Suara.com - Sekitar setengah juta bayi dan 6,67 juta orang dilaporkan meninggal akibat polusi udara sekaligus menjadikannya faktor keempat yang menyebabkan kematian dini.
"Polusi udara adalah faktor risiko lingkungan utama untuk kematian dini, dengan total dampaknya melebihi tekanan darah tinggi (10,8 juta), penggunaan tembakau (8,71 juta), dan risiko makanan (7,94 juta)," jelas State of Global Air 2020, disadur dari Anadolu Agency, Rabu (21/10/2020).
"[Karena pembatasan Covid-19 yang belum pernah terjadi sebelumnya], data pemantauan kualitas udara berbasis satelit dan darat telah menunjukkan penurunan substansial dalam konsentrasi polutan seperti nitrogen dioksida (NO2) dan, dalam beberapa kasus, pengurangan sederhana untuk polutan lain seperti PM2. 5," jelas laporan tersebut.
Laporan tersebut juga menambahkan bahwa perubahan positif terhadap udara bersih ini hanya bersifat sementara, karena dengan pencabutan pembatasan, emisi kembali meningkat dengan cepat.
Di seluruh dunia, pandemi Covid-19 telah merenggut lebih dari 1,12 juta jiwa di 189 negara dan wilayah sejak Desember lalu.
Lebih dari 40,83 juta kasus Covid-19 telah dilaporkan di seluruh dunia, sekitar 28 juta dilaporkan sembuh, menurut data dari Universitas Johns Hopkins Amerika Serikat.
Laporan tersebut juga menyebutkan bahwa polusi udara juga menyebabkan 500.000 kematian pada bayi berusia muda di seluruh dunia tahun lalu.
"Kami tidak sepenuhnya memahami mekanisme apa pada tahap ini, tetapi ada sesuatu yang terjadi yang menyebabkan penurunan pertumbuhan bayi dan akhirnya meninggal. Ada hubungan epidemiologis, yang ditampilkan di berbagai negara dalam berbagai penelitian." jelas Katherine Walker, ilmuwan utama di Health Effects Institute, yang menerbitkan laporan tersebut
Bayi yang lahir dengan berat badan lahir rendah lebih rentan terhadap infeksi pneumonia. Paru-paru bayi prematur juga belum bisa berkembang sempurna.
Baca Juga: Klaim Kebal Covid-19, Donald Trump Dapat Julukan 'Superman' dari Pendukung
"Mereka dilahirkan di lingkungan dengan polusi tinggi, dan lebih rentan dibandingkan anak-anak yang menjalani masa kehamilan normal," kata Dan Greenbaum, presiden Health Effects Institute di Amerika Serikat.
Beate Ritz, profesor epidemiologi di UCLA, (University of California, Los Angeles), yang tidak terlibat dalam penelitian tersebut, mengatakan polusi udara dalam ruangan di kota-kota di seluruh India, Asia Tenggara dan Afrika sebanding dengan di Victoria London.
Laporan tersebut juga mencatat bahwa tiga negara dengan polusi udara tertinggi di seluruh dunia adalah India, Nepal, dan Niger, sedangkan tiga negara dengan paparan terendah adalah Australia, Brunei Darussalam, dan Kanada pada 2019.
"Dampak [polusi udara] pada orang yang terkena dampak jelas didominasi oleh negara-negara di Asia Selatan dan Timur, terutama di India dan China," jelas laporan tersebut.
Laporan itu juga menjelaskan sejak 2010, penggunaan bahan bakar padat telah menurun secara perlahan dan stabil di sebagian besar wilayah, khususnya di Asia Selatan dan Asia Tenggara, Asia Timur, dan Wilayah Super Oseania.
Berita Terkait
Terpopuler
- Lipstik Warna Apa yang Cocok di Usia 50-an? Ini 5 Pilihan agar Terlihat Fresh dan Lebih Muda
- 5 Rekomendasi Sampo Kemiri Penghitam Rambut dan Penghilang Uban, Mulai Rp10 Ribuan
- 5 Sampo Uban Sachet Bikin Rambut Hitam Praktis dan Harga Terjangkau
- 5 Rekomendasi Sepatu Adidas untuk Lari selain Adizero, Harga Lebih Terjangkau!
- 5 Cat Rambut yang Tahan Lama untuk Tutupi Uban, Harga Mulai Rp17 Ribuan
Pilihan
-
Untuk Pengingat! Ini Daftar Korban Tewas Persib vs Persija: Tak Ada Bola Seharga Nyawa
-
Kriminalisasi Rasa Tersinggung: Mengadili Komedi 'Mens Rea' Pandji Pragiwaksono
-
Duduk Perkara Ribut Diego Simeone dengan Vinicius Jr di Laga Derby Madrid
-
5 HP Xiaomi RAM 8GB Paling Murah Januari 2026, Harga Mulai Rp2 Jutaan
-
Rupiah Terkapar di Level Rp16.819: Kepercayaan Konsumen Lesu, Fundamental Ekonomi Jadi Beban
Terkini
-
KPK Ungkap Akal Bulus Korupsi Pajak PT Wanatiara Persada, Negara Dibobol Rp59 M
-
5 Fakta OTT Kepala Pajak Jakut: Suap Rp6 Miliar Lenyapkan Pajak Rp59 Miliar
-
Megawati Tiba di Rakernas PDIP, Siapkan Arahan Tertutup Usai Disambut Prananda Prabowo
-
Gus Yaqut Tersangka Skandal Haji, Tambah Daftar Panjang Eks Menteri Jokowi Terjerat Korupsi
-
Konsisten Tolak Pilkada Lewat DPRD, PDIP: Masa Hak Rakyat Bersuara 5 Tahunan Mau Diambil?
-
Pakar Klarifikasi: Bongkar Tiang Monorel Rasuna Said Hanya Rp300 Juta, Bukan Rp100 Miliar
-
Selamat Tinggal Rompi Oranye? KPK Tak Akan Lagi Pamerkan Tersangka Korupsi di Depan Kamera
-
PDIP: Kami Penyeimbang, Bukan Mendua, Terungkap Alasan Ogah Jadi Oposisi Prabowo
-
Subuh Mencekam di Tambora: Api Amuk 15 Bangunan, Kerugian Tembus Rp1,7 Miliar
-
Trump Dikabarkan Kirim Operasi Khusus Militer AS untuk 'Caplok' Greenland