Suara.com - Bagi sebagian pihak, lockdown mungkin membawa kebahagian tersendiri karena bisa lebih dekat dengan anggota keluarga. Namun hal ini tak berlaku bagi para perempuan yang mengalami kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Para perempuan korban KDRT di Malaysia kini tengah menghadapi situasi sulit.
Sebagai informasi, periode lockdown Malaysia kini telah memasuki satu bulan pertama sejak pertama diberlakukan mulai 18 Maret lalu. Selama lockdown ini, jumlah kasus kekerasan yang dialami perempuan ternyata mengalami peningkatan.
Melansir laman World of Buzz, Rabu (21/4/2020), lockdown Malaysia malah membuat para perempuan yang terjebak dalam hubungan tidak sehat, lebih mudah mengalami kekerasan yang dilakukan oleh pasangan seiring mereka lebih banyak menghabiskan waktu di rumah.
Berdasarkan data dari Organisasi Bantuan Perempuan Malaysia (WAO), jumlah perempuan yang mengalami kekerasan dalam rumah tangga dalam rentang Februari hingga Maret 2020 telah mengalami peningkatan sebanyak 44,4 persen.
Pihak WAO membeberkan telah menerima setidaknya 226 pelaporan pada Januari, 250 laporan di Februari, dan 361 pada Maret. Adapun laporan ini diterima melalui layanan hotline kekerasan dalam rumah tangga.
Bagian Advokasi dan Komunikasi WAO, Tan Heang-Lee, mengatakan para korban yang tengah menjalani isolasi mandiri di rumah memiliki risiko yang lebih besar lantaran berada di lokasi yang sama dengan pelaku, dalam periode yang lama.
Selain itu, keadaan ini juga membuat para perempuan ini kesulitan untuk mencari bantuan mengingat pelaku mungkin memantau setiap gerakan mereka.
"Kekerasan dalam rumah tangga terjadi akibat usaha untuk mempertahankan kekuasaan dan kontrol," Kata Tan.
Tan juga menambahkan, periode lockdown ini dapat memicu perilaku pelaku semakin buruk mengingat tekanan situasi sulit saat isolasi bisa berngaruh pada kondisi kesehatan dan keuangan.
Baca Juga: Kim Yo Jong Diyakini Bakal Pimpin Korut Jika Kim Jong Un Wafat
Berkaca pada kurangnya tempat berlindung bagi para perempuan korban kekerasan dalam rumah tangga selama lockdown, pihak WAO telah berusaha mendesak pemerintah untuk menyediakan fasilitas berlindung yang aman seperti hotel, hostel, atau bekerjsama dengan pihak swasta.
Berita Terkait
Terpopuler
- Bedak Apa yang Tahan Lama? Ini 5 Produk yang Bisa Awet hingga 12 Jam
- 5 Pemain Top Dunia yang Berpotensi Ikuti Jejak Layvin Kurzawa Main di Super League
- Pasca Penonaktifan, 3.000 Warga Kota Yogyakarta Geruduk MPP untuk Reaktivasi PBI JK
- 10 HP OPPO RAM 8 GB dari yang Termurah hingga Flagship 2026
- 4 Pilihan Smart TV 32 Inci Rp1 Jutaan, Kualitas HD dan Hemat Daya
Pilihan
-
Bocah-bocah di Sarang Polisi: Asal Tangkap Perkara Aksi Agustus
-
Selamat Jalan 'Babeh' Romi Jahat: Ikon Rock N Roll Kotor Indonesia Tutup Usia
-
Sidang Adat Pandji Pragiwaksono di Toraja Dijaga Ketat
-
Ziarah Telepon Selular: HP Sultan Motorola Aura Sampai Nokia Bunglon
-
Ucap Sumpah di atas Alkitab, Keponakan Prabowo Sah Jabat Deputi Gubernur BI
Terkini
-
Prihatin atas Pengunduran Diri Uskup Bogor, Umat Katolik Gelar Aksi di Kedutaan Vatikan
-
Cegah Penyakit Sejak Dini, Menkes Budi Tekankan Pentingnya Cek Kesehatan Rutin untuk Pekerja
-
Bertemu Mensos, Rieke Diah Pitaloka Dorong Akurasi Data Tunggal Nasional
-
Mensos Gus Ipul: BPJS PBI Pasien Penyakit Kronis Aktif per Hari Ini
-
Silaturahmi dengan Ulama Aceh, Kasatgas Tito: Pentingnya Dukungan Spiritual bagi Korban Bencana
-
Pemerintah Salurkan Bantuan Beras dan Minyak Selama Ramadan, 35 Juta Keluarga Jadi Sasaran
-
Iuran Rp17 Triliun! Masyumi Beri Syarat Ketat ke Prabowo Soal Gabung 'Board of Peace' Donald Trump
-
Lampu Hias Semanggi Tiga Kali Raib, Pramono Bongkar Biang Keladi Lemahnya Pengawasan di Jakarta
-
Pemerintah Siapkan Stimulus Rp911 Miliar untuk Diskon Tiket Mudik Lebaran
-
Analis Sebut Pidato Berapi-api Jokowi untuk PSI Sebagai Blunder Politik