Saya menutup diri saya dengan kain penutup, tetapi tetap merasa kedinginan. Saya khawatir saya akan kehilangan bayi saya.
Beberapa jam kemudian, seorang pejalan kaki memberi tahu kami ada jembatan di dekatnya. Jaraknya hampir lima kilometer dengan jalan kaki.
Beberapa malam berikutnya, kami menghabiskan uang terakhir kami untuk membeli makanan dan minuman, tidur di bawah jembatan dan di stasiun.
Saya tidak pernah membayangkan akan berakhir tunawisma atau tidur di jalanan Inggris. Saya tidak tahu hal-hal seperti itu bisa terjadi.
Saya telah melarikan diri dari Namibia karena saya takut akan keselamatan nyawa saya. Saya melarikan diri dari perkosaan dan penyiksaan yang saya alami sejak usia sembilan tahun.
Dan sekarang saya khawatir akan mati kedinginan, khawatir akan kehilangan bayi saya dan semuanya akan sia-sia.
"Saya dilarikan ke rumah sakit"
Setelah lima malam tidur di jalan, bidan--yang telah disediakan untuk saya dalam dua minggu pertama saya di Inggris--menghubungkan kami dengan badan amal tuna wisma, Crisis.
Mereka menyediakan tempat sementara bagi kami sampai awal Januari dan membantu kami meminta suaka lagi ke Departemen Dalam Negeri Inggris.
Baca Juga: Kendaraan Pribadi Jadi Taksi Online? Waspadai Asuransi Mobil Bisa Gugur
Kemudian, suatu hari, saya tidak bisa merasakan bayi saya, sehingga saya dilarikan ke rumah sakit.
Pemeriksaan itu menyimpulkan saya dan bayi saya baik-baik saja, tetapi staf rumah sakit tidak akan melepaskan saya sampai mereka tahu saya memiliki tempat yang aman untuk pergi.
Mereka membantu kami menghubungi Departemen Dalam Negeri dan bertanya tentang pengajuan suaka kami, dan, pada hari ketiga saya tinggal di rumah sakit, permintaan suaka kami dikabulkan dan kami ditempatkan di sebuah rumah di Thornton Heath.
Penolakan sebelumnya terjadi karena kesalahan dalam aplikasi.
Itu sangat melegakan.
"Saya merasa gagal menjadi ibu bagi putri saya"
Saya melahirkan pada bulan Februari 2019 dan satu bulan kemudian kami ditempatkan di sebuah rumah di London timur.
Hidup akhirnya mulai bergerak maju lagi.
Saya menjalin pertemanan baru, dan mulai pergi ke Magpie--sebuah badan amal yang membantu para ibu dan anak-anak di tempat akomodasi sementara--di mana saya bisa mendapatkan popok, bersosialisasi dengan ibu-ibu lain dan melakukan banyak kegiatan .
Tapi kemudian virus corona melanda, dan semuanya berhenti.
Magpie menghubungkan saya dengan badan amal lain bernama Beam, yang mengumpulkan uang untuk kursi makan anak dan tablet dengan aplikasi pendidikan untuk putra saya, juga laptop sehingga saya dapat meningkatkan kemampuan bahasa Inggris dan mudah-mudahan mendapatkan pekerjaan segera setelah status saya diberikan.
Laptop akan baik untuk keluar dari isolasi ini.
Dengan sedikitnya aktivitas yang bisa saya lakukan, saya semakin cemas setiap hari, mengkhawatirkan keselamatan putri saya, Beverley.
Saya merasa gagal sebagai seorang ibu, bahwa saya tidak melindunginya, saya egois.
Saya berharap status saya segera diputuskan, karena dengan itu, saya bisa mengajak putri saya bersatu dengan kami.
Saya berharap dia ada di sini bersama kami, sehingga hidup saya akhirnya bisa dimulai.
Departemen Dalam Negeri Inggris mengatakan mereka "berkomitmen untuk memastikan klaim suaka dipertimbangkan tepat waktu" dan bahwa semua keputusan dibuat "berdasarkan bukti yang tersedia pada saat itu".
Seperti yang diceritakan kepada Winnie Agbonlahor
Berita Terkait
-
5 Tips Memilih Body Lotion yang Aman untuk Ibu Hamil: Kulit Lembap, Janin Sehat
-
Amankah Ibu Hamil Pakai Parfum? Ini Penjelasan Dokter Kandungan
-
Sudah 59 Nyawa Melayang! Komnas HAM Tagih Janji Pemerintah Urus 100 Ribu Pengungsi Papua
-
Bukan Cuma Peluru, Pengungsi Papua Terancam Putus Sekolah dan Minim Medis
-
4 Sunscreen Aman Dipakai Ibu Hamil dan Busui untuk Perbaiki Skin Barrier
Terpopuler
- Parfum Paling Wangi Rasa Apa? Ini 5 Rekomendasi Aroma yang Populer
- 5 Rekomendasi Lipstik Wardah untuk Usia 40-an yang Elegan, Nyaman di Bibir dan Awet
- 5 HP Samsung Galaxy A Series Termurah: Layar Super AMOLED, 5G hingga NFC
- Rapor Duo Timnas Indonesia Ole Romeny dan Hubner Saat Fortuna Sittard Hadapi Olympiacos
- Pesaing Vario 125 dari Yamaha, Tampang Bernuansa R1M
Pilihan
-
Tersangka Don Ritto Dikawal Rantis Brimob saat Tiba di Kejagung, Emas hingga Brankas Ikut Dibawa
-
Banggar DPR Dorong Sinkronisasi Belanja Pusat dan Daerah untuk Percepat Pembangunan Jawa Timur
-
Isu Mutasi Besar-besaran di Kementerian PU Buntut Dokumen Menteri Dody Tersebar
-
Gianni Infantino Resmi Digugat! Hubungan Gelap dengan Donald Trump Dibongkar
-
Niat Hindari Ribut dengan Alasan Beli Kuota, Pria Palembang Malah Dikejar dan Ditembak
Terkini
-
Seragam Sekolah yang Layak Masih Jadi Mimpi Sebagian Anak Indonesia
-
Indonesia Gabung WAICO, Pemerintah Tegaskan AI Bukan Ajang Pilih Kubu China-AS
-
3 Sunscreen Jepang agar Kulit Tampak Awet Muda, Lengkap Review Pembeli
-
Perjalanan Irwansyah Damanik, dari Pedagang Pasar Malam ke Bintang Warintil
-
Kemendag Menang Sengketa WTO, Akses Ekspor Rp7,34 Triliun ke Eropa Berhasil Diselamatkan
-
Tumpuk Sampah Sembarangan di Jakarta Bisa Berujung Denda Rp 500 Ribu
-
Meski Amplop Dikembalikan, KPK Bisa Jerat Raja Juli dengan Pasal Suap dan Gratifikasi
-
Anak Kecanduan Gawai Picu Gagal Ginjal dan Diabetes, Dedi Mulyadi Beri Peringatan Keras
-
Sopir Truk Wing Box Jadi Tersangka Kecelakaan Maut Pantura yang Tewaskan 12 Pengantar Pengantin
-
Lebak Darurat Air Bersih, Kemarau Panjang Landa 90 Desa di 23 Kecamatan