News / nasional
Reza Gunadha | BBC
[BBC]

Suara.com - Semua orang yang mengklaim dirinya sebagai orang pribumi adalah pendusta. Sebab, jejak genetika yang ditinggalkan nenek moyang dalam setiap sel orang Indonesia membuktikan mereka adalah pendatang.

Karenanya, klaim diri sebagai manusia Indonesia asli terbukti tidak memiliki dasar ilmiah.

Cerita tentang sebagian leluhurnya berasal dari negeri Champa itu diungkapkan oleh neneknya lebih dari 30 tahun silam. Usianya ketika itu barangkali belum genap 10 tahun.

Disampaikan berulang-ulang oleh sang nenek, kata Champa — kini berada di wilayah Vietnam — akhirnya menjadi akrab dan menetap di benaknya.

Baca Juga: Besok Berlangsung Upacara HUT RI ke-76, Sistem Ganjil Genap Tetap Berlaku

Namun Sarie Febriane, sang bocah, saat itu tak menunjukkan minat untuk mencari tahu tentang negeri jauh itu.

"Saya enggak terlalu mikirin, kuanggap hanya dongeng seorang nenek." Sarie, seraya tergelak, mencoba membayangkan lagi apa yang dia pikirkan dahulu di hadapan neneknya.

Puluhan tahun kemudian, ketika Sarie merasakan kebutuhan untuk mengetahui lebih mendalam tentang dirinya dan leluhurnya, 'dongeng' mengenai negeri Champa itu — ternyata — bukanlah isapan jempol.

Informasi itu tidak dia dapatkan dari buku sejarah, tulang-belulang, atau artefak leluhur serta tumpukan arsip, tapi dari jejak genetik yang ditinggalkan nenek moyangnya di dalam tubuhnya sendiri.

Seperti diketahui, setiap orang membawa catatan dalam hampir setiap sel tubuhnya, dan Sarie memanfaatkan temuan para ahli genetika yang mampu membaca cerita yang tercatat dalam DNA manusia.

Baca Juga: JANGAN LEWATKAN Link Live Streaming Upacara Hari Kemerdekaan di Istana Merdeka

Asam deoksiribonukleat, lebih dikenal dengan DNA (deoxyribonucleic acid), adalah gudang maya tak terbatas yang menyimpan informasi biomedis dan jejak sejarah manusia — tak mungkin terhapus.

Melalui uji atau tes DNA, Sarie seperti terhubung kembali dengan nenek moyangnya sekaligus membuka "file tersembunyi" yang selama ini tak diketahuinya tentang siapa dirinya — juga kebenaran cerita sang nenek tentang Champa.

"Ternyata sesuai banget dengan cerita nenek dulu," ujar Sarie, kelahiran 1977, usai membaca hasil uji DNA-nya.

Latar belakang genetik Sarie memperlihatkan bahwa di dalam tubuhnya mengalir jejak moyang berbeda, yaitu dari Asia Tenggara (93,7%) dan Asia Timur (6,25%) — campuran, begitulah.

"Gen dari Asia Tenggara itu ada dari Thai, Malaysia, Kamboja, Burma. Semuanya 61,56%. Tapi Vietnam paling besar, yaitu 32,19%," ungkap jurnalis surat kabar Kompas ini. "[Gen] Vietnamnya gede banget!"

Belakangan, ibu dua anak ini mengorek informasi lebih mendalam kepada ibunya tentang kepastian pertautan antara leluhurnya di Keraton Pakubuwono, Solo, dan negeri Champa.

Dan, petikan-petikan dongeng neneknya, serta sudut-sudut negeri Vietnam yang pernah dia kunjungi, kembali muncul sekelebat, ketika ibunya menegaskan kembali bahwa salah-seorang leluhurnya pernah menikahi putri dari Champa.

Begitulah sepenggal kisah Sarie Febriane. Tapi bagaimana dia memaknai keragaman gen dalam tubuhnya di tengah situasi sekarang? Apakah dia menjadi kekuatan pembebas atau justru membatasi?

Jawaban Sarie dapat kita ikuti belakangan. Kini simak kisah seorang warga Indonesia di Selandia Baru yang menemukan "kejutan" setelah membaca jejak gen di tubuhnya.

Wahyu Aspriyanti, kelahiran 1987, memutuskan mengikuti uji DNA semula dilatari semacam "hiburan" untuk memperkaya konten YouTube miliknya.

Ayu, begitu sapaannya, seringkali berseloroh dengan suaminya — warga negara Italia — bahwa gen dalam dirinya adalah produk campuran.

