-Quran al-Karim aw al-Mushaf al-Murattal" karya Labib al-Sa'id (1967).
Berita Terkait
Terpopuler
- Mengenal Lisda Cancer, Perwira Tinggi Polri yang Pensiun Tak Lama Usai Jadi Brigjen
- Pelatih FC Twente Usir Mees Hilgers: Saya Tak Berharap Dia Kembali ke Klub!
- PIP Termin II 2026 Kapan Cair? Ini Jadwal Lengkap dan Cara Ceknya agar Dana Tidak Hangus!
- Skenario Timnas Indonesia Jika Imbang atau Kalah dari Vietnam di Piala AFF 2026
- Sunscreen Apa yang Bagus untuk Menghilangkan Flek Hitam di Wajah? Ini 3 Rekomendasi sesuai Review
Pilihan
-
Aktris Sali Irsalina Dianiaya Pacar di Fatmawati, Mata Lebam Hingga Diselamatkan Polantas
-
Dipilih Lewat Seleksi Ketat, Bank Dunia Kembali Tunjuk Sri Mulyani Duduki Jabatan Strategis
-
Pagar Besi di Mal-mal, Benarkah untuk Antisipasi Plot Kerusuhan Agustus?
-
Desa Kecil, Mimpi Mendunia: Ketika Kolaborasi Mengubah Wajah Kemiren
-
Kejagung Geledah Rumah Eks Jampidsus Febrie yang Pernah Dijaga TNI
Terkini
-
Menyoal PHK 178 Buruh Garmen di Cimahi, Dedi Mulyadi Minta Pekerja Fleksibel Ikuti Peta Industri
-
Kronologi Misteri Jasad Mutilasi dalam Karung di Pancoran Mas Depok
-
Final Piala Presiden 2026 Antara Persib vs Persebaya Digelar Tanpa Penonton, Ini Alasannya
-
Potongan Kaki Masih Dicari, Polisi Buru Motif Pelaku Mutilasi Pria Tanpa Identitas di Depok
-
Lawan Kejagung dan Polri, Sidang Perdana Praperadilan Febrie Digelar Usai HUT RI
-
Waktu Istirahat Minim Jelang Final, Pelatih Persib: Mari Kita Lihat Siapa yang Bisa Bertahan
-
Gubernur Andra Soni Sebut Gedung Baru DPD RI Rp4,1 M Kebutuhan Daerah, Bukan Senator
-
Pelaku Mutilasi Depok Semula Korban? Polisi Diminta Uji Klaim Percobaan Pelecehan
-
Soroti Kasus 46 Juta Obat Ilegal di Tangsel, DPR: Bongkar Mata Rantai Distribusi Sampai ke Akar!
-
BRI Perkuat Sinergi dengan Ditjenpas DIY Melalui Optimalisasi Layanan Pemasyarakatan