Suara.com - Panen musim panas di Afghanistan akan menjadi yang paling kritis dalam bertahun-tahun, terutama gandum --tanaman sereal terbesar negeri itu, saat Afghanistan pulih dari banjir dan kemarau terburuk dalam beberapa dasawarsa.
Salju dan hujan yang cukup selama sebagian musim dingin mengisi kembali kelembaban tanah dan menaikkan harapan bagi panen gandum yang lebih baik, sumber makanan buat keluarga desa yang mengubah gandum hasil panen mereka menjadi roti.
Namun tahun lalu, kemarau membuat ratusan ribu orang meninggalkan rumah mereka dan juga memaksa petani yang tinggal di rumah mereka untuk menjual ternak dan peralatan mereka untuk bertahan hidup, sehingga membuatnya jadi tantangan tahun-ganda.
Banyak petani tak bisa menanam tanaman tahun lalu akibat cuaca sangat panas.
Jabbar (44), petani dari Provinsi Balkh di Afghanistan Utara, menjual kambing, sapi dan satu unta dengan potongan harga agar ia bisa membeli makanan buat 12 anggota keluarganya, demikian seperti dilansir dari Reuters, Kamis (28/3/2019).
Banjir baru-baru ini merendam sebagian tanahnya yang telah ditanami kacang polong dan gandum.
"Saya memiliki keluarga besar, jadi tanggung-jawab saya lah untuk memberi mereka makan. Jika hujan atau tidak, itu berbahaya buat kami," kata Jabbar. Ia merujuk kepada dua kerusakan akibat kemarau dan banjir.
"Saya berharap saya bisa memperoleh hasil bagus tahun ini," ia menambahkan.
Bencana Banjir
Baca Juga: Tandingi Ajakan Jokowi Berbaju Putih ke TPS, BPN: Kami Kompak Rabu Biru
Banjir pada Maret menambah rumit pemulihan. Hujan lebat menewaskan sedikitnya 63 orang dan menghancurkan atau merusak lebih dari 12.000 rumah, mempengaruhi 119.600 orang, kata Kantor PBB bagi Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA).
Sebanyak 243.000 orang masih mengungsi akibat kemarau tahun lalu di Provinsi Herat, Badghis dan Ghor di Afghanistan Barat, kata OCHA. Banyak orang telah pindah ke daerah perkoraan tempat mereka hidup di tenda di tanah warga atau negara, sehingga menciptakan ketegangan dengan para pemilik tanah.
"Jika panen bagus, itu akan membantu masyarakat keluar dari masa suram yang mengerikan. Jika tidak, kami akan memerlukan suntikan banyak makanan secepatnya," kata Toby Lanzar, Wakil Utusan Khusus PBB untuk Afghanistan.
Gandum musim dingin yang dipanen pada Juni dan Juli akan diperlukan untuk memberi makan orang yang kehilangan tempat tinggal, dan sebanyak 10,6 juta orang yang berjuang untuk memperoleh cukup makanan di tempat mereka tinggal, kata Lanzer.
Pertanian memasok sepertiga ekonomi negeri tersebut, walaupun hanya 12 persen tanahnya subur.
Kemungkinan panen gandum tetap tak menentu, kata Menteri Pertanian Nasir Ahmad Durrani, dalam satu wawancara pada 20 Maret. Jika temperatur hangat terlalu cepat, salju yang mencair dapat menciptakan banjir yang menyapu tanaman yang sudah matang, katanya.
Berita Terkait
-
Banjir Bandang Terjang Iran, 17 Tewas dan Ratusan Orang Luka-luka
-
Heboh Makhluk Misterius Muncul di Danau Sentani Sebelum Terjadi Banjir
-
Pemda DIY Putar Otak Tangani Ancaman Longsor di Makam Raja Mataram
-
Pemerintah Tetapkan Status Tanggap Darurat di Bantul dan Gunung Kidul
-
Aksi Heroik Anggota TNI Selamatkan Bayi dari Banjir Tuai Pujian Warganet
Terpopuler
- 5 HP Xiaomi dengan Snapdragon 8 Elite Gen 5, Terkencang di 2026!
- 7 Sepatu Lari Tahan Air Selevel Nike Vomero 18 GTX, Kualitas Top
- Sunscreen SPF 50 Apa yang Bagus? Ini 5 Pilihan untuk Perlindungan Maksimal
- Harga Pertamax Naik Nyaris Rp18.000 di April Besok? Ini Kata Pertamina
- Foto Pangakalan Militer AS di Arab Saudi Hancur Beredar, Balas Dendam Usai Trump Hina MBS
Pilihan
-
Mulai Besok! BPH Migas Resmi Batasi Pembelian Pertalite dan Solar, Cek Aturan Mainnya
-
Masyarakat Diminta Tak Resah, Mensesneg Prasetyo Hadi Tegaskan Harga BBM Belum Ada Kenaikan
-
Clara Shinta Minta Tolong, Nyawanya Terancam karena Suami Bawa Senjata Api
-
Harga Pertamax Naik Nyaris Rp18.000 di April Besok? Ini Kata Pertamina
-
Petir Bikin Duel Kepulauan Solomon vs Saint Kitts and Nevis di Stadion GBK Ditunda
Terkini
-
Bos Gembong Narkoba Skotlandia Steven Lyons Ditangkap di Bali, Pimpin Sindikat 'Lyons Crime Family'
-
Zulhas Sebut PAN-Gerindra 'Koalisi Sepanjang Masa', Dasco: Kami Harap Ini Langgeng
-
Menaker Yassierli Sidak Perusahaan di Semarang Faktor THR Tak Dibayar Penuh
-
Babak Baru Kasus Andrie Yunus: Puspom TNI Izin LPSK Periksa Korban Usai Ditolak Dokter
-
Dapur MBG Kembali Beroperasi Usai Libur Lebaran, Relawan: Kangen Suara Ompreng
-
Jaga Semangat Belajar Siswa, Satgas PRR Kebut Renovasi Fasdik Terdampak Bencana
-
Usai Jepang, Presiden Prabowo Tiba di Korea Selatan Lanjutkan Diplomasi Asia Timur
-
'Kirim Putra Trump, Anak Netanyahu, dan Pangeran-pangeran Arab Perang ke Iran!'
-
Gudang Sound System di Kembangan Ludes Dilalap Api, 15 Unit Damkar Diterjunkan ke Lokasi
-
Siapkan Puluhan Saksi dan Ahli di Kasus Korupsi Satelit Kemhan, Kejagung: Untuk Yakinkan Hakim!