Suara.com - Epidemiolog dari Universitas Griffith Australia, Dicky Budiman, menilai Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat maupun Level berhasil membuat Indonesia terhindari dari skenario terburuk.
Meski begitu, angka kematian dan laju penularan di masyarakat masih tinggi, ia mengusulkan PPKM dilanjutkan minimal sepekan ke depan.
"Ini ada keberhasilannya menekan kasus, skenario terburuk tidak terjadi berhasil dihindari, karena tanpa PPKM sulit menghindari skenario terburuk, namun belum signifikan," kata Dicky saat dihubungi, Senin (9/8/2021).
"Seminggu ke depan masih bertahan dulu, kita beri waktu untuk relaksasi faskes dan penguatan 3T, 5M, dan vaksinasi," sambungnya.
Dia memprediksi lonjakan kasus masih akan terus terjadi hingga akhir Agustus bahkan September jika kondisi masih tetap sama.
"Kita belum melewati puncak beban di fasilitas kesehatan dan kematian, jadi sampai akhir Agustus masih rawan," jelasnya.
Dicky menyoroti angka testing yang tidak pernah meningkat bahkan semakin berkurang jelang akhir PPKM, hal ini berbahaya karena penularan di masyarakat tidak terdeteksi.
"Tes positivity rate ini masih jauh sekali dari yang ditargetkan di bawah 10 persen, laju penularan masih sangat tinggi, sebagian besar klaster tidak terdeteksi," ucapnya.
Penularan yang tidak terdeteksi ini, lanjut Dicky, membuat angka kematian di lingkungan penduduk semakin tinggi tanpa terkonfirmasi positif Covid-19.
Baca Juga: Puluhan TKA China Masuk Lagi di Tengah PPKM, Pengamat Sentil Begini
"Ini yang menempatkan kita lebih dari 17 bulan kita dalam level terburuk, dan ini sangat serius, itulah sebabnya di komponen akhir pandemi yaitu kasus kematian tinggi," katanya.
"Minimal ada satu juta testing, nah ini yang belum pernah kita lakukan," usul Dicky.
Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Level 4-1 akan berakhir pada hari ini, namun belum ada keputusan dari pemerintah diperpanjang atau tidak.
Berita Terkait
Terpopuler
- Lupakan Aerox atau NMAX, Skutik Baru Yamaha Ini Punya Traksi dan Agresivitas Sempurna di Trek Basah
- Ratusan Honorer NTB Diberikan Tali Asih Rp3,5 Juta Usai Putus Kontrak
- 3 Sampo yang Mengandung Niacinamide untuk Atasi Rambut Rontok dan Ketombe
- Anggota DPR RI Mendadak Usul Bangun 1.000 Bioskop di Desa Pakai Dana APBN 2027
- 4 Bedak Padat Wardah yang Tahan 12 Jam, Coverage Tinggi dan Nyaman Dipakai Seharian
Pilihan
-
Staf Ahli Gubernur Kaltim Bawa-Bawa Status 'Cucu Nabi' demi Redam Demo Massa
-
Cara Buka Tabungan Pesirah Bank Sumsel Babel dari HP, Tak Perlu Antre di Bank
-
Nathalie Holshcer Sebut Pengawal Pribadinya Ditembak Polisi, Minta Tanggung Jawab Polri
-
Modus Oknum Ustad di Lubuk Linggau Ajak Santri ke Kebun Sawit, Berujung Kasus Pencabulan
-
Bawa Bukti ke Istana, Purbaya 'Bongkar' 10 Perusahaan Sawit Manipulasi Harga Ekspor
Terkini
-
Persib Bandung Diharapkan Wagub Mampu Mendulang Prestasi di Level Internasional
-
Bukan Larang Berdagang, Satpol PP DKI Jelaskan Aturan Zona Steril di Bundaran HI
-
Menguatnya Dukungan Internasional Untuk Proposal Indonesia Tentang Tata Kelola Royalti Digital
-
Studi: Bahan Kimia Berbahaya dari Busa Pemadam Kebakaran Bertahan di Lingkungan hingga 33 Tahun
-
Polri Pastikan Blackout di Sumatera Bukan Sabotase, Ini Penyebab Aslinya
-
Misteri Matematika 80 Tahun Terpecahkan! OpenAI Selesaikan Soal Geometri Paling Sulit di Dunia
-
Dari Dapur hingga Ladang: Bagaimana Krisis Iklim Memengaruhi Kehidupan Perempuan?
-
Bukan Mistis! Anggota DPR Ungkap Dampak Ngeri Hoaks 'Pocong Begal' bagi Ekonomi Warga
-
Gelombang Panas Ekstrem di India Tewaskan 16 Orang, Suhu Tembus 45 Derajat
-
Piala Dunia 2026 dan Haji Jadi Jalan Damai AS-Iran? Negosiasi Disebut Hampir Rampung