Suara.com - Anggota Komisi IX DPR RI Muchamad Nabil Haroen menilai kalau Penerapan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) harus dilakukan secara lebih tegas supaya efektif. PPKM juga harus selalu dievaluasi berdasarkan data dan riset.
Presiden Joko Widodo (Jokowi) sempat menyebutkan kalau pelaksanaan PPKM Jawa-Bali tidak efektif. Karena penilaian Jokowi tersebut, maka sebaiknya PPKM dievaluasi guna kebijakan pemerintah berikutnya.
"PPKM merupakan upaya dari pemerintah, yang memang harus terus menerus dievaluasi apakah efektif atau tidak. Dari evaluasi itu, yang tentu harus berbasis data dan riset, yang sesuai dengan temuan di lapangan," kata Nabil dalam keterangan tertulisnya, Senin (1/2/2021).
Selain itu, Nabil juga menganggap kalau kebijakan PPKM harus dilaksanakan secara tegas dengan melibatkan organisasi masyarakat (ormas) supaya sosialisasi lebih masif. Ia juga menilai kalau informasi soal PPKM harus sampai ke RT/RW.
"Nah, ke depan, penting agar semua daerah di Jawa Bali ikut PPKM, tidak hanya beberapa kawasan saja," ujarnya.
Terkait efektivitas kebijakan pemerintah saat, pemerintah dilihat Nabil perlu melihat data secara valid baik dari peta persebaran kasus maupun kondisi di rumah sakit. Menurutnya, pemerintah harus melihat tren kenaikan kasus selama beberapa pekan.
Sebelumnya, Jokowi mengevaluasi soal penerapan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Jawa-Bali sejak 11 Januari lalu.
Dia menyebut belum ada perbaikan dari segi penularan Covid-19 serta ekonomi di Indonesia.
Hal ini disampaikan Jokowi dalam rapat terbatas (ratas) di Istana Bogor pada Jumat (29/1/2021) lalu.
Baca Juga: Pandemi Virus Corona Picu Masalah Mata, Begini Cara Mencegahnya!
Rapat tersebut dihadiri Menko Maritim dan Marves Luhut Binsar Pandjaitan, Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin, Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo, Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto, dan Seskab Pramono Anung.
Menurut Jokowi, tidak masalah jika perekonomian melorot karena PPKM, asalkan penularan Covid-19 ikut berkurang. Namun, yang terjadi sekarang malah sebaliknya.
Berita Terkait
-
Andi Arief Sebut Moeldoko Ngaku Dapat Restu Jokowi Ambil Alih Demokrat
-
Pandemi Virus Corona Picu Masalah Mata, Begini Cara Mencegahnya!
-
Ini Pernyataan Lengkap AHY soal Upaya Lingkaran Jokowi Kudeta Demokrat
-
Ahli Ungkap Kapan Bisa Hidup Normal Usai Pandemi Covid-19, Benarkah 2024?
-
Harus Segera ke RS, Ini Dua Tanda Covid-19 Makin Parah
Terpopuler
- Apa Sunscreen Terbaik untuk Flek Hitam pada Usia 50 Tahun? Ini 5 Rekomendasi sesuai Review
- John Herdman Coret 27 Pemain Jelang Timnas Indonesia vs Kamboja di Piala AFF 2026
- 10 Simbol Feng Shui di Rumah Old Money yang Dipercaya Membawa Kemakmuran
- Jakarta Siap Pungut Pajak Mobil Listrik Tahun Ini, Kendaraan Mewah Kena hingga 75% PKB
- Dokter Tifa Menang, Sidang Kasus Ijazah Jokowi Resmi Dihentikan
Pilihan
-
Takut Lumpuh, Hotman Paris Pilih Mundur Jadi Pengacara Febrie Usai Pijit di Bojong Gede Tak Mempan
-
Saraf Terjepit, Hotman Paris Putuskan Mundur Jadi Kuasa Hukum Eks Jampidsus Febrie Adriansyah
-
Dokter Tifa Menang, Sidang Kasus Ijazah Jokowi Resmi Dihentikan
-
Menang Lima Gol, Timnas Putri Indonesia Back to Back Juara AFF Women's Cup 2026
-
Sudaryono Jabat Kepala BGN, Sudah Diworo-woro Istana Sejak Selasa Malam
Terkini
-
Guru SD di Buleleng Diduga Cabuli Murid, Polisi Lakukan Penyelidikan
-
Tak Ada Lagi Alasan Menunda! Kejagung Didesak Jebloskan Febrie ke Tahanan Usai Diperiksa Hari Ini
-
Strategi Bos Baru Toyota Dongkrak Laba Lewat Efisiensi dan Teknologi AI
-
Air Makin Langka, Warga Sukoharjo Terpaksa Mandi Sehari Sekali demi Berhemat
-
Rayakan HUT ke-70, Danamon Gelar Travel Fair dengan Promo Hemat hingga 70%
-
Waspada Glaukoma! Ahli Mata AHS Desak Lakukan Deteksi Dini
-
Tanya AI Cara Bebas Kredit, Pria Jakbar Malah Nekat Buat Laporan Begal Palsu
-
Momen Prabowo Singgung Londo Ireng 'Nyamar' jadi Pengamat dan Wartawan
-
IRGC: Iran Hancurkan Pusat Data Amazon karena Dukung Intelijen Amerika
-
Proyek Gas Terbesar Mulai Dibangun, Ini Dampaknya bagi Ekonomi