Suara.com - Jurnalis dan penulis asal Inggris, Nadene Ghouri, berupaya mengeluarkan orang-orang dari Afghanistan. Dia sempat bekerja untuk BBC, lalu pindah ke Afghanistan untuk melanjutkan karier dan melatih wartawan lokal.
Ketika Taliban beberapa langkah menguasai Kabul jelang akhir pekan lalu, Ghouri mulai membuat daftar orang-orang yang perlu keluar dari negara itu. Bersama sejumlah koleganya, dia mengatakan kepada BBC bahwa dia tengah berupaya keras.
Ini adalah cerita tentang apa yang dia lakukan dan saksikan dalam beberapa hari sebelum dan sesudah Taliban menguasai Afganistan.
***
Kami adalah kelompok berisi jurnalis, pekerja sosial, diplomat, dan siapa saja yang bekerja di Afghanistan,
Kami berkumpul selama beberapa hari terakhir dan mengoordinasikan upaya memasukkan sejumlah nama ke daftar evakuasi. Kami berasal dari negara yang berbeda dan kelompok ini bersifat sementara.
Situasi di Kabul berlangsung begitu cepat sekaligus mengejutkan banyak orang. Tak seorang pun bisa menduga Taliban akan menguasai Kabul begitu cepat.
Begitu mereka sudah begitu dekat menuju Kabul, kami mulai berbagi informasi tentang situasi masyarakat. Banyak orang di berbagai wilayah di Afganistan berusaha tetap berkomunikasi dengan kami sesering mungkin. Mereka terjebak di rumah mereka dan mengirimkan pesan darurat kepada kami.
Beberapa orang telah dikirimi surat berisi ancaman pembunuhan. Mereka menjadi sasaran karena menurut Taliban, pekerjaan orang-orang itu tidak sesuai dengan ajaran Islam.
Baca Juga: Ketakutan dan Keputusasaan Perempuan Afganistan di Bawah Kuasa Taliban
Yang dikatakan Taliban kepada publik internasional dan kenyataan di lapangan sangat tidak sesuai. Pimpinan Taliban tidak selalu dapat mengendalikan apa yang dilakukan para bawahannya. Prajurit mereka dapat bertindak apapun tanpa hukuman. Di beberapa daerah berlaku hukum jalanan.
Beberapa perempuan yang memiliki citra di publik kini menghadapi ancaman besar.
Miris, banyak perempuan yang memiliki hubungan dengan institusi internasional sekarang terjebak.
Perempuan sering dilibatkan orang-orang dari negara Barat pada proyek yang didanai pemerintah untuk menunjukkan bahwa program mereka berhasil.
Para perempuan ini mempercayai kami. Mereka adalah teman dan sekutu kami. Sekarang kami benar-benar mengkhianati mereka.
Ini sangat memilukan, tapi Anda harus menilai siapa yang memiliki tingkat risiko tertinggi dan siapa yang harus diprioritaskan untuk dimasukkan ke daftar evakuasi.
Anda tidak dapat membantu semua orang sekaligus. Ada banyak prioritas saat ini bagi perempuan, terutama yang membawa anak-anak.
Saya memegang sekitar 30 perempuan yang mendesak untuk dibantu. Tapi akan selalu ada lebih banyak lagi perempuan yang datang meminta bantuan.
Kami mengumpulkan informasi dan memberinya kepada organisasi hak asasi manusia yang menyusun data. Informasi itu kemudian akan diberikan kepada sejumlah pemerintahan negara lain untuk mengatur evakuasi.
Saya mencemaskan para sukarelawan yang berusaha mengumpulkan informasi ini. Kami tidak terlatih untuk melakukan ini. Beberapa dari kami merasakan tekanan psikologi dan mengalami kelelahan.
Banyak kedutaan besar negara Barat dan staf pemerintah mereka yang bekerja sepanjang waktu untuk membantu kami.
Namun sistem resmi mereka belum ada dan pemerintah mereka tidak bereaksi cukup cepat untuk mengatur penerbangan evakuasi.
