Suara.com - Empat ratus polisi menyerbu penjara di kota pelabuhan Guayaquil, tempat sedikitnya 116 tahanan tewas dalam tawuran antar geng.
Tawuran maut ini pecah hari Selasa (28/09) lalu dan para pejabat mengatakan Rabu bahwa penjara itu telah berhasil dikendalikan.
Namun pada Kamis (30/09) pagi, warga yang tinggal tak jauh dari penjara mengatakan mereka mendengar ledakan dan bunyi tembakan.
Tak lama kemudian, polisi mengatakan mereka mengerahkan 400 polisi lagi untuk "mempertahankan ketertiban."
Baca juga:
- Lapas Tangerang: Mengapa tingkat hunian penjara-penjara di Indonesia selalu melebihi kapasitas?
- 'Tidak ada sinar matahari' untuk napi geng di penjara El Salvador
- Kisah narapidana perempuan membesarkan anak di dalam penjara: 'Masa anak disia-siakan?'
Polisi Ekuador mengunggah video di akun Twitter mereka yang menunjukkan polisi kembali ke kompleks penjara Guayas yang juga disebut rumah tahanan Litoral.
https://twitter.com/PoliciaEcuador/status/1443444746576334848
Mengapa tawuran pecah?
Perkelahian pecah pada Selasa (28/09) ketika para tahanan dari salah satu sayap penjara menyusup melalui lubang yang mereka gali dan menyerang geng saingan.
Paling tidak enam tahanan dipenggal dan yang lainnya ditembak dan sebagian tewas akibat ledakan granat.
Baca Juga: Mengerikan! Korban Tewas Kerusuhan di Penjara Ekuador Bertambah Jadi 100 Orang Lebih
Polisi berhasil menyelamatkan enam tukang masak yang terperangkap di sayap tempat tawuran terjadi. Dua polisi terluka.
Direktur penjara Ekuador, Bolvar Garzn, mengatakan polisi memasuki penjara pada pukul 14:00 waktu setempat 02:00 pagi WIB Rabu dan menemukan 24 jenazah.
Menurut Garzn, masih terjadi penembakan pada Selasa dan Rabu ketika polisi masuk sayap penjara itu satu per satu dan menemukan lebih banyak lagi mayat, dan total sejauh ini 116 orang meninggal.
Empat ratus polisi kembali dikerahkan ke penjara itu pada Kamis pagi waktu setempat di tengah laporan terdengar bunyi tembakan dan ledakan.
Siapa yang terlibat dalam tawuran?
Fakta bahwa dua polisi terluka dan lebih dari 100 tahanan tewas menunjukkan bahwa apa yang terjadi adalah perang antar geng di penjara dan bukan pemberontakan tahanan.
Media lokal melaporkan pembunuhan brutal itu diperintahkan dari luar penjara dan menggambarkan perebutan kekuasaan antara kartel Meksiko yang berlangsung di Ekuador.
Penjara Litoral menampung tahanan dari Los Choneros, geng Ekuador yang diduga terkait dengan kartel kuat di Meksiko, Sinaloa.
Namun kelompok kriminal Meksiko lain, kartel Jalisco New Generation (CJNG), juga mencoba untuk bergabung dengan geng Ekuador untuk menguasai rute perdagangan obat bius dari Ekuador ke Amerika Tengah, dari kartel saingan, Sinaloa.
Pemenggalan dan brutalnya kekerasan di dalam penjara merupakan indikasi keterlibatan kartel Meksiko, yang sering membunuh musuh mereka dengan cara yang sangat brutal untuk menyebar ketakutan.
Mengapa tawuran sampai berujung maut?
Tawuran penjara ini merupakan yang paling parah dalam sejarah Ekuador. Namun sebelumnya sempat terjadi kekerasan brutal lain.
Faktor kunci dalam kekerasan di penjara Ekuador:
- Ekuador adalah negara transit untuk penyelundupan kokain dari negara tetangga Peru dan Kolombia
- Kartel brutal Meksiko meluas di Ekuador dan membentuk aliansi dengan geng Ekuador
- Penjara yang terlalu penuh dan kurangnya penjaga membuat sulit patroli penjara
Pada Februari lalu, 79 tahanan tewas dalam tawuran simultan di empat penjara, salah satunya di Penjara Litoral.
Salah satu masalah, menurut direktur penjara Ekuador Garzn, adalah bahwa para tahanan memiliki persenjataan kuat.
