Suara.com - Temuan fosil terbaru menantang anggapan bahwa aksi brutal manusia modern menyebabkan kepunahan Neanderthal tak lama setelah tiba dari Afrika.
Penemuan tulang seorang anak dan peralatan batu di sebuah gua di Prancis selatan menunjukkan bahwa Homo sapiens sudah berada di Eropa barat sekitar 54.000 tahun yang lalu.
Temuan itu menunjukkan mereka hidup ribuan tahun lebih awal dari dugaan sebelumnya dan mengindikasikan bahwa kedua spesies manusia mungkin sempat hidup berdampingan untuk waktu yang lama.
Penelitiannya telah dipublikasikan di jurnal Science Advances.
Baca juga:
- Menelisik lukisan figur hewan tertua dunia yang ada di Indonesia - 'bukti kecerdasan nenek moyang'
- Perempuan misterius 7.200 tahun di Sulawesi, temuan terbaru yang 'menambah warna ras kepada Indonesia'
- Apa yang kita ketahui tentang kehidupan seks kaum Neanderthal
Fosil-fosil itu ditemukan di dalam sebuah gua yang dikenal sebagai Grotte Mandrin di Lembah Rhone, oleh tim pimpinan Profesor Ludovic Slimak dari Universitas Toulouse, Prancis. Ia tercengang ketika mengetahui bahwa mereka adalah bukti dari permukiman awal manusia modern.
"Sekarang kami dapat menunjukkan bahwa Homo sapiens tiba lebih awal 12.000 tahun dari yang kita perkirakan, dan populasi ini kemudian digantikan setelah itu oleh populasi Neanderthal lain. Dan ini secara harfiah menulis ulang semua buku sejarah kita."
Neanderthal diketahui telah muncul di Eropa sekitar 400.000 tahun yang lalu. Teori yang diyakini saat ini menduga mereka punah sekitar 40.000 tahun lalu, tidak lama setelah Homo sapiens tiba di benua tersebut dari Afrika.
Namun temuan terbaru ini menunjukkan bahwa spesies kita tiba jauh lebih awal dan bahwa kedua spesies bisa jadi sempat hidup berdampingan di Eropa selama lebih dari 10.000 tahun sebelum Neanderthal punah.
Baca Juga: Mengenal Jenis-jenis Manusia Purba Tertua di Dunia, Ada Apa Saja?
Baca juga:
- Menguak misteri kehidupan manusia purba Neanderthal terakhir
- Bagaimana anak-anak Neanderthal tumbuh, hidup, sakit dan mati
- Temuan gigi berusia 48.000 tahun ungkap kawin silang manusia purba Neanderthal dan Homo sapien
Menurut Prof. Chris Stringer dari Museum Sejarah Alam di London, ini menantang anggapan saat ini, yaitu bahwa spesies kita segera membuat Neanderthal punah.
"Manusia modern tidak mengambil alih dalam semalam," katanya kepada BBC News. "Kadang-kadang, Neanderthal unggul, kadang-kadang manusia modern yang unggul, jadi lebih seimbang."
Para arkeolog menemukan bukti fosil dari beberapa lapisan di lokasi penggalian.
Semakin dalam mereka menggali, semakin jauh mereka melihat ke masa lalu. Lapisan terendah menunjukkan sisa-sisa Neanderthal yang menghuni wilayah itu selama sekitar 20.000 tahun.
Namun, yang membuat mereka terkejut, tim menemukan gigi seorang anak manusia modern dalam lapisan yang berasal dari sekitar 54.000 tahun yang lalu, beserta beberapa peralatan batu yang dibuat dengan cara yang tidak ada hubungannya dengan Neanderthal.
Baca juga:
- Homo Erectus di Jawa hidup paling lama di dunia, sebut kajian ilmiah
- Para ahli berhasil merekonstruksi wajah manusia purba 'misterius' Denisovans
- Menyingkap tabir 'misteri mengerikan' yang menghantui Charles Darwin
Bukti ini menunjukkan bahwa kelompok awal manusia modern tinggal di wilayah tersebut selama periode yang singkat, barangkali sekitar 2000 tahun. Setelahnya, lokasi tersebut tidak dihuni.
Kemudian Neanderthal kembali ke sana dan menetap selama ribuan tahun, sampai manusia modern kembali sekitar 44.000 tahun yang lalu.
"Ada pasang dan surut," kata Prof. Stringer. "Manusia modern muncul sebentar, kemudian ada gap ketika mungkin mereka punah karena iklim dan kemudian Neanderthal kembali ke sana lagi."
Temuan penting lainnya adalah kaitan peralatan batu dari lapisan yang sama dengan gigi si anak dengan manusia modern.
Peralatan yang dibuat dengan cara yang sama ditemukan di beberapa lokasi lain - di bukit Rhoney dan juga di Lebanon, namun sampai sekarang para ilmuwan tidak yakin spesies manusia mana yang membuatnya.