Negara-negara anggota NATO perlu meningkatkan dan memperluas akses ke visa sementara.
Basis data siap digunakan, tapi sangat dibutuhkan koordinasi internasional pusat untuk menyusun daftar evakuasi dan penerbangan, baik oleh Badan Pengungsi PBB atau NATO.
Tanpa itu, nama-nama direplikasi di seluruh daftar evakuasi negara, jadi kursi akan terbuang sia-sia.
Peluang mengeluarkan mereka sekarang terbuka, tapi momentum itu akan dengan cepat sirna.
Kami mendengar bahwa hari ini Taliban telah mendirikan pos pemeriksaan baru di dekat bandara dan tidak mengizinkan mereka yang memiliki dokumen perjalanan evakuasi untuk masuk. Jadi penerbangan penyelamatan dibiarkan setengah kosong.
Pemerintah asing harus menguasai proses penyelamatan. Mereka menciptakan kekacauan ini, mereka perlu melakukan semua yang mereka bisa untuk memperbaikinya.
Berita Terkait
-
Ketakutan dan Keputusasaan Perempuan Afganistan di Bawah Kuasa Taliban
-
Cerita Perempuan yang Hidup saat Taliban Kuasai Afganistan Tahun 1999
-
Singa Lembah Panjshir, Mujahidin Nyatakan Siap Perang Lawan Taliban
-
Indonesia Dulu Ajarkan Islam Moderat ke Taliban, Efeknya Tak Signifikan
-
Taliban Kembali Berkuasa, Akankah Afganistan Jadi Ladang Teroris?
Terpopuler
- 4 HP RAM 8 GB Harga di Bawah Rp1,5 Juta: Kamera Bagus, Performa Juara
- Link Gratis Baca Buku Broken Strings, Memoar Pilu Aurelie Moeremans yang Viral
- 28 Kode Redeem FC Mobile Terbaru 10 Januari 2026, Ada 15.000 Gems dan Pemain 111-115
- 4 Mobil Bekas Rp50 Jutaan yang Ideal untuk Harian: Irit, Gesit Pas di Gang Sempit
- 5 Cat Rambut untuk Menutupi Uban: Hasil Natural, Penampilan Lebih Muda
Pilihan
-
Gurita Bisnis Adik Prabowo, Kini Kuasai Blok Gas di Natuna
-
Klaim "Anti Banjir" PIK2 Jebol, Saham PANI Milik Aguan Langsung Anjlok Hampir 6 Persen
-
Profil Beckham Putra, King Etam Perobek Gawang Persija di Stadion GBLA
-
4 HP Snapdragon RAM 8 GB Paling Murah untuk Gaming, Harga Mulai Rp2 Jutaan
-
Rupiah Terancam Tembus Rp17.000
Terkini
-
Registrasi Akun SNPMB 2026 dan Jadwal Pelaksanaan SNBP Terbaru
-
Siapa Sebenarnya Pelapor Pandji? Polisi Usut Klaim Atas Nama NU-Muhammadiyah yang Dibantah Pusat
-
Langit Jakarta 'Bocor', Mengapa Modifikasi Cuaca Tak Digunakan Saat Banjir Melanda?
-
Debit Air Berpotensi Naik, Ditpolairud Polda Metro Jaya Sisir Permukiman Warga di Pluit
-
Bus TransJakarta Hantam Tiang PJU di Kolong Tol Tanjung Barat, Satu Penumpang Terluka!
-
El Clasico Legenda Bakal Hadir di GBK, Pramono Anung: Persembahan Spesial 500 Tahun Jakarta
-
Jakarta Dikepung Banjir, Ini 5 Cara Pantau Kondisi Jalan dan Genangan Secara Real-Time
-
Superflu vs Flu Biasa: Perlu Panik atau Cukup Waspada?
-
BNI Pertegas Dukungan Sekolah Rakyat untuk Perluas Pemerataan Pendidikan Nasional
-
Tutup Rakernas I 2026, PDIP Umumkan 21 Rekomendasi Eksternal