"Paling-paling campuran Tionghoa atau Timur Tengah," Ayu mengutarakannya sambil tersipu. Dua tahun lalu, dia dan suaminya ikut tes DNA. Dan, hasilnya? "Surprise!"

Memang dia tak terkejut ketika mengetahui 'tidak ada kemurnian' dalam darahnya, yaitu campuran Filipina, Indonesia dan Melayu (64,9%). Ada pula potongan DNAnya dari Thailand dan Kamboja (33,3%).

Tapi, Ayu terkejut ada bagian DNA-nya yang berasal dari etnis Mesoamerican dan Andean sebesar 1,8%. "[Wilayah itu] itu kayak Peru, Bolivia, Argentina, dan lain-lain, serta Andean."

Bagaimana cerita di balik 'kontribusi' orang-orang Amerika Latin terhadap genomnya, Ayu angkat tangan — tidak tahu. Ayahnya berasal dari sebuah kota di pulau Jawa, adapun ibunya berlatar Betawi.

"Saya tidak tahu kalau mau mencari data [tentang nenek moyangnya] itu harus ke mana," dia berujar. Paling-paling yang diketahuinya hanyalah informasi hingga empat generasi ke belakang.

Kini, Ayu memaknai keragaman genetika di dalam DNAnya semakin menguatkan sikapnya yang sejak awal menolak rasisme.

"Hampir seluruh manusia itu ada 'etnis-etnis' lain di tubuhnya. Jadi seharusnya enggak ada lagi sikap rasis," tegas Ayu yang sejak delapan tahun lalu tinggal dan bekerja di Selandia Baru.

"Kita harus mulai belajar untuk respek terhadap perbedaan, karena kita hidup berdampingan dengan orang lain 'kan. Lagi pula kita saling membutuhkan satu sama lain."

'Semua orang Indonesia adalah pendatang'

Campuran beragam genetika, seperti diwakili sosok Sarie dan Ayu, semakin menguatkan bukti ilmiah bahwa tidak ada manusia Indonesia yang 'murni' atau 'asli'.

"Semua orang Indonesia adalah migran [pendatang]," kata peneliti genetika manusia dan evolusi dari Eijkman Institute, Pradiptajati Kusuma, dalam wawancara dengan BBC News Indonesia, akhir Juli lalu.

Kesimpulan seperti ini menguatkan temuan-temuan sebelumnya pada pengetahuan arkeologi dan linguistik yang mengindikasikan bahwa nenek moyang orang-orang Indonesia adalah pendatang.

Hasil studi genetika Eijkman Institute, yang melibatkan 70 populasi etnik di 12 pulau di Indonesia, membuktikan adanya pembauran beberapa leluhur genetik dari periode dan jalur berbeda.

Pencampuran genetika di Indonesia, demikian kata Pradipta, terkait erat dengan aktivitas migrasi orang-orang dari daratan Asia — dimulai sekitar 50.000 tahun silam — ke wilayah yang kini disebut Indonesia.

Pengembaraan manusia modern (homo sapiens) ke Indonesia merupakan bagian kisah epik para leluhur yang keluar dari Afrika — Out of Africa — ke seluruh dunia kira-kira 150.000 dan 200.000 tahun silam.

"Tidak hanya sekali (gelombang migrasi ke Indonesia), tapi berkali-kali," ungkapnya. "Kompleks sebenarnya, cuma kita menggeneralisir kurang-lebih ada empat gelombang kedatangan."

Sejak dahulu kala, wilayah Indonesia telah menjadi tempat manusia berlalu-lalang. Sebelum menuju Pasifik atau ke Australia, mereka melalui atau memilih menetap di Indonesia.

Bagaimana mereka tiba ke wilayah Nusantara?

Gelombang pertama, kira-kira 50.000 tahun silam, melewati jalur selatan menuju Paparan Sunda — Kalimantan, Sumatra dan Jawa masih menyatu — dan mengembara sampai Papua dan Australia.

Di masa itu, daratan Papua dan Australia masih menyatu yang disebut Paparan Sahul.

"Orang-orang yang 'keluar dari Afrika' adalah yang pertama kali datang, ke wilayah [yang sekarang disebut] Indonesia, yang mendiami Papua dan Australia," ungkap Pradip.

Gelombang kedua adalah orang-orang dari wilayah daratan Asia Tenggara sekitar 30.000-40.000 tahun lalu.