Ia mengatakan banyak senjata yang diselundupkan ke penjara dan bahwa penggeledahan polisi baru menghasilkan sebagian kecil.
"Apa yang kami berhasil sita sangat sedikit karena mereka menyembunyikannya dengan teliti, dan kami tak dapat berbuat apa-apa lagi," katanya.
Presiden Lasso sebelumnya menyebut kekerasan di penjara karena penjara yang terlalu penuh. Juli lalu, katanya, sistem penjara di Ekuador, 30% terlalu penuh.
Saat itu, ia mengumumkan rencana untuk mempercepat proses pembebasan tahanan yang telah menjalani sebagian besar masa tahanan atau melakukan kejahatan ringan untuk melonggarkan kelebihan kapasitas.
Hari Rabu (29/09), ia menetapkan kondisi darurat sistem penjara, peraturan yang memungkinkan pejabat menghentikan sejumlah hak dan menggunakan militer menguasai kembali peraturan.
Ia juga mengatakan dana tambahan akan dikeluarkan untuk memasang kamera keamanan di penjara.
Tragedi kemanusiaan
Sanak saudara tahanan berkumpul di luar penjara dan juga rumah mayat untuk mencari informasi tentang saudara mereka.
Informasi tentang korban sulit di dapat karena banyak laporan yang menyebutkan sebagian mayat dipotong-potong dan dibakar dan mungkin lama untuk diidentifikasi.
Sebagian sanak keluarga mengatakan mereka dikirim foto dan video dari dalam penjara namun tidak mendapatkan kepastian apakah anggota keluarga mereka yang menjadi korban.
Surat kabar El Comercio melaporkan satu perempuan mengenali suaminya dari salah satu video.
Ia mengatakan suaminya termasuk korban yang dipenggal.
Berita Terkait
Terpopuler
- Pemerintah Tutup Ruang Pembentukan Provinsi Luwu Raya, Kemendagri: Ikuti Moratorium!
- Warga Sambeng Borobudur Pasang 200 Spanduk, Menolak Penambangan Tanah Urug
- Cerita Eks Real Madrid Masuk Islam di Ramadan 2026, Langsung Bersimpuh ke Baitullah
- Sosok Arya Iwantoro Suami Dwi Sasetyaningtyas, Alumni LPDP Diduga Langgar Aturan Pengabdian
- Menkop Ferry Minta Alfamart dan Indomaret Stop Ekspansi Karena Mengancam Koperasi Merah Putih
Pilihan
-
SBY Sentil Doktrin Perang RI: Kalau Serangan Udara Hancurkan Jakarta, Bagaimana Hayo?
-
Kasus Pembakaran Tenda Polda DIY: Perdana Arie Divonis 5 Bulan, Hakim Perintahkan Bebas
-
Bikin APBD Loyo! Anak Buah Purbaya Minta Pemerintah Daerah Stop Kenaikan TPP ASN
-
22 Tanya Jawab Penjelasan Pemerintah soal Deal Dagang RI-AS: Tarif, Baju Bekas, hingga Miras
-
Zinedine Zidane Comeback! Sepakat Latih Timnas Prancis Usai Piala Dunia 2026
Terkini
-
Kasatgas Tito Terus Perkuat Koordinasi Percepatan Penanganan Pascabencana Sumatera
-
Bripda Mesias Dipecat Tidak Hormat Usai Kasus Tewaskan Pelajar di Tual
-
DPR: Perjanjian Transfer Data RI-AS Harus Seimbang dengan Kedaulatan Digital dan Perlindungan Warga
-
Bantah Laporan Awal, Polda Sulsel Pastikan Bripda Dirja Tewas Akibat Penganiayaan
-
Menuju Piala Dunia 2026, DPR Minta Pengunduran Diri Dirut TVRI Tak Ganggu Stabilitas dan Kinerja
-
Terobos dan Rusak Portal JLNT Casablanca, 11 Motor Diamankan Polisi
-
Stunting Jadi Prioritas, Semarang Intervensi Gizi 78 Ribu Remaja dan Pantau 60 Ribu Balita
-
Membaca Amarah Publik pada Dwi Sasetyaningtyas Alumni LPDP: Selesai Kontrak, Selesai Loyalitas?
-
Apes! Pria Ini Kehilangan Mobil Gara-Gara Mabuk dan Ketiduran di Pinggir Jalan
-
Saksi Ungkap Transaksi Rp 809 Miliar ke Gojek, GoTo Tegaskan Dana Kembali ke Kas