Suara.com - Paracetamol dan sejumlah limbah obat-obatan lainnya ditemukan di berbagai lokasi aliran Sungai Citarum, Jawa Barat. Khusus paracetamol, kadarnya bahkan dua kali lipat lebih tinggi dari yang didapati di Teluk Jakarta dalam penelitian berbeda.
Melalui kajian yang ditempuh sejumlah peneliti dari Universitas York, Inggris, diketahui ada beragam zat aktif mencemari Sungai Citarum.
Selain paracetamol, terdapat nikotin, carbamazepine yang biasa digunakan sebagai obat epilepsi, serta metformin yang kerap dipakai sebagai obat diabetes. Ada pula limbah sejumlah obat antibiotik.
Berdasarkan data dari 10 lokasi pengambilan sampel di aliran Sungai Citarum, sampel di dua lokasi menunjukkan bahwa kadar paracetamol mencapai 1630 nG/L dan 1590 nG/L.
Jumlah ini jauh lebih tinggi ketimbang temuan paracetamol di Teluk Jakarta yang diungkap para peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) serta Universitas Brighton, Inggris, pada 2021 silam.
Studi pendahuluan (preliminary study) yang diterbitkan di jurnal Marine Pollution Bulletin Juni 2021 lalu, menemukan kontaminasi paracetamol di Muara Angke mencapai 610 ng/L — konsentrasi tertinggi yang pernah ditemukan dalam air laut.
Baca juga
- Paracetamol di Teluk Jakarta, bagaimana bisa ke laut?
- Jokowi janji bersihkan sungai Citarum: berawal dari kritikan film dokumenter?
- 'Tiga juta popok bayi’ setiap hari cemari Sungai Brantas di Jawa Timur
Jika ditinjau dari angka rata-rata konsentrasi limbah obat-obatan yang terakumulasi—berdasarkan kajian Universitas York—limbah di Sungai Citarum memang jauh di bawah tingkat keparahan sungai di Lahore, Pakistan.
Sungai Citarum mencapai 5460 ng/L, sedangkan Sungai Ravi di Lahore adalah yang terparah dengan 70.700 ng/L.
Baca Juga: Amankah Ibu Hamil Minum Paracetamol? Berikut Penjelasannya dan Apa yang Tidak Boleh Dilakukan
Angka ini, sebagaimana dipaparkan penelitian ini, mencerminkan kenyataan bahwa pencemaran limbah obat-obatan atau farmaseutikal di berbagai sungai di dunia menimbulkan "ancaman terhadap lingkungan dan kesehatan dunia".
Kajian ini meneliti sampel dari 1.052 lokasi di 104 negara. Hasilnya, sekitar 25% dari 258 sungai yang sampelnya diteliti mengandung "zat aktif obat-obatan" pada tingkatan yang diyakini tidak aman bagi organisme perairan.
"Biasanya, yang terjadi adalah kita mengonsumsi zat kimia ini. Zat tersebut menghasilkan efek yang diinginkan kemudian meninggalkan tubuh kita," kata Dr John Wilkinson selaku ketua tim penelitian, kepada BBC News.
"Yang kita ketahui kini adalah tempat pengolahan limbah air paling modern dan efisien sekalipun tidak sepenuhnya mampu mengurai zat-zat ini sebelum dibuang ke sungai atau danau," lanjutnya.
Baca juga:
- Candida auris: Mikroba kebal obat yang banyak menghantui rumah sakit
- Bagaimana kita menghentikan resistensi antibiotik
- 'Tiga juta popok bayi’ setiap hari cemari Sungai Brantas di Jawa Timur
Obat-obat yang paling sering ditemukan di lokasi-lokasi pengambilan sampel adalah carbamazepine yang biasa digunakan sebagai obat epilepsi serta metformin yang kerap dipakai sebagai obat diabetes. Tiga zat lainnya yang paling banyak didapati adalah kafein, nikotin, dan paracetamol.
Di Afrika, artemisinin yang digunakan sebagai obat antimalaria, juga ditemukan dalam konsentrasi tinggi.
"Kami bisa berkata bahwa [dampak keberadaan limbah farmaseutikal di sungai] kemungkinan besar negatif. Tapi harus dilakukan tes masing-masing zat dan saat ini kajian seperti itu relatif sedikit," ujar Dr Veronica Edmonds-Brown, ahli ekologi perairan dari Universitas Hertfordshire, kepada BBC News.
"Kondisi ini bakal memburuk sebelum kita semakin menggunakan solusi farmakologi pada setiap penyakit, apakah itu fisik maupun mental," tambahnya.
Baca juga:
- Kebal antibiotik bisa menjadi 'pandemi tersembunyi'
- Bertandang ke Curug Jompong yang ‘beracun’ di Jawa Barat
- Tercemar merkuri, kerang hijau dari Teluk Jakarta ‘sebabkan kanker’
Laporan ini menyebutkan bahwa semakin banyak obat antibiotik di sungai dapat menyebabkan berkembangnya bakteri kebal antibiotik. Hal ini akan merusak efektivitas obat dan ujungnya menimbulkan "ancaman pada lingkungan dan kesehatan global".