Para ahli mengkategorikan para pengembara ini dalam kelompok bahasa Austronesia, seperti Vietnam, Kamboja dan sekitarnya. "Mereka masuk ke Kalimantan, Sumatra, Jawa..." ungkap Pradip.

Kemudian, sekitar 5.000 atau 6.000 tahun lalu, gelombang ketiga berdatangan dari wilayah China selatan dan Formosa (kini disebut Taiwan).

Menurut Pradip, kaum imigran ini bergerak ke selatan, melalui Filipina, Kalimantan, Sulawesi, dan bergerak ke barat ke Sumatra dan ke Mentawai.

"Adapun yang bergerak ke timur, masuk ke Maluku, Papua bagian pantai, hingga mengembara ke Hawaii," paparnya.

Dan, gelombang keempat, terjadi pada masa sejarah antara abad ketiga dan 13, yaitu ketika pedagang China, Arab dan India berdatangan ke wilayah yang kini disebut Indonesia.

"Sekarang jejak genetiknya [imigran gelombang kempat] sangat jelas, dan bisa kita lihat jejaknya di populasi-populasi yang ada di Indonesia," ungkap Pradip.

Namun demikian, Pradip menggarisbawahi, di antara gelombang kedua dan ketiga, serta antara gelombang ketiga dan keempat, masih ada pola migrasi yang disebutnya "masih misterius" sampai sejauh ini.

"Ini yang sedang kita dalami dengan pendekatan DNA purba dari bukti-bukti fosil sekian ribu tahun silam," tandasnya.

Dalam perjalanannya, saat penyebarannya berlangsung di wilayah Indonesia, terjadilah pembauran antar manusia dengan latar perbedaan secara DNA.

Seperti terekam dalam acara kajian sains 'Asal Usul Manusia Indonesia' yang digelar Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Eijkman Institute dan Historia.id, dua tahun silam, pembauran itu membuat komposisi gen ikut berubah — selain tampilan fisik, kebiasaan, bahasa dan bahasa.

Periode perubahan gen masyarakat Indonesia disebutkan berlangsung selama ribuan tahun. Selain hubungan pernikahan, perubahan itu disebabkan aspek lingkungan, kebiasaan, makanan, dan aneka jenis interaksi lainnya.



"Menariknya, gelombang migrasi yang baru datang beradaptasi dengan yang lama. Begitu pula yang lama juga menerima yang baru," ujar Deputi Penelitian Fundamental Eijkman Institute, Herawati Supolo Sudoyo, dalam acara tersebut.

'Mencari asal usul keberagaman, bukan mencari kemurnian'

Acara diskusi dan pameran 'Asal-Usul Orang Indonesia' itu mendapat sorotan media secara luas, karena pihak penyelenggara juga menampilkan hasil tes DNA sukarelawan seperti Najwa Shihab, Grace Natalie, Ayu Utami hingga Ariel Noah.

Saat acara itu digelar, situasi perpolitikan di Indonesia masih diwarnai isu agama, ras dan etnisitas akibat perhelatan pilpres yang membuat masyarakat terpecah. Inilah yang mendasari digelarnya acara itu.

"Situasi politik kita dan kenyataan masyarakat Indonesia yang beragam itu sangat rentan konflik," kata Bonnie Triyana, pemimpin redaksi majalah Historia, salah-seorang penggagasnya.

Faktanya, sebagian politikus menggunakan sentimen agama dan etnis sebagai komoditi politik. Hal ini, menurut Bonnie, bertentangan dengan Konstitusi yang tidak mengakui ras, etnis atau agama tertentu saja.

"Tidak ada [warga] asli, pribumi, non pribumi... Seorang individu diakui sebagai WNI karena status hukumnya, karena dia memang WNI.

"Jadi kewarganegaran kita jelas, tidak mengakui satu ras, etnis, agama tertentu," kata Bonnie kepada BBC News Indonesia, akhir Juli lalu.

Bonnie lantas teringat proyek pseudo sains yang digagas Adolf Hitler untuk melegitimasi ras Arya lebih unggul dari ras-ras lainnya.

Proyek rezim fasis Nasi Jerman itu berusaha mencari asal-usul kemurnian. "Nah, sebaliknya, justru kami mencari asal-usul keberagaman."

'Uji DNA tak terbantahkan, kalau sejarah bisa diputar balik'

Di sinilah, penyelenggara memulai proyeknya dengan memilih beberapa warga Indonesia dari berbagai latar untuk diuji DNA-nya.

