Suara.com - Pemimpin tertinggi Korea Utara, Kim Jong Un kini melarang penggunaan obat-obatan China di negaranya setelah salah satu nyawa pejabatnya tak tertolong setelah mendapat suntikan obat dari Negeri Tirai Bambu tersebut.
Menyadur Daily NK Jumat (21/05), Kim Jong Un dilaporkan sangat marah setelah mengetahui kejadian tersebut dan telah 'membersihkan' obat-obatan China dari rumah sakit besar di Pyongyang.
Pejabat yang tewas tersebut merupakan kesayangan Kim Jong Un dan masuk dalam birokrasi ekonomi negara. Pejabat itu berusia 60-an dan merupakan birokrat terpercaya yang bekerja sejak era Kim Jong Il.
Pria itu menderita penyakit yang berhubungan dengan jantung dan tekanan darah tinggi. Ia dirawat di Rumah Sakit Universitas Medis Pyongyang dan sempat menerima suntikan cocarboxylase, namun nyawanya tak tertolong.
Cocarboxylase biasanya digunakan untuk membantu pasien pulih dari kelelahan. Namun di Korea Utara, obat tersebut digunakan mengobati semua penyakit, mulai paru-paru, tekanan darah tinggi, bahkan infeksi menular.
Awalnya, dokter berpendapat bahwa pria itu harus diberi obat yang dibuat di Pabrik Farmasi Ryongheung Korea Utara. Tapi staf lain mengatakan suntikan yang diproduksi dalam negeri tak boleh diberikan pada pejabat tinggi tersebut.
Ketika Kim Jong Un murka ketika mengetahui pejabat kesayangannya diberi suntikan China dan memerintahkan larangan total penggunaan obat-obatan China di rumah sakit besar di Pyongyang.
Dia juga memerintahkan agar semua sampel vaksin COVID-19 buatan China dihapus dari penelitian yang sedang berlangsung untuk produksi vaksin dalam negeri.
Selama penyelidikan, pihak berwenang juga menemukan rumah sakit besar Pyongyang tidak menyimpan obat dengan benar. Mereka menyimpan obat di lemari es atau freezer yang tidak disuplai listrik.
Baca Juga: Kim Jong Un Larang Skinny Jeans dan Rambut Mullet, Dianggap Gaya Kapitalis
Korea Utara juga akan mengalami kesulitan dalam mengangkut dan menyimpan vaksin ketika menerimanya dari luar negeri.
“Tidak memiliki fasilitas penyimpanan di fasilitas medis akan menjadi masalah ketika negara tersebut menerima vaksin dari Organisasi Kesehatan Dunia [WHO],” kata sumber itu. “Saya sadar WHO juga tahu tentang masalah ini.”
Berita Terkait
Terpopuler
Pilihan
-
AS Blokade Semua Pelabuhan Iran Senin Hari Ini, Harga BBM Langsung Naik
-
Balas Rhoma Irama, LMKN Jelaskan Akar Masalah Royalti Musik Dangdut Jadi Rp25 Juta
-
Buat Kaum dengan Upah Pas-pasan, Nabung dan Investasi Adalah Kemewahan
-
Resmi! Liliek Prisbawono Jadi Hakim MK Gantikan Anwar Usman
-
Apartemen Bassura Jadi Markas Vape Narkoba, Wanita Berinisial E Diciduk Bersama Ribuan Barang Bukti!
Terkini
-
Tegas! PM Kanada Putus Ketergantungan kepada AS, Mark Carney: Kami Akan Berdikari
-
Donald Trump Perintahkan CENTCOM Cegat Semua Kapal di Selat Hormuz: Hancurkan Iran!
-
Amphuri Kritik Wacana War Tiket Haji: Jangan Abaikan Jemaah yang Antre Puluhan Tahun
-
AS Blokade Semua Pelabuhan Iran Senin Hari Ini, Harga BBM Langsung Naik
-
Survei Terbaru: Sempat Naik Tipis, Popularitas Trump Menukik Efek Selat Hormuz Masih Ditutup
-
Habiburokhman Bela Seskab Teddy soal 'Inflasi Pengamat': Ada Benarnya
-
Warga Iran Terancam Kelaparan Usai AS Blokade Pelabuhan Teheran, Bahkan Ada Dampak Buruk Lanjutan
-
Aksi Pemain Abroad Timnas Indonesia di Luar Negeri: Kevin Diks Cedera, Maarten Paes Gahar
-
Provokasi Zionis! Menteri Keamanan Israel Berdoa di Area Khusus Muslim Masjid Al Aqsa
-
Iran Ngotot Pungut Biaya di Selat Hormuz, PBB: Pelanggaran Hukum Internasional