Suara.com - Gempa bumi disertai tsunami di Palu dan Donggala benar-benar memuluhlantakkan kawasan SUlawesi bagian barat. Banyak warga kehilangan sanak famili, keluarga hingga rumah rata dengan tanah. Banyak warga kemudian mengungsi ke tempat lebih aman, seperti Makassar.
Tidak hanya pengungsi, suasana hari itu semakin ramai dengan hadirnya sejumlah relawan yang diturunkan dan ditugaskan secara khusus untuk memberikan pertolongan bagi para korban yang tengah dalam kondisi tidak menentu.
Selain tim medis dari dinas kesehatan, Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan juga menurunkan relawan yang berasal dari Taruna Siaga Bencana (Tagana) Sulsel.
Tim reaksi cepat Dinas Sosial Sulsel ini langsung mengambil peran masing-masing mulai dari pendataan korban, dapur umum, hingga masalah pendistribusian logistik atau bantuan yang berasal dari pemerintah, swasta dan masyarakat umum.
Untuk masalah penyaluran logistik dan dapur umum hasil sumbangan masyarakat dan pemerintah, Tagana Sulsel mempercayakan pada sosok Jalaluddin.
Pria kelahiran 27 Desember 1975 itu mengakui jika tugasnya sebagai koordinator logistik di Posko Asrama Haji Sudiang memang terfokus bagaimana menjamin bahan makanan hasil sumbangan kaum dermawan dapat sampai dan dirasakan para pengungsi baik yang berada di posko di Makassar ataupun di beberapa titik lokasi pengungsian di Sulawesi Tengah.
"Jadi tugas kami itu bagaimana agar bantuan dari dermawan bisa sampai dan dirasakan para pengungsi yang memang begitu membutuhkan makanan," katanya.
Pria yang sudah bergabung bersama Tagana Sulsel sejak 2014 itu mengakui jika awal-awal pengaktifan posko Asrama Haji memang masih banyak yang perlu ditingkatkan. Termasuk bagaimana menangani dengan segera bantuan yang datang begitu deras dari masyarakat Makassar dan sekitarnya.
Hal ini penting mengingat kondisi korban gempa dan tsunami di Sulawesi Tengah, ketika itu begitu membutuhkan bantuan khususnya bahan makanan, minuman, obat-obatan, selimut, pakaian dan keperluan bayi yang berstatus sangat mendesak.
Sementara untuk menyalurkan bantuan yang terus berdatangan dan telah menggunung di Posko Asrama Haji, tentunya butuh transportasi bukan hanya kapal atau pesawat, namun juga kendaraan sejenis truk guna menawarkan bantuan itu menembus jalur darat ataupun mengirimkannya ke pelabuhan, selanjutnya diangkut menggunakan kapal.
"Iya, sumbangan masyarakat begitu besar untuk saudara kita yang terkena bencana di Sulawesi Tengah. Kami terus berupaya lebih keras agar sumbangan dan bantuan ini bisa sampai ke tujuan dan dapat dimanfaatkan para pengungsi," jelasnya.
Selama proses distribusi, dia mengakui sedikit terhambat. Selain karena minimnya truk yang bisa digunakan membawa bantuan ke lokasi gempa, juga dikarenakan pihak Pelindo juga sudah menutup penerimaan bantuan karena bantuan di tempat itu juga masih banyak dan belum diberangkatkan.
Jalaluddin bersama relawan yang lain bahkan harus bekerja hingga pukul 24.00 karena disesuaikan dengan kesiapan truk.Bahkan begitu berharap para pengusaha atau pemilik truk agar bersedia menyumbangkan truknya mengangkut bantuan masyarakat.
Persoalan keterbatasan truk memang cukup dirasakan para relawan dalam menyalurkan bantuan. Sebab kadang kala hanya bisa mengirimkan sebanyak tiga truk bantuan sampai sore hari.
"Untuk tenaga relawan kita cukup, begitupun barang atau bantuan yang akan dikirimkan begitu banyak. Namun kita kesulitan karena truk yang terbatas sehingga membuat proses penyaluran bantuan masyarakat yang sudah bertumpuk tidak maksimal," katanya.
Berita Terkait
-
Yang Tersisa dari Gempa Venezuela, Kamar Mayat Penuh Hingga Ibu Masih Cari Jasad Anaknya
-
Gempa Kumamoto Jepang Tewaskan 38 Orang, Lumpuhkan Pasokan Air Ribuan Rumah
-
Korban Gempa Bumi Venezuela Melonjak, 60 Ribu Orang Dirawat di Rumah Sakit
-
Korban Tewas Gempa Venezuela Tembus 6.125 Orang
-
Kenapa Jepang Sering Diguncang Gempa Bumi Besar?
Terpopuler
- 10 Pantangan Feng Shui Rumah yang Sebaiknya Dihindari, dari Pintu hingga Kamar Mandi
- 3 HP Infinix Memori 256 GB dan NFC Harga Rp1 Jutaan, Solusi Multitasking hingga Gaming
- 3 HP Xiaomi RAM 8 GB Murah di Bawah Rp1 Juta, Ini Pilihannya
- KPAI Desak Audit Total MBG: Tata Kelola Gagal, Anak-anak Jadi Korban Ambisi Program
- Ramalan Shio 9 Agustus 2026: 5 Shio Bakal Buang Kesialan dan Buka Jalan Keberuntungan
Pilihan
-
Sudah Dibangun Sejak 2023, Sejauh Mana Bibit Sriwijaya Kemampo Pulihkan Hutan Sumsel?
-
Napak Tilas Jejak Kolonial Londo Ireng di Makam Kherkof Purworejo
-
100 Personel Damkar Masih Berjibaku Padamkan Kebakaran Gedung Bapenda DKI
-
Kantor Bapenda DKI Jakarta Dilalap si Jago Merah, Api Semakin Membesar
-
Bocoran Reshuffle Kabinet Agustus: Norman Joesoef Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
Terkini
-
Erick Thohir Bongkar Skuat Mewah Indonesia di FIFA ASEAN Cup 2026, Misi Balas Kegagalan Piala AFF
-
Terjebak FOMO Gaji Dua Digit di Usia 20-an, Apakah Realistis?
-
Ramai Bukan Berarti Aman: Mengapa Perempuan Masih Waspada di Malioboro?
-
Destry Damayanti Jadi Calon Tunggal Gubernur BI, Pasar Modal Beri Respon Mengejutkan
-
RDF Rorotan Belum Beroperasi Maksimal, Ternyata Ini Kendala Utamanya
-
5 Rekomendasi Bedak Wardah untuk Menutupi Flek Hitam Usia 40 Tahun ke Atas sesuai Review
-
Penampakan Terbaru Mojtaba Khamenei, Media AS Malah Sebar Cerita Konspirasi
-
Jokowi Masih 'Lengket' di Hati Rakyat, Akankah Jadi Bayang-bayang bagi Pemerintahan Prabowo?
-
Bela Tambang Rakyat, DPR Papua Tengah Minta Papan Satgas PKH di KM 95 dan KM 102 Dicabut
-
Mawar Merah Matahari: Aksi Seru si Gadis Pembunuh Bayaran Mencegah Perang