Suara.com - Mahasiswa Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Yahya Ihyaroza meminta negara mengusut tuntas kasus kekerasan aparat terhadap massa aksi Reformasi Dikorupsi. Yahya merupakan satu dari ratusan korban represifitas aparat yang sempat melapor ke Tim Advokasi untuk Demokrasi.
Yahya menilai segala bentuk represifitas aparat tidak dibenarkan dengan alasan apapun. Terlebih, dia merasa tidak pernah melakukan tindakan provokatif ataupun pidana dalam aksi penyampaian pendapat dua tahun silam tersebut.
"Saya hanya meminta pertanggungjawaban dari negara bagaimana sebetulnya tindak lanjut dari kasus ini. Karena kita pun menyampaikan aspirasi itu juga dilindungi oleh undang-undang," kata Yahya saat jumpa pers 'Peringatan 2 Tahun Aksi #ReformasiDikorupsi dikutip dari laman YouTube KontraS, Minggu (26/9/2021).
Pada 24 September 2019 silam, Yahya ditangkap oleh aparat kepolisian di sekitar Gedung DPR/MPR RI. Dia dicegat oleh empat anggota polisi bersenjata sekitar pukul 19.00 WIB. Padahal, kata dia, situasi di sekitar lokasi ketika itu terbilang sudah kondusif. Bahkan dia sudah berencana untuk pulang ke rumah.
"Tba-tiba polisi menarik paksa tas yang saya bawa. Tas saya digeledah, pas dia lihat ternyata ada kartu tanda atau di baju saya itu ada tulisan mahasiswa tiba-tiba saya langsung dipukul pakai senapan sama polisi," bebernya.
Oleh empat anggota polisi itu, Yahya kemudian dibawa ke area belakang Jakarta Convention Center (JCC). Sepanjang jalan dia terus menerus dicaci hingga dipukuli.
"Awalnya memang yang memukuli saya itu sekitar empat polisi. Sampai di area belakang JCC saya dilempar begitu aja ke kerumunan polisi. Saya jatuh ke tanah terus saya dipukuli terus-terusan di situ," ungkapnya.
Selanjutnya, Yahya dibawa ke Polda Metro Jaya. Dia sempat diberi pertolongan pertama di klinik di sana.
"Ini ada sekitar empat jahitan di area sebelah kiri (jidat) di alias ada sekitar tiga jahitan. Jadi total ada tujuh jahitan. Terus jari saya yang kiri ini telunjuk patah ke bagi jadi tiga ruas. Terus ada pendarahan juga di area tengkorak, pendarahan dalam. Luka-luka memar dan luka robek di area punggung," beber Yahya.
Baca Juga: Catatan KontraS: Ada 277 Kekerasan Prajurit di Era Hadi Tjahjanto, Terbanyak Matra TNI AD
Penganiayaan yang dialami Yahya tak henti di situ. Setelah diobati, Yahya disuruh menunggu di sebuah ruangan. Di sana ada beberapa anggota polisi lain yang juga terluka.
"Polisi-polisi itu setelah melihat kita, kita diinterogasi lagi di situ. Terus kita juga dipukuli lagi di situ sama pihak kepolisian. Dan fokus dari pukulan dan tendangan Polisi itu mengarah ke tempat yang diobati tadi," tuturnya.
Dua tahun sudah peristiwa nahas tersebut berlalu. Namun, negara terkesan abai terhadap arogansi oknum aparat tersebut.
"Saya ingin meminta pertanggungjawaban dari polisi dan juga dari negara," pungkas Yahya.
Berita Terkait
-
Catatan KontraS: Ada 277 Kekerasan Prajurit di Era Hadi Tjahjanto, Terbanyak Matra TNI AD
-
Pria Difabel yang Kepalanya Diinjak Dikasih TV hingga Babi, TNI Disebut Rendahkan Korban
-
Warga Sedang Hadapi Tekanan Hidup, Anis Matta: Hentikan Kekerasan saat Tegakkan PPKM
-
Penyiksaan oleh Aparat Masih Marak, KontraS: Korban Dipaksa Damai atau Diintimidasi
Terpopuler
- Pentagon Gelar Karpet Merah, Sjafrie Sjamsoeddin Dituding Bawa Agenda Akses Bebas di Langit RI
- 6 Sabun Cuci Muka yang Bagus untuk Memutihkan Wajah dan Harganya
- AS Blokade Semua Pelabuhan Iran Senin Hari Ini, Harga BBM Langsung Naik
- 7 HP Murah di Bawah Rp1 Juta Paling Layak Beli di 2026, Performa Oke Buat Harian
- 7 HP Samsung Seri A yang Sudah Kamera OIS, Video Lebih Stabil
Pilihan
-
Warga Sambeng Borobudur Terancam Kehilangan Mata Air, Sendang Ngudal Dikepung Tambang
-
Rivera Park Tebo Terancam Lagi, Tambang Ilegal Kembali Beroperasi Saat Wisatawan Membludak
-
Bukan Merger, Willy Aditya Ungkap Rencana NasDem-Gerindra Bentuk 'Political Block'
-
Habis Kesabaran, Rossa Ancam Lapor Polisi Difitnah Korban Operasi Plastik Gagal
-
Konflik Geopolitik Tak Pernah Belanja di Warung, Tapi Pelaku UMKM Semarang Dipaksa Akrobat
Terkini
-
Usai dari Rusia, Prabowo Temui Macron di Paris: Bahas Alutsista hingga Energi Bersih
-
Militer AS 18 Kali Langgar Wilayah RI Tanpa Maaf, Kini Berpotensi 'Terbang Seenaknya'
-
Pastikan Santunan Bagi Ahli Waris PHL, BPJS Ketenagakerjaan Tegaskan Negara Hadir Lindungi Pekerja
-
Surat Kemlu Bocor: Izin 'Terbang Bebas' Militer AS Berisiko Jadikan Indonesia 'Medan Perang'
-
Trump Kritik Paus Leo XIV hingga Lecehkan Yesus, Presiden Iran: Gak Bisa Dimaafkan!
-
China Bantah Pasok Senjata untuk Iran, Fitnah Tak Berdasar
-
China Bantah Tuduhan Suplai Senjata ke Iran: Laporan Itu Dibuat-Buat!
-
Kerugian Iran Tembus Rp4.300 Triliun, Garda Revolusi Siapkan Serangan Balasan ke AS-Israel
-
Sekjen PBB: Sudah Saatnya Israel dan Lebanon Bekerja Sama
-
Dari Paris, Prabowo Kirim Ucapan Ulang Tahun ke Titiek Soeharto