Suara.com - Gerakan 30 September atau G30S selalu menjadi momentum bersejarah yang kontroversial. Sebagian kelompok kepentingan kerap memanfaatkan momentum itu untuk menarik perhatian publik dengan menggaungkan isu pemberontakan Partai Komunis Indonesia atau PKI.
Salah satunya dengan menanyangkan film yang diproduksi di era pemerintahan otoriter orde baru dengan judul G30S/PKI.
Menanggapi hal itu, Staf Ahli Menteri Komunikasi dan Informatika Henry Subiakto mengatakan bahwa film G30S itu sejak dibuat dan diputar setiap tahun dipakai sebagai alat politik oleh kelompok tertentu. Kata Henri, film G30S itu dahulu dibuat sebagai sarana pembenar sejarah versi orde baru.
"Para seniman pembuat film G30S/PKI itu, sebagaimana para akademisi, wartawan, bahkan ulama diharuskan berperan sebagai ideological state aparatus, aparat ideologis yang membenarkan semua komunikasi versi negara," kata Henry kepada Suara.com, Kamis (30/9/2021).
Henry berujar, jika tidak membenarkan versi negara, pembuat film ketika itu tak akan mendapat izin membuat film atau izin pemutaran film. Pasalnya ketika itu, semua informasi dan komunikasi yang beredar di publik dikendalikan oleh pemerintah, sehingga hasilnya pro dan membenarkan versi sejarah orde baru.
"Karena di masa Orde Baru semua informasi dan komunikasi yang beredar di publik dikendalikan oleh negara. Ya hasilnya tentu yang pro dan membenarkan versi sejarah Orba," ucap dia.
Namun kata Henry, film G30S sekarang ini menuai kontroversi sehingga bergeser maknanya. Menurutnya, film G-30 S-PKI kalau diputar dan pihak yang memutar dan yang menonton bermakna anti terhadap PKI.
"Jadi pemutaran dan menonton film itu adalah pesan politik yang bermakna sebagai bukti anti terhadap PKI," tutur Henry.
Terkait soal adanya nonton bareng film G30S, Henry tak mempermasalahkannya. Bagi dia, yang terpenting tidak memaksakan orang untuk menonton dan tidak memaksakan orang untuk mempercayai isi filmnya. Sebab, film G30S memiliki banyak versi.
Baca Juga: Baba Entong Anti PKI
"Yang penting tidak ada pemaksaan sebagai harus nonton dan tidak boleh ada pemaksaan harus percaya dengan isinya. Karena secara akademis harus diakui sejarah G30S/PKI itu terdapat banyak versi. Film itu hanya salah satu versi saja," kata dia.
Henry menuturkan, di era Orba cara pemerintah membuat rakyat tunduk dan terhegomoni selama 32 tahun itu melalui dua jenis apparatus. Pertama repressive state apparatus, yaitu tangan-tangan negara yang menggunakan kekerasan untuk membuat rakyat tunduk. Mereka adalah Tentara, Polisi, Kejaksaan, Intelejen dan lainnya.
"Kalau yang bekerja hanya Repressive State Apparatus, maka dikhawatirkan akan terjadi gejolak, karena dasarnya tekanan dengan hukum dan tindakan," ucap Henry.
Kedua, era Orba menggunakan Ideological State Apparatus agar ada ketertundukan secara soft. Yakni menggunakan kalangan intelektual, agamawan, seniman dan lain-lain untuk menyuarakan kebenaran versi penguasa orba.
Adapun film G30S/PKI merupakan bagian dari produk Ideological State Apparatus.
"Tapi Orba itu selama 32 tahun berhasil menanamkan ideologinya di berbagai lapisan masyarakat sehingga dianggap sebagai kebenaran yang pantas diterima. Hanya kalangan ilmuwan sosial yang kritis yang memiliki perspektif yang berbeda. Itu pun tidak banyak," tuturnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- 7 HP Midrange Serasa Flagship 2026: Spesifikasi Premium dan Performa Juara
- 3 HP Android dengan Kualitas Kamera Selevel iPhone 17 Pro Max, Cocok untuk Bikin Konten
- 4 Sepatu Nike Tanpa Tali Serbaguna: Nyaman untuk Olahraga, Praktis buat Jalan Santai
- Danantara Sumberdaya Indonesia Batal Beroperasi Penuh, Pemerintah Mundurkan Skema Ekspor SDA di 2027
- Gugurkan Klaim Santriwati 'Hamil Tanpa Hubungan Badan', Polisi Tangkap Kiai di Pekalongan
Pilihan
-
Israel Bombardir Lebanon, 74 Warga Jadi Korban Satu Keluarga Tewas Saat Kabur
-
AS-Iran Kembali Sepakati Gencatan Senjata, Harga Minyak Stabil di USD 90
-
Skandal! Jaksa AS Selidiki FIFA, Penjualan Tiket Piala Dunia 2026 Diduga Bermasalah
-
Live 'Pocong Jadi-Jadian' Hebohkan Warga Sragen, 3 Pelajar Diamankan Polisi
-
Bos Nvidia Serobot Antrean Jagung Bakar dengan Traktir Semua Pembeli, Egois atau Dermawan?
Terkini
-
IMM Minta Polemik Sapi Kurban Presiden Prabowo Disudahi: Tak Langgar Aturan dan Banyak Manfaatnya
-
Israel Bombardir Lebanon, 74 Warga Jadi Korban Satu Keluarga Tewas Saat Kabur
-
AS Tiba-tiba Serang Iran, IRGC Balas Hantam Pangkalan Udara di Kuwait!
-
Tragedi TV Tabung di Atas Kepala Siswi SD, Akhir Tragis JN di Tangan Pemuda Haus Darah
-
Satu Keluarga Rugi Rp700 Juta, Jemaah Hanania Travel Geruduk Polda Metro Jaya
-
Siapa Dalangnya? Polisi Kumpulkan Bukti Dugaan Pembubaran Ibadah di Gereja Sewon Bantul
-
Harta Karun RI Nyaris Lenyap, TNI AL Sergap 25 Kontainer Mineral Ilegal di Batam
-
Tak Peduli Lokasi Munas, HIPMI Jaya: Di Mana Pun Oke, Yang Penting Jangan Pecah!
-
Aksi Kamisan di Istana: Menagih Janji Negara yang Hobi Lupa pada Korban Penghilangan Paksa
-
PKS Salurkan Hewan Kurban hingga ke Wilayah Bencana Banjir Sumatra