Tidak jelas berapa biaya untuk mencetak mata uang Afrika seperti dalasi, meskipun dolar AS berharga antara 6 dan 14 sen.
Namun, kemungkinan biaya pencetakan untuk lebih dari 40 mata uang Afrika cukup signifikan.
Pada tahun 2018, seorang pejabat bank sentral di Ghana mengeluh kepada wartawan lokal bahwa negara tersebut menghabiskan banyak uang untuk pesanan cedi Ghana di Inggris.
Dan karena negara biasanya memesan jutaan uang kertas untuk diangkut dalam kontainer, mereka harus membayar biaya pengiriman yang besar.
Dalam kasus Gambia, para pejabat mengatakan biaya pengiriman mencapai tagihan sebesar £70.000 (Rp1,3 miliar).
Permintaan yang tinggi Meski terdengar aneh, para analis mengatakan bahwa negara-negara Afrika yang mencetak banyak mata uang mereka di luar negeri bukanlah hal yang aneh.
Banyak negara di dunia melakukannya. Misalnya, Finlandia dan Denmark melakukan alih daya untuk menghasilkan uang, seperti yang dilakukan ratusan bank sentral di seluruh dunia.
Hanya segelintir negara, seperti AS dan India, yang memproduksi mata uang mereka sendiri.
Mma Amara Ekeruche dari Pusat Penelitian Ekonomi Afrika mengatakan kepada DW bahwa ketika mata uang suatu negara tidak dalam permintaan tinggi — dan tidak digunakan secara global seperti dolar AS atau pound Inggris — tidak masuk akal secara finansial untuk mencetaknya di dalam negeri karena tingginya biaya yang terlibat.
Baca Juga: Gantikan Gas Rusia, AS dan Uni Eropa Sepakati Pemasokan Gas Cair
Mesin cetak uang biasanya menghasilkan jutaan uang kertas sekaligus. Negara-negara dengan populasi yang lebih kecil, seperti Gambia akan memiliki lebih banyak uang daripada yang mereka butuhkan jika mereka mencetak sendiri.
"Jika sebuah negara mencetak satu uang kertas seharga €10 (Rp157 ribu) di dalam negeri dan melihat bahwa negara itu dapat mencetaknya dengan harga sekitar €8 (Rp126 ribu) di luar negeri, lalu mengapa mereka harus mengeluarkan biaya lebih untuk melakukan itu? Tidak masuk akal," jelas Ekeruche.
Beberapa negara — seperti Liberia — tidak berusaha mencetak uang mereka sendiri karena mereka bahkan tidak memiliki mesin cetak — biayanya mahal dan memerlukan kemampuan teknis khusus.
Hanya segelintir negara Afrika, seperti Nigeria, Maroko, dan Kenya yang memiliki sumber daya yang cukup untuk mencetak mata uang atau koin mereka sendiri, dan bahkan terkadang mereka melengkapi produksi dengan impor.
Mengapa tidak mencetak uang kertas di Afrika? Negara-negara Afrika telah merumuskan rencana untuk meningkatkan perdagangan intra-Afrika. Saat ini ada lebih banyak perdagangan dengan negara-negara Barat dan Timur daripada di dalam benua.
Mencetak uang kertas di Afrika akan meningkatkan keuntungan di benua itu dan setidaknya secara teoritis, negara-negara Afrika dapat memilih mereka yang memiliki kemampuan mencetak karena kemungkinan ada beberapa kapasitas yang menganggur.
Berita Terkait
-
Respons Aksi KPK, DPR: OTT Itu Penting, Tapi Penyelamatan Uang Negara Jauh Lebih Utama
-
Kronologi Dittipideksus Bareskrim Geledah Perusahaan di Jatim Terkait Tindak Pidana Minerba
-
Bosan Kasih Uang? Ini 6 Ide THR Anak yang Jauh Lebih Bermanfaat!
-
Etika Memberi Uang Lebaran dalam Islam, Ini Adab yang Perlu Diketahui
-
Tak Kebagian PINTAR BI? Tukar Uang di Kantor Cabang BRI Aja
Terpopuler
- PP Nomor 9 Tahun 2026 Resmi Terbit, Ini Aturan THR dan Gaji ke-13 ASN
- 31 Kode Redeem FF Max Terbaru Aktif 10 Maret 2026: Sikat Diamond, THR, dan SG Gurun
- Media Israel Jawab Kabar Benjamin Netanyahu Meninggal Dunia saat Melarikan Diri
- Trump Umumkan Perang Lawan Iran 'Selesai' Usai Diskusi dengan Vladimir Putin
- Promo Alfamart dan Indomaret Persiapan Hampers Lebaran 2026, Biskuit Kaleng Legendaris Jadi Murah
Pilihan
-
Indonesia Beli Rudal Supersonik Brahmos Rp 5,9 Triliun! Terancam Sanksi Donald Trump
-
Kronologi Lengkap Aktivis KontraS Andrie Yunus Disiram Air Keras Usai Podcast Militerisme
-
Aktivis KontraS Andrie Yunus Disiram Air Keras Usai Podcast di YLBHI
-
Trump Ancam Timnas Iran: Mundur dari Piala Dunia 2026 Kalau Tak Mau Celaka
-
Eksklusif! PowerPoint yang Dibuang Trump Sebabkan Tentara AS Mati
Terkini
-
Dukcapil Temukan Nama dengan 79 Huruf: Terlalu Panjang untuk Kolom KTP!
-
Suplai Minyak AS Terancam? Trump: Kapal Minyak Harus Punya Nyali, Terjang Selat Hormuz!
-
Respons Aksi KPK, DPR: OTT Itu Penting, Tapi Penyelamatan Uang Negara Jauh Lebih Utama
-
Daftar Negara Korban Jalur Neraka Selat Hormuz, Bikin Ekonomi Kacau Imbas Perang Iran
-
Rismon Sianipar Mundur dari Kasus Ijazah Palsu Jokowi, Kubu Roy Suryo Cium Aroma Kejanggalan
-
Yaqut Disebut 'Getok' Rp84 Juta Per Jemaah Haji Khusus
-
CCTV di Salemba Disisir, Polisi Buru Pelaku Penyiraman Air Keras Aktivis KontraS Andrie Yunus
-
H-8 Lebaran 2026: 45 Ribu Pemudik 'Serbu' Stasiun Jakarta, 721 Petugas Gabungan Siaga
-
3 Tetangga Indonesia Boncos Gara-gara Perang AS - Israel vs Iran
-
Iran Peringatkan AS: Timur Tengah Bisa Gelap Jika Fasilitas Listrik Diserang