"Kami membutuhkan satu metode pengujian yang secara sainstifik itu hampir kecil kemungkinan untuk dibantah atau dipatahkan," ungkap Bonnie saat ditanya kenapa memakai metode uji DNA.

"Kenapa tidak terbantahkan? Karena ini [DNA] ada dalam tubuh Anda... Bagaimana membantah apa yang ada di dalam tubuh Anda sendiri," tambahnya, seraya tertawa kecil.

Jika memakai pendekatan sejarah, Bonnie khawatir akan diputar balik, karena "sejarah itu perspektif dan selalu ada bias politik."

Kesimpulan dari uji tes DNA tersebut, menurutnya, bahwa wilayah yang disebut Indonesia sejak dahulu kala merupakan tempat persilangan dan membuka peluang bagi orang-orang untuk saling berinteraksi.

"Dan terjadilah kawin-mawin sehingga, menurunkan orang Indonesia sekarang," ungkapnya.

"Contoh Najwa Shihab, yang dia sendiri mengaku ketika sekolah diejek yang sangat rasialis, onta Arab, atau apalah, ternyata dia cuma 3% Arabnya, sebagian besar dia dari Asia selatan," tambah Bonnie. (Lihat wawancara dengan Najwa Shihab dalam 'boks' di bagian bawah).

Dengan kata lain, kesimpulan hasil uji tes DNA itu, membuktikan bahwa keberagaman itu tidak hanya dalam level masyarakat, tapi ada pada level seseorang sebagai seorang individu.

"Setidaknya, kita punya sesuatu untuk dibuktikan secara sainstifik bahwa di dalam tubuh kita mengalir berbagai macam genetika."

Bagaimana Sarie memaknai hasil uji DNA?

Kembali lagi ke sosok Sarie Febriane. Baginya, hasil uji DNA itu mengafirmasi apa yang selama ini dia pikirkan tentang konsep negara, bangsa, serta warga dunia.

"Aku manusia penghuni bumi, yang berevolusi sekian juta tahun, dan kebetulan sekarang sejak perjalanan nenek moyangku, aku nemploknya di wilayah yang sekarang dinamai Indonesia."

"Kita sama-sama manusia yang punya rumah di bumi ini," jelas Sarie kepada BBC News Indonesia, awal Agustus lalu.

Dia juga menempatkan hasil uji DNA itu sebatas memperkaya pengetahuan, utamanya dikaitkan latar etnis, ras atau bangsa.

"Pembeda-beda yang disebut China, Afrika, Eropa, itu sebatas memperkaya pengetahuan saja, tapi tidak lagi menjadi isu yang esensial," ujarnya.

Sarie berpijak pada pemikiran Yuval N Harari, sejarawan dan penulis buku Sapiens, Riwayat Singkat Umat Manusia (2017), bahwa konsep negara atau bangsa itu adalah "konstruksi fiksional" bentukan peradaban manusia.

"Karena dunia itu harus ada negara, harus ada pendataan administrasi. Di situlah kita harus mengidentifikasi diri kita siapa, sebuah konstruksi yang kita bikin sendiri," paparnya.

"Tapi apakah itu identitas senyatanya, kan ternyata bisa enggak. Itu 'fiksional' ternyata."

Namun Sarie menekankan pula, fiksional yang dimaksudkan Yuval N Harari, bukanlah identik dengan fiktif atau kebohongan. Tapi, "kebenaran itu ada dalam fiksi. Dan kita butuh fiksi."

"Karena itulah, konsep 'bangsa', 'tanah air' adalah fiksi yang aku 'imani', yang membuat hidup sebagai manusia bermakna, tanpa harus menjadi ultra fanatik," jelas Sarie.

Sarie dan suaminya kini berkomitmen untuk membebaskan anak-anaknya kelak untuk melanglang dunia, tinggal di mana saja, bahkan berganti paspor.

"Karena itu semua tidak mereduksi rasa cinta terhadap fiksi yang bernama 'Tanah Air'," ujarnya.

"Aku malah berharap Indonesia satu saat menjadi 'besar' dihormati di lansekap global, justru karena diasporanya menyebar luas di berbagai negara."

Najwa Shihab, pendiri Narasi TV, relawan uji DNA pada proyek 'Asal Usul Orang Indonesia': 'Ternyata saya lebih China ketimbang Arab'

Di dalam tubuh Najwa Shihab, kelahiran 1977, terdapat 10 bagian atau potongan DNA yang berasal dari sepuluh moyang berbeda.

