- Pengamat UMY Zuly Qodir menyatakan langkah pemerintah menggandeng homeless media berisiko memicu krisis kepercayaan publik terhadap pemerintahan Prabowo.
- Pemanfaatan buzzer untuk melawan kritik masyarakat dengan narasi tidak faktual dikhawatirkan merusak kualitas demokrasi digital di Indonesia.
- Pengerahan homeless media berpotensi menyempitkan ruang kritik serta menciptakan budaya politik yang hanya berorientasi menyenangkan pihak penguasa.
Suara.com - Pengamat politik Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Zuly Qodir, menilai langkah pemerintah yang menggandeng homeless media berpotensi menjadi bumerang bagi pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
Menurutnya, kebijakan tersebut dapat memunculkan krisis kepercayaan publik. Terlebih informasi yang disebarkan justru berisi propaganda atau narasi tandingan terhadap kritik masyarakat.
Zuly mengatakan, saat ini masyarakat hidup di era media digital ketika informasi yang paling sering muncul di platform media sosial cenderung dianggap sebagai kebenaran oleh publik.
Kondisi itu membuat peran buzzer menjadi sangat kuat dalam membentuk opini masyarakat.
"Ya, era sekarang memang era media sosial. Era di mana platform-platform yang paling sering dilihat itu adalah platform yang dianggap menggambarkan kebenaran informasi. Dan semakin banyak orang melihat itu, kemudian kita itu menjadi bagian dari platform tersebut," kata Zuly kepada Suara.com, Kamis (7/5/2026)
Disampaikan Zuly, penggunaan homeless media oleh pemerintah ini setidaknya menghadirkan dua kemungkinan.
Pertama, dapat digunakan untuk menyampaikan informasi yang benar kepada publik.
Namun di sisi lain, homeless media ini berpotensi dipakai untuk menyebarkan informasi tandingan terhadap kritik atau pemberitaan yang berasal dari kelompok masyarakat sipil maupun oposisi pemerintah.
Menurutnya, apabila kemudian pemerintah menggunakan buzzer untuk melawan kritik publik dengan menyebarkan informasi yang tidak sesuai realitas, maka situasi demokrasi digital di Indonesia justru akan semakin kacau.
Baca Juga: Kritik Qodari, Guru Besar UII Ingatkan Bahaya Homeless Media Jadi Alat Propaganda Pemerintah
Ia menilai risiko penyimpangan informasi menjadi lebih besar dibandingkan penyampaian informasi yang benar.
"Kalau yang dimaksudkan adalah untuk membuat hoaks news atau tandingan terhadap berita masyarakat, maka menjadi semakin runyam menurut saya pemberitaan digital," ucapnya.
Kondisi tersebut pada akhirnya, kata Zuly, dapat berdampak langsung terhadap citra pemerintahan Prabowo.
Ia mengatakan publik bisa kehilangan kepercayaan apabila pemerintah dianggap sengaja memelihara buzzer untuk membangun opini yang tidak sesuai fakta.
"Kalau informasinya tidak benar ya sebenarnya merugikan, karena itu membodohi dan membohongi publik gitu dan orang semakin tidak percaya terhadap pemerintahan Prabowo," tandasnya.
Ia turut menyoroti pola kerja buzzer yang dinilai sangat bergantung pada kepentingan pihak yang membiayai atau memelihara mereka.
Berita Terkait
-
Kritik Qodari, Guru Besar UII Ingatkan Bahaya Homeless Media Jadi Alat Propaganda Pemerintah
-
DPR Soroti Langkah Pemerintah Gandeng Homeless Media: Jangan Sampai Timbulkan Konflik Kepentingan
-
Apa Itu 'Homeless Media' yang Viral dari Kebijakan Bakom RI
-
Rangkul Homeless Media, Bakom Perkenalkan Mitra Baru New Media Forum
-
Jejak Berdarah Maluku Tenggara: Mengurai Benang Kusut Kematian Nus Kei di Tengah Rivalitas Politik
Terpopuler
- Cara Menata Isi Dompet yang Baik Menurut Feng Shui agar Rezeki Lebih Lancar
- Amplop Raja Juli Menyusut SGD2.000, KPK Buka Peluang Periksa Ajudan hingga Kapolres Kuansing
- Masuk Desil 10 Padahal Penghasilan Pas-pasan? Jangan Panik, Ini Arti dan Penjelasan Resminya
- Contoh Teks Sambutan Ketua RT Malam Tirakatan 17 Agustus yang Singkat, dan Penuh Makna
- 4 Rice Cooker Mini Murah yang Cepat Matang dan Hemat Listrik Sesuai Review Pembeli
Pilihan
-
Pesona Masjid Pancasila Kediri: Sederhana di Luar, Bikin Pangling di Dalam
-
Prabowo: Ojol Sekarang Dapat 92 Persen Hasil Kerja, Pendapatannya Naik 3 Kali Lipat
-
Hadiri Sidang Tahunan, Intip Gaya Prabowo dan Gibran saat Tiba di Gedung Parlemen Senayan
-
Kampung Bahari Memanas! Massa Lawan BNN dan Brimob Pakai Petasan saat Gerebek Narkoba
-
Sudah Dibangun Sejak 2023, Sejauh Mana Bibit Sriwijaya Kemampo Pulihkan Hutan Sumsel?
Terkini
-
Kondisi Air Laut Aman, BMKG Ingatkan Warga NTT Hindari Bangunan Retak Usai Gempa
-
Prabowo Usul Kewarganegaraan Ganda untuk Pemain Timnas Indonesia, Skuad Garuda Bisa Terdampak
-
5 Rekomendasi Tinted Sunscreen yang Multifungsi untuk Kulit Wajah sesuai Review
-
5 HP POCO untuk Gaming Kasual hingga Kelas Berat, Terbaik Mulai Rp2 Jutaan
-
Ulasan The Devil Judge: Ketika Pengadilan Jadi Tontonan Publik
-
Aksi Heroik Marinir Lampung Kibarkan Merah Putih di Puncak Menara 74 Meter
-
25 Promo Makanan dan Minuman 17 Agustus, Ada Paket Menarik Rp17 Ribuan
-
Dampak Gempa NTT: 5 Warga Meninggal, Infrastruktur Jalan Putus dan Longsor
-
Jelang HUT RI: Flare Latihan TNI AU Nyasar ke Mobil Warga, Ini Respon TNI
-
Sinyal NTT Lumpuh! Gempa M 7,7 Hantam 200 BTS, Komdigi Berpacu dengan Waktu Pulihkan Jaringan