Suara.com - Peneliti bidang kajian gender Sabilla Tri Ananda menegaskan, melabeli perempuan dengan sebutan "pelakor" (perebut lelaki—suami—orang) termasuk bentuk kekerasan verbal dan misoginis.
Misoginis adalah rasa benci atau tidak suka terhadap perempuan atau anak perempuan. Dengan demikian, menyebut seseorang sebagai “pelakor” termasuk ujaran kebencian terhadap perempuan.
"Istilah 'pelakor' itu bias, jadi seakan-akan lelaki yang diambil oleh orang lain adalah pasif, padahal selingkuh dapat terjadi karena dua belah pihak," kata Sabilla saat dihubungi Antara di Jakarta, Jumat (9/3/2018).
Dia mengatakan, perempuan kerap disalahkan dalam sebuah perselingkuhan. Jika istri berselingkuh maka perempuan akan disalahkan.
Tapi ketika suami berselingkuh, maka orang ketiga yaitu perempuan juga akan disalahkan.
Ironisnya, kata dia, perundungan dengan menyebut perempuan orang ketiga dalam suatu hubungan sebagai "pelakor" yang marak di media sosial kerap dilakukan oleh perempuan juga.
Bahkan, perundungan tersebut juga sampai ke dunia nyata.
Misalnya, kasus pengiriman karangan bunga yang isinya hujatan yang dialamatkan ke kantor perempuang orang ketiga tersebut.
Menurut dia, hal tersebut dapat terjadi karena perempuan yang selama ini "terjajah" dalam budaya patriarki ternyata ikut melanggengkan nilai patriarki tersebut dengan menilai, mengopresi dan menindas perempuan lain.
Baca Juga: Survei: 8 dari 10 Orang Indonesia Jual Barang Pemberian Mantan
"Salah satu praktik yang mereka lakukan adalah dengan merundung perempuan yang dianggap sebagai perebut suami orang," kata peneliti lulusan Magister Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia tersebut.
Berita Terkait
Terpopuler
- 3 Sepatu New Balance Tanpa Tali, Bantalan Nyaman untuk Jalan Kaki Jauh
- Warga Kayumanis Bogor Tolak PSEL
- 5 Sepatu Adidas Tanpa Tali yang Serbaguna, Anti Pegal Dipakai Jalan Seharian
- Deretan Tokoh Top Bakal Turun Gunung ke UGM Besok, Bahas Nasib Bangsa Lewat Konferensi Republik
- 5 HP Baru 2026 Memori Besar dan Baterai Badak untuk Multitasking, Harga Rp2 Jutaan
Pilihan
-
Drama Final Liga Champions: Sakitnya Arsenal, PSG Back to Back Juara
-
Kesehatan Donald Trump Bermasalah? Gedung Putih Dituding Tutupi Hasil Medical Check-up
-
Kebakaran RSUD Syekh Yusuf Gowa, Begini Kondisi Terkini Pasien
-
Israel Bombardir Lebanon, 74 Warga Jadi Korban Satu Keluarga Tewas Saat Kabur
-
AS-Iran Kembali Sepakati Gencatan Senjata, Harga Minyak Stabil di USD 90
Terkini
-
Bakal Bertemu Prabowo-Gibran? Djarot Beri Sinyal Megawati Hadiri Peringatan Hari Lahir Pancasila
-
3 Kali ke Prancis dalam 5 Bulan, Elite PDIP Pertanyakan Urgensi Kunjungan Presiden Prabowo
-
Sumber Teror Api Misterius di Seyegan Mulai Terkuak, Tim UPN Soroti Gas Metana dari Bekas Rawa
-
Bukan Mistis! Misteri Barang Terbakar Sendiri di Sleman Terungkap, Pakar UGM Bongkar Biang Keroknya
-
Pandji Pragiwaksono Soroti 'Pengakuan Terbuka' Prabowo Soal Keterlibatan Partai dalam Tender Negara
-
Prof Uceng: Negara Bukan Takut Film Pesta Babi, Tapi Takut Narasi Alternatif
-
Sebut Film 'Pesta Babi' Aman Secara Hukum, Uceng UGM: Jangan-Jangan Ada Unsur Politik?
-
Ribuan Lansia Jalan Sehat Meriahkan Puncak HLUN 2026 di NTT
-
Guru Besar UGM Cium Ada Perubahan Sikap yang Tak Biasa Usai Mama Sinta Lapor Polisi soal Pesta Babi
-
HLUN 2026 Momentum Wujudkan Lansia Tangguh Menuju Indonesia Emas