Suara.com - Sekretaris Jenderal PDIP Hasto Kristianto secara blak-blakan menyinggung Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dengan julukan bapak bansos. Namun Demokrat tak tinggal diam kemudian memberikan responsnya.
Awalnya Hasto berbicara soal perjanjian batu tulis antara Prabowo Subianto dan Megawati Soekarnoputri kala berpasangan di Pilpres 2009 silam. Menurutnya perjanjian itu telah kandas pasca pasangan calon tersebut kalah dari SBY-Budiono di 2009.
Hasto kemudian menyinggung soal kekalahan Megawati dari SBY dua kali pada 2004 dan 2009 di ajang Pilpres. Ia menilai kala itu kemenangan SBY banyak manipulasinya. Hasto mengaku menjadi saksi kala SBY disebut telah melakukan manipulasi daftar pemilih tetap (DPT).
Lebih lanjut Hasto menyampaikan, manipulasi DPT tersebut kemudian dijadikan politisasi bansos oleh SBY ala Perdana Menteri Thailand Thaksin Shinawatra.
"Bagaimana politik bansos ala Thaksin itu dilakukan sehingga satu ada yang menjuluki SBY itu 'Bapak Bansos Indonesia'. Karena memang penelitian Markus Mietzner itu menunjukkan bagaimana dari bulan Juni 2008 sampai Februari 2009 ada dana sebesar USD 2 miliar yang dipakai untuk politik bansos karena meniru strategi Thaksin politic populism," kata Hasto dalam sebuah diskusi daring, Jumat lalu.
Mendengar Hasto menyinggung SBY dalam sebuah diskusi dengan menjuluki bapak bansos, Deputi Bappilu DPP Partai Demokrat angkat bicara.
Ocehan Hasto tersebut dianggap Demokrat sebagai bentuk kekecewaan semata lantaran Megawati dua kali tersungkur di dua Pilpres oleh SBY.
"Terkait dengan upaya pendiskreditan Hasto terhadap Pak SBY yang dijuluki sebagai Bapak Bansos kami pandang sebagai ekspresi kekecewaan karena pada masa itu dua kali berturut-turut kalah dalam Pemilu berhadapan dengan Pak SBY," kata Deputi Bappilu DPP Partai Demokrat, Kamhar Lakumani kepada Suara.com, Sabtu (29/5/2021).
Kamhar mengklaim, semua pihaknya yang mengerti tentang ekonomi pasti menilai kalau kebijakan bansos SBY kala itu sudah sangat tepat dilakukan.
Baca Juga: Sebut Buzer Ganjar Pranowo Lebay, Dady Palgunadi: Seolah Tertindas Demi Elektabilitas
"Kebijakan Pak SBY pada masa itu sangat tepat dengan memberi program Bansos dan BLT untuk menjaga daya beli masyarakat yang kala itu terjadi krisis ekonomi global pada 2008 dan sebagai kompensasi atas kenaikan BBM sehingga perekonomian nasional tetap terjaga dan terus tumbuh," tandasnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Jakarta Siap Pungut Pajak Mobil Listrik Tahun Ini, Kendaraan Mewah Kena hingga 75% PKB
- Dokter Tifa Menang, Sidang Kasus Ijazah Jokowi Resmi Dihentikan
- 6 Shio Paling Beruntung pada 23 Juli 2026, Keberuntungan Memihak
- Resmi Daftar Kemenkum, Partai Gerakan Rakyat Pastikan Usung Anies Baswedan Capres
- 5 Warna Lipstik Wardah untuk Bibir Hitam dan Kulit Sawo Matang
Pilihan
-
Febrie Adriansyah Resmi Ditahan Kejagung, Teriak Kriminalisasi Saat Digiring ke Mobil Tahanan
-
Takut Lumpuh, Hotman Paris Pilih Mundur Jadi Pengacara Febrie Usai Pijit di Bojong Gede Tak Mempan
-
Saraf Terjepit, Hotman Paris Putuskan Mundur Jadi Kuasa Hukum Eks Jampidsus Febrie Adriansyah
-
Dokter Tifa Menang, Sidang Kasus Ijazah Jokowi Resmi Dihentikan
-
Menang Lima Gol, Timnas Putri Indonesia Back to Back Juara AFF Women's Cup 2026
Terkini
-
MAXI Yamaha Day Jabar 2026 Pikat Komunitas dengan Budaya dan Alam Kuningan
-
Gap antara Kampus dan Industri Masih Lebar, Mahasiswa Bisa Rugi Kalau Tak Bersiap
-
Hanya Gara-gara Colokan Kabel, Bisnis MUA di Tuban Kebakaran Rugi Rp400 Juta
-
Tangis Ayah untuk NH, Dugaan Perundungan yang Berulang, Bocah Kelas 3 SD Meninggal
-
Gunung Anak Krakatau Erupsi Dua Kali: Abu Hitam Pekat Selimuti Langit Selat Sunda
-
Presiden Prabowo Subianto Sindir Wartawan Saat Bahas Tentang Kampanye Besar di Pidatonya
-
Hari Anak Nasional, Saatnya Perluas Ruang Belajar dan Kolaborasi untuk Dukung Tumbuh Kembang Anak
-
Honda ADV160 Ternyata Sanggup Tenggak Etanol 85 Persen, Harga Jauh Lebih Murah
-
Kulit Bersih Tanpa Rasa Kering dan Tertarik, Ini Pentingnya Memilih Cleansing Balm yang Gentle
-
Baru IPO, Emiten RANS Sudah Gonjang-ganjing! Satu Direktur Pilih Mundur