Suara.com - Kuslan Budiman, sastrawan eksil Indonesia yang pernah bermukim di Cina, Rusia dan Belanda, wafat dalam usia 83 tahun pada Kamis (6/12/2018) malam, di rumah sakit hospice Kota Naarden, Belanda, setelah sakit kanker pankreas dan usus 12 jari stadium empat.
Sang sastrawan lahir di lereng Gunung Sengunglung, Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur, pada 1935. Dalam karir kebudayaannya, ia menulis buku Si Didi Anak Petani (Djakarta: Jajasan Kebudajaan Sadar, 1964); kumpulan puisi Tanah Kelahiran (Kreasi Nomor 20) pada 1994; buku Bendera Itu Masih Berkibar (Jakarta: Suara Bebas, 2005), dan beberapa buku terjemahan sastra China Dinasti Song untuk kalangan terbatas.
Ia termasuk pemuda Indonesia yang mendapat beasiswa tugas belajar ke luar negeri zaman pemerintahan Presiden Republik Indonesia (RI) pertama Soekarno.
Namun, Kuslan dan banyak lainnya tidak dapat pulang saat Soeharto berkuasa pada era Orde Baru. Mereka menyebut diri kalangan dalam pengasingan (exile) atau eksil.
Sementara Presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid alias Gus Dur menyebut mereka sebagai kaum kelayapan.
Dalam dunia seni, Kuslan Budiman sejak 1955 sudah aktif menulis karya sastra, dan dikenal sebagai Ketua Umum Ikatan Mahasiswa Akademi Seni Rupa Indonesia (IMASRI) Jogjakarta pada 1962. Kala itu, Ketua Senat ASRI dijabat Dalna Budiman. Ia sempat menjadi guru Sekolah Rakyat (SR) di Madiun pada 1954.
Selama menjadi mahasiswa ASRI Jogjakarta, Kuslan dalam dokumen KTP-nya tercatat tinggal Gampingan Nomor 9, RT38/RK Gampingan, Kemantren Wirobradjan.
Kuslan saat itu juga menjadi wartawan Majalah Gelora di Surabaya, Jawa Timur, dengan Pemimpin Redaksi Farid Dimjati.
Dunia satra Indonesia mencatat nama Kuslan Budiman pernah menjabat pimpinan Lembaga Kebudayaan Rakyat (LEKRA) di Yogyakarta.
"Saya diajak pelukis Affandi untuk bergabung masuk LEKRA. Saat itu arah kebudayaan yang digelorakan Bung Karno untuk kerakyatan. Belakangan hari saya mendapat tugas belajar ke luar negeri, dan LEKRA disebut organ Partai Komunis Indonesia. LEKRA itu sebenarnya aliran Soekarnois," ujar Kuslan Budiman dalam percakapan dengan Antara di kediamannya, Rembrant Laant 77, 3443 EC Woerden, Belanda, pada Minggu, 7 Juni 2015.
Selama berkesenian di Jogja, Kuslan bersama Amrus Natalsya, Djoko Pekik, dan sejumlah sahabatnya di ASRI mendirikan Sanggar Tarung Bumi yang bersimpati terhadap perjuangan hidup kaum tani.
Kuslan mendapat beasiswa tugas belajar ke Institut Bahasa Asing Beijing, Cina, pada 1965, sekaligus mendalami seni peran dan teater rakyat di Akademi Drama dan Opera Pusat di Beijing pada 1966.
"Selama di Tiongkok, Cina, saya mendapat banyak akses referensi kebudayaan, terutama sastra antardinasti. Saya memperdalam ilmu sastra China dengan mencoba menerjemahkan berbagai karya penulis kerajaan dinasti lama ke Bahasa Indonesia. Beberapa kali saya perbaiki karena ada masalah penyelarasan kebudayaan," ujarnya.
Ketekunan mempelajari arsip sastra kuno Cina, menurut dia, membuat Pemerintah Tiongkok pada 1966 memberinya akses lebih luas untuk mendalami pula seni teater rakyat dan berbagai catatan penting lainnya.
Tahun 1971, Kuslan Budiman pindah ke Moskow, Rusia—kala itu Uni Soviet—mempelajari sastra Rusia dengan kuliah ilmu kesenian di Institut Seni Industri dan Seni Terapan di Stroganovskoye hingga 1977.
Berita Terkait
Terpopuler
- 50 Orang Berambut Cepak 'Serbu' Polda Metro Jaya: 'Mau Ambil Saksi Kasus Jampidsus'
- Jampidsus Febrie Adriansyah Tengah Disorot Publik, Keberadaannya Masih Misterius
- Surat Edaran Rahasia Kejagung Bocor, Jaksa Diminta Waspada dan Dilarang Berkomentar soal Perkara
- Gibran Bukan Panglima! Pakar UGM: Keamanan Papua Tetap Tanggung Jawab TNI dan Polri
- JK Jadi Tersangka Korupsi Ekspor Logam Tanah Jarang, Langsung Ditahan Kejagung
Pilihan
-
Jampdisus Febrie Adriansyah Akhirnya Mundur
-
Tangan Terborgol, Mulut Bungkam: Raut Wajah Bupati Sukoharjo Pakai Rompi Oranye KPK Tengah Malam
-
Ironi Hukum: Menuju Indonesia Emas, Ternyata Emasnya Ada di Rumah Febrie!
-
Bikin Melongo! Polri Pamerkan 74 Kg Emas hingga Ratusan Miliar Hasil Sitaan Kasus Jampidsus
-
Jampidsus Febrie Adriansyah: Saya Tidak Mundur! Masih Terima Perintah Usut Kasus Korupsi
Terkini
-
Jampdisus Febrie Adriansyah Akhirnya Mundur
-
Tangan Terborgol, Mulut Bungkam: Raut Wajah Bupati Sukoharjo Pakai Rompi Oranye KPK Tengah Malam
-
Polisi Periksa Taipan Tan Kian Jadi Saksi di Kasus Korupsi Jumbo yang Seret Jampidsus
-
Polisi Periksa 15 Saksi Korupsi, Sekuriti Rumah Jampidsus Febrie di Sentul Ikut Dicecar
-
Polda Metro Jaya Pastikan Bakal Periksa Jampidsus Febrie Soal Rumah, Dolar hingga Emas 74 Kg!
-
816 Titik Bazar Daging Murah Sudah Sambangi Permukiman Warga Jakarta
-
Kejagung Bantah Datangi Polda Metro Jaya Pasca Penggeledahan Cafe de'Clan Signature
-
Geledah 13 Lokasi dan Sita 74 Kg Emas Tapi Belum Ada Tersangka, Polda: Masih Pendalaman Paripurna
-
Prabowo: Banyak yang Nyusup ke MBG untuk Jadi Maling!
-
Open House Sekolah Rakyat di Lombok Barat, Gus Ipul: Siswa Tunjukkan Banyak Perubahan