Suara.com - Pemerintah akan menerapkan skema new normal atau era tatanan baru yang diklaim mampu berdampingan dengan pandemi virus Covid-19. Wacana tersebut kini sedang gencar digaungkan oleh pemerintah.
Terkait wacana tersebut, sejumlah pihak turut memberikan sorotan. Salah satunya adalah pekerja yang kini kantornya tidak lagi menerapkan kebijakan work from home atau bekerja dari rumah.
Rizky (27), salah satu pekerja yang bekerja untuk perusahaan salah satu media hingga kini belum paham soal wacana new normal. Dia berpendapat, wacana new normal ala pemerintah bertujuan untuk apa --karena tak ada penjelasan lebih gamblang dan detil.
"Saya kurang paham soal new normal yang digaungkan pemerintah. New normal maksud dan tujuannya itu apa, pemerintah belum terbuka soal ini dan belum bisa menjelaskan. lagi pula tidak ada rujukan new normal itu dalam aturan," ujar Rizky kepada Suara.com, Jumat (29/5/2020).
Rizky pun masih belum paham ihwal pernyataan Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang menyatakan masyarakat harus berdamai dengan virus Corona. Bagi dia, berdamai dengan virus corona adalah bentuk pasrah pada keadaan saat ini.
"Saya tidak paham apa yang di rencanakan pemerintah terkait new normal ini. Damai sama corona itu sama dengan pasrah dengan keadaan yang ada. Bukankah harusnya kita meningkatkan penanganan terkait virus, bukan berdamai," jelasnya.
Rizky berpendapat, seharusnya pemerintah melakukan kajian yang matang jika ingin menerapkan new normal. Dia mencontohkan, kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yant diberlakukan di sejumlah wilayah belum efektif --sebab kasus positif Covid-19 selalu bertambah setiap harinya.
"Pemberlakuan new normal tanpa kajian yang matang adalah kecerobohan dan bisa memperparah keadaan. Rakyat bisa banyak mati karena virus. Sekarang aja pemerintah belum jelas soal new normal, beberapa daerah masih PSBB dampaknya maayarakat juga melihat ini tidak jelas. Apalagi kasus corona di Indonesia itu sangat tinggi," beber Rizky.
Sebelumnya, Presiden Joko Widodo menegaskan belum akan melonggarkan kebijakan PSBB yang berlaku di sejumlah daerah di Tanah Air.
Baca Juga: Dibatasi 500 Jemaah, Masjid di Bekasi Gelar Jumatan Seusai 2 Bulan Ditutup
Namun, Kepala Negara juga mengatakan pemerintah terus melakukan pemantauan berdasarkan data dan fakta di lapangan untuk menentukan periode terbaik bagi periode tahapan masyarakat kembali produktif namun tetap aman dari Covid-19.
"Kita harus sangat hati-hati. Jangan sampai kita keliru memutuskan. Tapi kita juga harus melihat kondisi masyarakat sekarang ini. Kondisi yang terkena PHK dan kondisi masyarakat yang menjadi tidak berpenghasilan lagi. Ini harus dilihat," ujar Jokowi dalam pernyataannya di Istana Merdeka, Jakarta, pada Jumat, 15 Mei 2020.
Lebih lanjut Presiden mengatakan, nantinya, masyarakat di Indonesia bisa beraktivitas normal kembali namun harus menyesuaikan dan hidup berdampingan dengan Covid-19.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga telah menyatakan bahwa terdapat potensi bahwa virus ini tidak akan segera menghilang dan tetap ada di tengah masyarakat.
"Informasi terakhir dari WHO yang saya terima bahwa meskipun kurvanya sudah agak melandai atau nanti menjadi kurang, tapi virus ini tidak akan hilang. Artinya kita harus berdampingan hidup dengan Covid-19. Seperti yang saya sampaikan sebelumnya, berdamai dengan Covid. Sekali lagi, yang penting masyarakat produktif, aman, dan nyaman," kata Jokowi.
Tag
Berita Terkait
-
Masyarakat Sudah Pentahelix, Pemerintah Harus Satu Komando dan Konsisten
-
Penerapan New Normal di Area Stasiun, Penumpang KRL Kini Diawasi Tentara
-
Bersiap New Normal, Siswa di Bekasi Diminta Belajar Satu Meja Sendiri
-
New Normal, 75 Persen Kantor Cabang Bank Mandiri Akan Kembali Beroperasi
-
Patuhi Aturan di Masa New Normal, Penumpang KRL Kini Diawasi Tentara
Terpopuler
- Pentagon Gelar Karpet Merah, Sjafrie Sjamsoeddin Dituding Bawa Agenda Akses Bebas di Langit RI
- 6 Sabun Cuci Muka yang Bagus untuk Memutihkan Wajah dan Harganya
- AS Blokade Semua Pelabuhan Iran Senin Hari Ini, Harga BBM Langsung Naik
- 7 HP Murah di Bawah Rp1 Juta Paling Layak Beli di 2026, Performa Oke Buat Harian
- 7 HP Samsung Seri A yang Sudah Kamera OIS, Video Lebih Stabil
Pilihan
-
Polisi: Begal Petugas Damkar Tertangkap Saat Pesta Narkoba Didampingi Wanita di Pluit
-
Warga Sambeng Borobudur Terancam Kehilangan Mata Air, Sendang Ngudal Dikepung Tambang
-
Rivera Park Tebo Terancam Lagi, Tambang Ilegal Kembali Beroperasi Saat Wisatawan Membludak
-
Bukan Merger, Willy Aditya Ungkap Rencana NasDem-Gerindra Bentuk 'Political Block'
-
Habis Kesabaran, Rossa Ancam Lapor Polisi Difitnah Korban Operasi Plastik Gagal
Terkini
-
Mengenal Oghab 44, Benteng Bawah Gunung Iran yang Siap Hancurkan Armada AS di Selat Hormuz
-
Polisi: Begal Petugas Damkar Tertangkap Saat Pesta Narkoba Didampingi Wanita di Pluit
-
Kelaparan Hantui India Usai LPG Langka Imbas Perang Iran, Buruh di Kota Balik ke Desa
-
DO Saja Tak Cukup, DPR Minta Mahasiswa FH UI Pelaku Pelecehan Seksual Diseret ke Ranah Pidana
-
Jangan Sampai Menyesal! Ini Risiko Besar Jika Berangkat Haji Tanpa Visa Sah
-
Dosen Universitas Budi Luhur Inisial Y Dipolisikan, Diduga Cabuli Mahasiswi Sejak 2021
-
Soroti Angkot Ngetem Picu Macet, Pramono Anung Bakal Tambah Armada Mikrotrans dan JakLingko
-
Sisi Humanis Warga Iran, Tawarkan Buah ke Jurnalis Padahal Rumahnya Hancur Lebur Habis Diserang
-
Tak Cuma Kepala Dinas, Bupati Tulungagung Diduga Peras Sekolah dan Camat
-
Ikhtiar Mbah Kibar Melawan Sita Bank dengan Goresan Kuas, Bukan Belas Kasihan