Suara.com - Warga Yaman berbondong-bondong beralih menggunakan pengobatan herbal tradisional untuk menangkal infeksi virus Corona, usai fasilitas kesehatan mulai kewalahan selama berlangsungnya pandemi.
Menyadur RTL, sistem kesehatan Yaman sudah runtuh sejak perang antara pemerintah dan pemberontak Huthi pecah pada 2014. Wabah virus Corona memperparah situasi yang ada.
Di kota barat daya Taez, para pedagang pasar memperoleh untung setelah warga Yaman berbondong-bondong membeli ramuan herbal yang memiliki harga jauh lebih terjangkau dari obat modern.
"Banyak orang datang untuk membeli ramuan obat untuk membuat ramuan yang diyakini berhasil memerangi virus," kata salah satu penjual, Bashar al-Assar, di pasar Al-Shanini dikutip RTL, Selasa (23/6/2020).
"Obatnya dijamin, dicoba dan efektif untuk memperkuat kekebalan," tambahnya.
Virus Corona merupakan satu dari banyaknya kegetiran yang ahrus dihadapi warga Yaman, setelah bertahun-tahun terjebak di tengah konflik peperangan.
Menurut penduduk dan dokter di Aden, kota selatan tempat pemerintah berpusat, rumah sakit sudah terlalu padat dan berada di bawah tekanan ekstrim karena jumlah kasus COVID-19 yang terus meningkat.
Yaman sejauh ini telah mencatatkan kasus infeksi virus Corona di bawah 1.000 kasus dengan kematian mencapai 257 orang. Namun, klinik dan sebagian besar rumah sakit tak memiliki perlengkapan yang memadai untuk melawan virus bernama ilmiah Sars-CoV-2 itu.
Belum lagi prediksi bahwa jumlah kasus Corona di Yaman seharusnya lebih tinggi dari pada yang dilaporkan, lantaran tingkat tes yang begitu kecil.
Baca Juga: Jadi Zona Merah COVID-19, Wali Kota Surabaya Risma Ubah Cara Tracing
"Kami tidak memiliki persiapan, tidak ada peralatan, tidak cukup obat, dan tidak cukup staf medis untuk memerangi penyebaran virus," kata Jalal Nasser, seorang dokter di sebuah rumah sakit di Aden.
"Tidak ada staf terlatih untuk menangani pandemi ini," tandasnya.
Berita Terkait
-
Tiga Obat Herbal Ampuh untuk Atasi Asam Urat, Bisa Beli di Pasar!
-
Yaman Hadapi Covid-19 di Tengah Perang, Kolera, dan Kelaparan
-
Tanpa Ribet, ini 4 Obat Radang Tenggorokan Rumahan yang Praktis
-
Manjur untuk Pasien Covid-19, Obat Herbal Indonesia Akan Diteliti Oleh IAI
-
Pemerintah Sedang Uji Klinis Obat Herbal COVID-19 di Wisma Atlet
Terpopuler
- Tak Terima Ditahan KPK, Titin Rita Lestari Bongkar Peran Atasan di Kasus Suap BPK Muara Enim
- Tak Ikut Aksi Bareng Mahasiswa di Bundaran HI Hari Ini, Said Iqbal Ungkap Alasan Buruh
- Mengapa Pertalite Mau Dihapus?
- Indonesia Sudah Capek! Mahasiswa UI Serukan Demo di Bundaran HI, Tuntut Prabowo Akui Kesalahan
- 5 Lipstik Rekomendasi Fuji yang Tahan Lama, Tidak Kering dan Anti Pecah-Pecah
Pilihan
-
Aliansi Rakyat Memanggil Kritik Sederet Program Pemerintah, Tuntut Prabowo-Gibran Lengser
-
Hasil Piala Dunia 2026: Hajar Paraguay, Start Sempurna Amerika Serikat
-
Neymar Dipastikan Absen di Piala Dunia 2026, Kesalahan Pertama Ancelotti
-
Thamrin Lumpuh Total, Massa Aksi Mengular hingga Dukuh Atas Hingga Jumat Malam
-
Ngotot Mau Demo di Bundaran HI Meski Dihadang Aparat, Mahasiswa: Istana dan DPR Tak Mendengar Kami!
Terkini
-
Hanya Kirim PDF Tanpa Balasan, Polres Jakpus Jelaskan Soal Aksi BEM UI Tak Ajukan Izin Resmi
-
3 Fakta Dugaan Korupsi MBG: Kejagung Geledah Enam Lokasi, DPR Minta Program Dihentikan
-
Jangan Adu Rakyat vs Rakyat, TB Hasanuddin Tegaskan Komcad Tak Boleh Hadapi Demo Mahasiswa
-
Nasib 21 Ribu Motor Listrik Era Dadan, Jadi Besi Tua atau Dipaksa Jalan Demi MBG?
-
Divonis 13 Tahun Penjara, Sejumlah Pakar Duga Ada Kejanggalan di Putusan Hukum Arief Pramuhanto
-
Partai Gelora Desak Penghapusan Threshold, Klaim DPR Buka Ruang Diskusi
-
Anis Matta Akui Partai Gelora Terganjal Logistik, Urusan Pendanaan Jadi Persoalan Besar
-
ICW: Vonis Rendah Pejabat BPK Tak Beri Efek Jera, Korupsi Terus Berulang
-
Warga Jakarta Bisa Masuk Gratis ke Ancol dan Ragunan, Cek Jadwal dan Caranya
-
Evaluasi MBG dan Krisis Regenerasi Petani Jadi Sorotan, Dudung Akui Program Perlu Ditata Ulang