Suara.com - Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi Mohamad Nasir menegaskan, kampus tidak boleh dijadikan tempat kegiatan politik praktis, terutama bagi calon presiden maupun calon wakil presiden peserta Pilpres 2019.
Kalau itu dilanggar, Nasir memastikan akan langsung memanggil rektor kampus yang mengizinkan capres dan cawapres datang.
"Tidak boleh kampus untuk dilakukan politisasi. Mana sekarang calon yang ke kampus? Saya larang. Panggil rektornya (kalau melanggar). Tidak boleh," ujar Nasir di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Rabu (10/10/2018).
Nasir menjelaskan, kalau alasannya sosialisasi pemilu tidak harus dihadiri oleh peserta Pilpres 2019. Sebab, sosialisasi itu bisa dilakukan KPU.
Pada Senin 8 Oktober, Jokowi menghadiri acara Dies Natalis Universitas Sumatera Utara (USU) ke-66 di Auditorium USU di Medan.
Terkait itu, Nasir menganggap kehadiran Jokowi bukan sebagai calon presiden petahana yang tengah kampanye.
"Pak Jokowi datang ke USU sebagai presiden. Jabatan presiden tidak bisa berhenti dalam satu hari. Nanti presiden berhenti satu hari, ada masalah negara ini," jelas dia.
Meski demikian, Calon Presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto dilarang untuk menyambangi kampus di Indonesia saat masa kampanye. Termasuk kalau kehadirannya di kampus bukan sebagai capres melainkan Ketua Umum Partai Gerindra.
"Tidak boleh (kalau Prabowo) itu politik. Kalau presiden datang ke kampus itu hak presiden, tapi bukan sebagai calon presiden," kata dia.
Berita Terkait
Terpopuler
- Mengenal Lisda Cancer, Perwira Tinggi Polri yang Pensiun Tak Lama Usai Jadi Brigjen
- Skenario Timnas Indonesia Jika Imbang atau Kalah dari Vietnam di Piala AFF 2026
- Sunscreen Apa yang Bagus untuk Menghilangkan Flek Hitam di Wajah? Ini 3 Rekomendasi sesuai Review
- Fortuna Sittard Ogah Jual Justin Hubner ke Klub Super League
- 4 Shio Beruntung Hari Ini 4 Agustus 2026: Macan hingga Babi Berpeluang Dapat Kabar Baik
Pilihan
-
Pagar Besi di Mal-mal, Benarkah untuk Antisipasi Plot Kerusuhan Agustus?
-
Desa Kecil, Mimpi Mendunia: Ketika Kolaborasi Mengubah Wajah Kemiren
-
Kejagung Geledah Rumah Eks Jampidsus Febrie yang Pernah Dijaga TNI
-
Kematian Sutrimo dan Rangkaian Kejanggalan yang Muncul dari Kampung Halaman
-
Pengintai Misterius dan CCTV Mendadak, Kejanggalan di Rumah Sutrimo
Terkini
-
Mosi Tidak Percaya! Jajaran Wakasek dan Guru SMPN di Subang Mundur Massal
-
Lolos ke Final Usai Singkirkan Persija, Lucho Keluhkan Lapangan Dipta yang Keras dan Kering
-
Singkirkan Arema FC, Persebaya Tantang Persib di Final Piala Presiden 2026
-
Apa Itu Registration Ban FIFA? Ini Penyebab Klub Sriwijaya FC Bisa Dilarang Daftar Pemain
-
Jejak Kasus Haji Halim Ali, Dari Pengusaha Besar hingga Ahli Waris Kembalikan Rp127 Miliar
-
Modus Penimbun Pertalite Terbongkar, Isi BBM Berulang Pakai Barcode Berbeda di SPBU
-
Geger Temuan Mayat Mutilasi dalam Karung Beras di Pancoran Mas Depok
-
Jelang HUT ke-81 RI, Masjid Indonesia Pertama di Kanada Barat Resmi Berdiri
-
Diduga Bawa Kabur Kamera Rp200 Juta, DJ Wanita dan Suaminya Dipolisikan di Bogor
-
5 Perubahan Contact Center di Era Generative AI, Tak Lagi Sekadar Layanan Pengaduan