"Saya tidak pernah menyangka sebanyak itu percampurannya," kata Nana panggilannya kepada BBC News Indonesia, awal Agustus lalu, kemudian tertawa lepas.

Paling besar potongan DNA dari Asia Selatan (48,54%), disusul Afrika Utara (26,81%), sementara Arab 3,48%, namun di sisi Asia Timur (China) 4,19%.

"Ternyata [prosentase DNA saya] lebih China dari Arab," ujarnya seraya tergelak. "Jadi, yang dulu ngeledekin saya onta, salah tuh..."

Darah Arab Najwa diturunkan langsung dari moyangnya dari Hadramaut, Yaman, yaitu Habib Ali bin Abdurrahman Shihab dan Habib Ali Assegaf.

Gen Asia Selatan Nana diperkirakan masuk saat moyangnya singgah di Gujarat dalam kegiatan dagang. Dia juga merupakan keturunan bangsawan Bugis dan Ningrat Solo.

Berikut petikan wawancara dengan Najwa dalam wawancara via zoom:

Apa respons Anda terhadap hasil uji tes DNA Anda?

Ini tidak terlalu mengejutkan, karena saya memang sudah menduga. Tapi saya tidak pernah menyangka sebanyak itu percampurannya.

Dan yang lebih mengejutkan buat saya adalah gen Timur Tengah hanya 3,4%, bahkan gen Asia Timur (China) lebih besar 4,19%.

Ini mengejutkan, karena garis keturunan ayah dan ibu saya langsung dari Hadramaut, Yaman.

Bagaimana Anda memaknai keindonesian setelah mengetahui jejak leluhur Anda yang campuran?

Sejak dulu saya tidak pernah merasa bukan orang Indonesia. Jika ditanya "orang apa", saya selalu menjawab Makassar, karena saya lahir di sana, Abi [ayah] juga asal Rappang, Sulawesi Selatan.

Saya tidak pernah dibesarkan untuk merasa orang Arab atau bukan orang Indonesia. Ya, ada tradisi keluarga yang khas keturunan Arab, tapi itu biasa saja, seperti halnya setiap suku punya tradisinya masing-masing.

Abi dan Mama tidak pernah menggunakan garis keturunan untuk menjadi pembeda dan memisahkan diri.

Kakek saya, Habib Abdurrahman Shihab, enggan memakai gelar kebangsawanan keluarga.

Dengan sadar dipilihnya peci hitam, yang membuatnya sebarisan dengan Sukarno yang menjadikan peci hitam sebagai simbol identitas kaum nasionalis.

Seperti John Lie (peranakan Tionghoa) atau Ernest Douwest Dekker (peranakan Belanda), dia bagian dari mereka yang memilih Indonesia sebagai muara kesetiaan kebangsaannya ketimbang tanah leluhurnya.

Leluhur selamanya dimuliakan, namun tanah yang dipijak hari ini sama berharganya.

Menurut Anda, apakah dengan demikian, masih penting soal Indonesia asli atau tidak asli, pribumi atau tidak pribumi, setelah ada fakta orang Indonesia itu adalah migran?

Tidak pernah penting. Apalagi hari-hari ini. Yang justru penting adalah" kesadaran menjadi Indonesia". "Atas dasar persamaan nasib," kata pendiri negeri ini dulu.

Sekelompok manusia terjahit menjadi sebuah bangsa karena punya nasib yang sama, memperjuangkan kepentingan yang sama, menghadapi musuh bersama, demi meraih tujuan bersama.

Kita semua mewakili Indonesia dari apa yang kita temukan dan jalani sehari-hari di negeri ini. Nasionalisme, tak pernah menjadi rumus yang kaku, atau gagasan keras kepala.

Di tengah pandemi ini misalnya, nasionalisme terdefinisikan oleh partisipasi kita. Seberapa kita mampu mencegah Covid-19 dengan solidaritas, sebagai contoh.

Bagaimana Anda mendamaikan antara konsep keindonesiaan dan fakta kita semua adalah pendatang yang beragam?

Sejak dulu saya percaya keberagaman adalah kekayaan terbesar negeri ini, karenanya perlu terus dirayakan bukan justru ditakutkan.

Hasil DNA ini menguatkan keyakinan saya bahwa Indonesia itu bukan soal garis keturunan atau dari mana kita berasal.

Yang menjadikan kita Indonesia adalah niat dan upaya bersama untuk membuat negeri ini rumah bagi semua.


Tonton versi video liputan ini di YouTube BBC News Indonesia

https://www.youtube.com/watch?v=Ua9KB432WXw

Komentar