Suara.com - Seniman Denmark Jens Galschiot yang merancang Tugu Tiananmen di Universitas Hong Kong menyewa pengacara untuk mengamankan patung karyanya, setelah pemerintah otonomi kota memerintahkan penyingkiran monumen.
Patung setinggi delapan meter karya Jens Galschiot yang dinamakan "Pillar of Shame" telah berdiri di kampus Universitas Hong Kong (HKU) sejak 1997, tahun ketika kota itu diserahkan kembali oleh Inggris kepada Cina.
Patung menampilkan 50 wajah sedih dan tubuh tersiksa yang ditumpuk, untuk memperingati para pengunjuk rasa yang terbunuh oleh aparat keamanan di sekitar Lapangan Tiananmen di Beijing pada tahun 1989.
Otoritas HKU minggu lalu memerintahkan penyingkiran monumen. Selambatnya hari Rabu, 13 Oktober 2021.
Jens Galschiot mengatakan kepada kantor berita AFP, dia telah menyewa seorang pengacara lokal dan meminta kejelasan mengenai apa yang akan terjadi dengan karyanya.
"Saya berharap kepemilikan patung saya akan dihormati, dan saya akan dapat mengangkut patung itu keluar dari Hong Kong dalam kondisi yang wajar dan tanpa mengalami kerusakan apa pun," katanya kepada AFP melalui email.
Manifestasi simbolis Jens Galschiot mengatakan dia lebih suka patung tetap berada di Hong Kong. Namun jika pihak berwenang menghancurkan patung, warga Hong Kong bisa mengumpulkan "sebanyak mungkin potongan-potongan Pillar of Shane.
"Potongan-potongan ini dapat digunakan untuk membuat beberapa manifestasi simbolis bahwa masa kekaisaran telah berlalu - tetapi seni tetap ada," kata seniman Denmark itu.
Dia mengatakan, dia juga telah berhubungan dengan orang-orang di Hong Kong yang membuat scan 3D dari patungnya untuk menghasilkan versi miniatur.
Baca Juga: Kisah Cinta Hong Kong Superstar, Leslie Cheung dengan Kekasih Lelakinya
Perintah penghapusan patung itu dari HKU dikirim lewat kantor pengacara Mayer Brown, dan ditujukan kepada kelompok "Aliansi Hong Kong", sebuah organisasi yang sekarang dibubarkan, yang biasanya mengorganisir peringatan tahunan Pembantaian Tiananmen.
Tidak ada lagi peringatan Tiananmen di Hong Kong Universitas Hong Kong mengatakan "masih mencari nasihat hukum dan bekerja dengan pihak terkait untuk menangani masalahnya dengan cara yang sah dan wajar".
Kantor pengacara Mayer Brown mengatakan, HKU adalah klien lama mereka dan mereka akan mendampingi dan memberi konsultasi hukum.
"Nasihat hukum kami tidak dimaksudkan sebagai komentar tentang peristiwa terkini atau bersejarah," kata seorang juru bicara Mayer Brown kepada AFP.
Hong Kong dulu adalah satu-satunya tempat di Cina, di mana peringatan pembantaian massal Tiananmen masih ditoleransi.
Tetapi sekarang pemerintah kota sepenuhnya berada di bawah kendali Beijing, setelah gelombang protes demokrasi dua tahun lalu ditindas.
Terpopuler
Pilihan
-
Balas Rhoma Irama, LMKN Jelaskan Akar Masalah Royalti Musik Dangdut Jadi Rp25 Juta
-
Buat Kaum dengan Upah Pas-pasan, Nabung dan Investasi Adalah Kemewahan
-
Resmi! Liliek Prisbawono Jadi Hakim MK Gantikan Anwar Usman
-
Apartemen Bassura Jadi Markas Vape Narkoba, Wanita Berinisial E Diciduk Bersama Ribuan Barang Bukti!
-
Mendadak Jakarta Blackout Massal: Sempat Dikira Peringatan Hari Bumi, MRT Terganggu
Terkini
-
'Pak Minta Nama!', Cerita Haru Nenek di Istana hingga Prabowo Usulkan Nama Adi Dharma
-
Puji Kontribusi Masif Warga Jateng, Pramono Anung: Pilar Penting Jakarta Menuju Kota Global!
-
Petaka Parkir di Bahu Jalan! Sigra 'Nangkring' di Pembatas Jalan Usai Dihantam Fortuner di Tangerang
-
Iran Berencana Kenakan Biaya untuk Kapal yang Melintas Selat Hormuz
-
Fasilitas Pipa Minyak Arab Saudi Pulih, Penyaluran Capai 7 Juta Barel Per Hari
-
Satpol PP Gandeng TNI-Polri Sikat Preman Tanah Abang, Pangkalan Bajaj Liar Ikut Ditertibkan
-
Vladimir Putin Siap Bersua Prabowo Subianto di Moskow, Isu Energi hingga Global Dibahas
-
Negosiasi dengan AS Gagal, Iran: Selat Hormuz Sepenuhnya di Tangan Kami!
-
Jelaskan Anggaran EO Capai Rp113,9 M, Kepala BGN: Mekanisme Sesuai Aturan dan Terbuka untuk Diawasi
-
Bukan Emas atau Berlian, Pemuda di Rembang Pinang Kekasih dengan Mahar Bibit Pohon Mangga!