News / Nasional
Kamis, 26 Februari 2026 | 21:23 WIB
Bandar narkoba Erwin Iskandar alias Ko Erwin menjadi buronan atau DPO Bareskrim Polri terkait kasus narkoba yang menjerat mantan Kapolres Bima Kota, AKBP Didik Putra Kuncoro. [Dok. Bareksrim Polri]
Baca 10 detik
  • Bareskrim Polri terbitkan DPO untuk bandar narkoba Ko Erwin di Makassar.
  • Ko Erwin buron terkait aliran dana Rp2,8 miliar kepada AKBP Didik.
  • Polisi ambil alih pengejaran bandar penyuplai sabu eks Kapolres Bima Kota.

Suara.com - Direktorat Tindak Pidana Narkoba (Dittipidnarkoba) Bareskrim Polri resmi menetapkan bandar narkoba Erwin Iskandar alias Ko Erwin dalam Daftar Pencarian Orang (DPO). Penerbitan status buronan ini menandai pengambilalihan penuh proses pengejaran oleh Bareskrim dalam perkara yang menjerat mantan Kapolres Bima Kota, AKBP Didik Putra Kuncoro.

Direktur Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri, Brigjen Eko Hadi Santoso, menegaskan komitmen pihaknya untuk menangkap tersangka.

"Dittipidnarkoba Bareskrim Polri resmi mengambil alih pengejaran DPO atas nama Erwin," ujar Eko kepada wartawan, Kamis (26/2/2026).

Berdasarkan surat DPO bernomor DPO/23/II/RES.4.2./2026/Dittipidnarkoba, Erwin Iskandar merupakan WNI kelahiran Makassar, 30 Mei 1969. Polisi merinci ciri-ciri fisiknya, yakni tinggi badan 167 cm, berat badan 85 kg, rambut hitam pendek lurus, serta kulit sawo matang.

Bandar narkoba Erwin Iskandar alias Ko Erwin menjadi buronan atau DPO Bareskrim Polri terkait kasus narkoba yang menjerat mantan Kapolres Bima Kota, AKBP Didik Putra Kuncoro. [Dok. Bareksrim Polri]

Penyidik telah mengidentifikasi empat alamat yang diduga menjadi tempat persembunyian Erwin di wilayah Sumbawa, Gowa, dan Makassar. Polisi mengimbau masyarakat yang memiliki informasi terkait keberadaannya untuk segera melapor kepada penyidik AKBP Agung Prabowo melalui nomor kontak 081385277785.

Ko Erwin dijerat dengan Pasal 114 ayat (2) Jo Pasal 132 ayat (1) serta Pasal 137 Huruf a UU Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika, selain pasal-pasal relevan dalam KUHP.

Peran Strategis dalam Aliran Dana Rp2,8 Miliar

Nama Ko Erwin muncul sebagai figur kunci dalam pusaran skandal narkoba AKBP Didik. Ia diduga berperan sebagai bandar yang menyanggupi pemberian setoran dana melalui mantan Kasat Reserse Narkoba Polres Bima Kota, AKP Malaungi.

Kasubdit III Dittipidnarkoba Bareskrim Polri, Kombes Zulkarnain Harahap, mengungkapkan bahwa Erwin sempat menyanggupi setoran senilai Rp1 miliar. Dana tersebut diminta sebagai "hukuman" kepada AKP Malaungi guna menyediakan mobil mewah jenis Alphard untuk atasannya.

Baca Juga: Jangan Jadi Korban! Satgas Pangan Temukan Susu Kedaluwarsa dan Mie Boraks di Jawa Barat

Zulkarnain menjelaskan bahwa sebelumnya telah terkumpul Rp1,8 miliar dari jaringan narkoba lama. Namun, karena kasus ini mulai menjadi sorotan, Malaungi diperintahkan mencari tambahan dana, hingga akhirnya mendekati Ko Erwin.

"Barang bukti 400 gram sabu yang ada pada Kasat diketahui milik KE (Ko Erwin)," jelas Zulkarnain.

Dalam konstruksi perkara, AKBP Didik dilaporkan menerima total aliran dana Rp2,8 miliar dari Malaungi melalui tiga tahap penyerahan: Rp1,4 miliar, Rp450 juta, dan Rp1 miliar. Penangkapan Ko Erwin kini menjadi prioritas utama kepolisian guna membongkar tuntas jaringan bandar yang menyuplai dana dan narkotika dalam kasus yang mencoreng institusi Polri tersebut.

Load More