Beberapa peneliti berspekulasi bahwa beberapa alat yang lebih kecil adalah ujung anak panah. Jika sudah dipastikan, itu akan menjadi penemuan yang cukup penting: sekelompok awal manusia modern menggunakan senjata canggih yaitu busur dan anak panah, yang mungkin menjadi penyebab kelompok itu awalnya mengambil alih dari Neanderthal 54.000 tahun yang lalu. Namun, jika memang itu yang terjadi, keunggulan itu hanya sementara, karena Neanderthal kemudian kembali lagi.
Jadi, bila spesies kita tidak langsung membuat Neanderthal punah, apa yang akhirnya memberi kita keunggulan?
Banyak ide telah diajukan oleh para saintis: kapasitas kita untuk menciptakan seni, bahasa, dan mungkin otak yang lebih baik. Namun Prof. Stringer percaya manusia modern unggul karena lebih terorganisasi.
"Kita lebih baik dalam membangun jejaring, grup sosial kita lebih besar, kita lebih baik dalam menyimpan pengetahuan dan membangun berdasarkan pengetahuan itu," ujarnya.
Gagasan bahwa manusia modern berinteraksi dalam waktu yang panjang dengan Neanderthal cocok dengan penemuan tahun 2010 bahwa manusia modern memiliki sedikit DNA Neanderthal, mengindikasikan terjadinya perkawinan antar spesies, menurut Prof. Stringer.
"Kita tidak tahu apakah perkawinan itu dilakukan secara damai. Bisa saja, ada perempuan dari kelompok lain yang diculik. Bahkan bisa juga adopsi bayi Neanderthal yang terlantar atau hilang karena kehilangan orang tuanya," katanya.
"Semua itu bisa terjadi. Jadi kita belum tahu cerita lengkapnya. Tetapi dengan lebih banyak data dan lebih banyak DNA, lebih banyak penemuan, kita akan semakin mendekati kebenaran tentang apa yang sebenarnya terjadi pada akhir zaman Neanderthal."
Berita Terkait
-
Kritik Gaya Komunikasi Prabowo, Pakar Sarankan Presiden Cari 'Pembisik' yang Berani Bicara Pahit
-
Siapa Saja Terima Uang Korupsi Haji? Ini Rincian Nama dan Nominalnya, Ada yang Capai Rp93 M
-
Dalam Kondisi Mabuk, Mahasiswa di Yogya Rusak Bendera dan Palang Pintu KA
-
4 Sabun Cuci Muka Pria yang Bekerja Outdoor, Bantu Bersihkan Debu dan Minyak
-
Laki-Laki Tidak Boleh Nangis? Siapa Sih yang Buat Aturan Aneh Itu?
Terpopuler
- Demi Ketenangan Almarhum, Orang Tua Affan Kurniawan Mohon Tak Ada Peringatan Setahun Kematian
- Masuk Desil 10 Padahal Penghasilan Pas-pasan? Jangan Panik, Ini Arti dan Penjelasan Resminya
- 12 Ikan Hias Pembawa Keberuntungan Menurut Feng Shui, Cocok untuk Akuarium di Rumah
- Jelang FIFA ASEAN Cup 2026, Kevin Diks Tegas Sistem Empat Bek Lebih Cocok
- Mau Terlihat Lebih Muda? Ini 5 Pilihan Warna Lipstik yang Bisa Dicoba
Pilihan
-
Gempa 6,4M Guncang Sumatera Utara sampai Sumbar
-
Masih Banyak Warga NTT Terjebak di Bawah Reruntuhan Bangunan, 2000 Orang Mengungsi
-
Info Terbaru Gempa NTT: 15 Warga Manggarai Tewas, 280 Bangunan Jadi Puing
-
5 Bandara Rusak Diguncang Gempa NTT, Landasan Pacu Sampai Retak
-
Pesona Masjid Pancasila Kediri: Sederhana di Luar, Bikin Pangling di Dalam
Terkini
-
Parigi Moutong Diguncang Gempa M 6,2 Tengah Malam, BMKG Minta Warga Waspada
-
Pengibaran Bendera Bulan Bintang Picu Bentrok di Masjid Raya Baiturrahman
-
Air Laut Surut Lalu Masuk Permukiman, Warga Pasimarannu Panik Mengungsi Mandiri
-
Soroti Manuver Politik di Kasus Eks Jampidsus, Sejumlah Akademisi Minta Prabowo Turun Tangan
-
Dua Pidato di DPR Tunjukkan Arah Ekonomi Prabowo Semakin Jelas
-
Gempa NTT, Selly Gantina Minta Pemerintah Segera Tembus Daerah Berdampak
-
PTBA Kembali Hadirkan BIDIKSIBA, Buka Jalan Generasi Muda Menuju Pendidikan Tinggi
-
Spot 17-an Kekinian di Blok M: Dari Secret Gig sampai Tantangan Senyum!
-
Beras Fortifikasi Jadi Pelarian Produsen Akibat Melonjaknya Harga Gabah
-
Hendardi Singgung Manuver Hukum Eks Jampidsus, Dinilai Kelabui Publik Soal Substansi Perkara