Sungai-sungai yang paling tercemar berada di negara dengan penduduk berpenghasilan rendah hingga menengah, seperti Pakistan, Bolivia, dan Ethiopia. Tak jarang sungai-sungai di sana dijadikan tempat pembuangan limbah bagi pabrik farmasi.
"Kami telah menyaksikan sungai-sungai yang tercemar di Nigeria dan Afrika Selatan. Sungai-sungai tersebut punya konsentrasi limbah obat yang sangat tinggi dan hal ini pada dasarnya kembali ke fasilitas pengolahan air limbah yang kurang memadai," kata Dr Mohamed Abdallah, professor bidang pencemaran limbah di Universitas Birmingham, Inggris.
"Ini paling mengkhawatirkan karena di sana terdapat populasi paling rentan dan kekurangan akses ke fasilitas kesehatan," imbuhnya.
Ketika ditanya apa yang bisa dilakukan, ketua tim penelitian, Dr Wilkinson, punya pandangan skeptis.
"Harus ada banyak orang yang lebih pintar dari saya untuk menangani masalah ini. Satu dari sedikit hal yang bisa berdampak saat ini adalah cara penggunaan obat-obatan yang lebih tepat," ujarnya.
Artinya, akses antibiotik harus dipersulit dan pemberian dosisnya pun diperketat.
Laporan penelitian ini dapat dibaca pada jurnal the Proceedings of the National Academy of Sciences.
Tag
Berita Terkait
-
Bahaya Parasetamol bagi Lansia: Risiko Gagal Jantung, Ginjal, dan Tukak Lambung Meningkat!
-
Masak Rendang Pakai Paracetamol Biar Empuk Ramai di TikTok: Duh, Ternyata Ini Bahayanya
-
Viral Ibu-Ibu Masak Rendang Pakai Obat Paracetamol, Biar Empuk?
-
32 Obat Sirup! Ini Daftar Obat Tercemar EG dan DEG Terbaru Produksi PT REMS
-
Sempat Cuci Darah Sebanyak 4 Kali, Seorang Balita di Kebon Jeruk Meninggal Diduga Gagal Ginjal Akut
Terpopuler
- Gaji Rp 8,2 M Belum Dibayar, Aktivis-Influencer Sedunia Tuntut Badan Propaganda Israel
- 65 Kode Redeem FF Terbaru 14 Maret 2026: Sikat Evo Scorpio, THR Diamond, dan AK47 Golden
- 5 Parfum Wanita Tahan Lama di Alfamart untuk Silaturahmi Anti Bau
- Promo Alfamart 14-18 Maret 2026: Diskon Sirop dan Wafer Mulai Rp8 Ribuan Jelang Lebaran
- Kisah Unik Pernikahan Mojtaba Khamenei dan Zahra yang Gugur Dibom Israel-AS
Pilihan
-
Puncak Mudik Bakauheni Diprediksi 18-19 Maret 2026, ASDP Ingatkan Pemudik Segera Beli Tiket
-
Belajar dari Pengalaman, Jukir di Jogja Deklarasi Anti Nuthuk saat Libur Lebaran
-
Kisah Fendi, Bocah Gunungkidul yang Rela Putus Sekolah Demi Rawat Sang Ibu
-
Harry Styles Ungkap Perjuangan Jadi Penyanyi Solo Usai One Direction Bubar
-
Dulu Nostalgia, Sekarang Pamer Karir: Mengapa Gen Z Pilih Skip Bukber Alumni?
Terkini
-
Mudik Lebaran 2026, KAI Sebut 300 Ribu Tiket Kereta Masih Tersedia
-
Bareskrim Bongkar Peredaran 14 Ton Daging Domba Australia Kedaluwarsa di Jakarta-Tangerang
-
Menlu Iran Abbas Araghchi: Tak Ada Gencatan Senjata, Pembalasan Akan Terus Berlanjut!
-
Viral! Walkot Muslim Kebanggaan Netizen Indonesia Panen Hujatan Setelah Bertemu Komunitas Yahudi
-
Momen Anwar Usman Bacakan Putusan MK Terakhir, Sampaikan Permohonan Maaf dan Pamit Jelang Pensiun
-
Rapper Bobby Vylan Teriakan Kematian untuk Tentara Israel di London, Komunitas Yahudi Ketar-ketir
-
Ledakan Dahsyat di UEA! Rudal Iran Hancurkan Gudang Peluru AS di Al Dhafra
-
Brutal! Rudal Israel Serang Gaza: 13 Orang Tewas, Termasuk Anak-anak dan Ibu Hamil
-
Di Balik Ramainya Mudik Lebaran, Ada Porter yang Hanya Bisa Pulang Sehari
-
Laporan Intelijen AS Sebar Fitnah Tentang Mojtaba Khamenei, Reaksi Donald Trump Jadi Sorotan